Air Kehidupan di Polewali: Ketika Laskar Merah Putih dan PDAM Hadir Membawa Harapan
Daerah - Kamis, 2 Oktober 2025

Foto: Istimewa
Kaloborasi LMP dan PDAM Maros bagi air bersih
MAROS, TINGKAP.CO - Di tengah teriknya siang, beberapa jerigen biru tampak berjajar rapi di pinggir jalan Dusun Polewali, Desa Pajukukang, Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros.
Wajah-wajah warga terlihat sumringah, meski peluh membasahi dahi mereka. Hari itu, Kamis (2/10/2025), truk tangki PDAM Tirta Bantimurung bersama Laskar Merah Putih (LMP) Maros datang membawa sesuatu yang sangat berharga: air bersih.
Bagi hampir 900 jiwa yang tinggal di Polewali, air bukan sekadar kebutuhan sehari-hari, tetapi sumber kehidupan yang semakin sulit didapat. Sumur tadah hujan yang biasa mereka andalkan kini kering kerontang. Akibatnya, banyak warga terpaksa membeli air dengan harga Rp80 ribu hingga Rp150 ribu per tangkibeban yang berat bagi masyarakat desa.
Abdul Rauf, Kepala Dusun Polewali, tak kuasa menyembunyikan rasa syukurnya. Ia mendampingi warga menyalurkan air ke jerigen dan drum plastik. Alhamdulillah, bantuan ini sangat berarti. Warga kami sudah kesulitan.
"Dengan adanya air bersih ini, setidaknya beberapa hari ke depan mereka bisa bernapas lega tanpa harus mengeluarkan uang banyak," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Di antara warga, tampak seorang ibu rumah tangga tengah menimba air ke ember kecil untuk kemudian dibawa ke dapur. Biasanya kami harus antre beli air, kadang kalau tidak ada uang, terpaksa hemat sekali pakai air, katanya lirih. Senyum tipisnya tersungging ketika ia menatap air yang mengalir deras dari tangki ke wadah sederhana miliknya.
Ketua Laskar Merah Putih Maros, Alfian Palaguna, SH, mengatakan bantuan ini lahir dari kepedulian. Air bersih adalah kebutuhan dasar. "Kami bersama PDAM Tirta Bantimurung berkomitmen hadir untuk masyarakat, terutama di saat-saat sulit seperti ini," jelasnya.
Bagi warga Polewali, kedatangan tangki air ini bukan sekadar bantuan, melainkan tanda kepedulian yang menghidupkan harapan. Di tengah krisis air yang menekan, mereka merasakan kembali arti kebersamaan dan solidaritas.
Bantuan air bersih memang bukan solusi permanen, tetapi setidaknya hari itu, jerigen-jerigen yang terisi penuh menjadi simbol bahwa mereka tidak dibiarkan berjuang sendirian menghadapi kekeringan.
Pewarta: Hakim / Harjan
Penyunting: Alfen Hoesin
©tingkap.co 2025
