Pemandu Wisata HPI Maros Titip Harapan ke Kadis Disparpora: Kami Garda Terdepan, Tapi Tak Diperhatikan
Wisata - Jumat, 1 Agustus 2025

Foto: Istimewa
Anggota pemandu Wisata Alam Bantimurung
MAROS, TINGKAP.CO - Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Maros menyampaikan harapan dan aspirasi kepada Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Maros, terkait nasib para pemandu wisata lokal yang selama ini berperan aktif dalam menghidupkan pariwisata di daerah, khususnya di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Bantimurung.
Ketua HPI Maros, Risman, menegaskan bahwa para pemandu wisata lokal adalah garda terdepan dalam pelayanan, edukasi, dan promosi wisata. Mereka yang setiap hari membawa tamu dan mengenalkan spot-spot unggulan di Maros, justru selama ini belum pernah merasakan perhatian atau dukungan langsung dari pemerintah daerah.
"Kami ini setiap hari berada di lapangan, memperkenalkan pesona Maros ke wisatawan, membawa tamu masuk ke Bantimurung, tapi belum pernah merasakan manfaat langsung dari sektor pariwisata. Kami hanya ingin didengar dan diperhatikan," ujar Risman dengan nada tegas, Jumat (1/8/2025).
Menurut data internal HPI, diperkirakan dalam sebulan, sekitar 500 orang wisatawan masuk ke Bantimurung melalui layanan pemandu dari anggota HPI Maros. Beberapa pemandu bahkan bisa membawa 100 tamu dalam sebulan. Jika dikalikan jumlah anggota aktif yang secara rutin membawa tamu, jumlah tersebut tentu berdampak besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
"Bayangkan saja kalau 50 orang pemandu membawa masing-masing 100 tamu dalam sebulan, berapa kontribusi mereka terhadap PAD Maros? Tapi sayangnya, belum ada bentuk perhatian atau insentif yang kami rasakan dari sistem pariwisata daerah ini," ungkap Risman.
Sebagai pembanding, HPI Maros menyoroti praktik baik di beberapa daerah seperti Yogyakarta, di mana pemandu lokal mendapatkan bagian profit-sharing dari setiap tiket masuk yang dibeli wisatawan di tempat wisata. Skema tersebut, menurut mereka, adalah bentuk penghargaan sekaligus insentif atas peran vital para pemandu.
"Kami tidak menuntut yang muluk-muluk. Minimal, ada bentuk perhatian khusus kepada teman-teman HPI yang setiap hari bertugas di lapangan. Entah itu insentif, regulasi, atau skema kemitraan dengan pemerintah daerah. Kami siap mendukung pariwisata, tapi kami juga ingin diakui dan dihargai," tambah Risman.
HPI Maros berharap dengan bergantinya kepemimpinan di Dinas Disparpora, akan ada perubahan paradigma dalam memandang profesi pemandu wisata. Mereka ingin menjadi bagian dari ekosistem pariwisata yang tidak hanya dimanfaatkan, tetapi juga diberdayakan dan dilibatkan secara aktif dalam perumusan kebijakan.
Pewarta: Hakim / Harjan
Penyunting: Ghea R
©tingkap.co 2025
