Sekelebat Cahaya Seni Rupa Dibalik Banjir di Lembah Anai Sumbar

Opini - Selasa, 6 Januari 2026

260107123753-sekel.jpg

@tingkap/Hendra Buana

Lukisan karya Hendra Buana landscape peristiwa "galodo" di kawasan Lembah Anai di atas canvas, ukuran 165 cm x 300 cm, menggunakan cat minyak.

Oleh:

Hendra Buana

Melihat Fakta dampak dari  banjir bandang di "Jembatan Kembar" di kawasan Silayiang Kariang, Lembah Anai, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat sangatlah memilukan.

Betapa tidak, beragam kisah pilu  pada kejadian banjir air bah yang disebut galodo itu terjadi tepatnya pada 27 Nov di penghujung tahun 2025 itu, menelan korban baik jiwa maupun harta benda yang tidak sedikit.

Bahkan ada seorang bernama Bujang kehilangan 16 anggota keluarganya wafat di gulung bencana hidrometeorologi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Kendati penulis puluhan tahun merantau di Yogyakarta sebagai perupa, dari berita pilu yang setiap saat di televisi maupun medsos membuat rasa prihatin dan sedih melihat bencana dahsyat yang tak jauh dari Bukittinggi, kampung halaman penulis.

Kini kondisi kawasan Lembah Anai mulai pulih, walau deretan kisah pilu itu masih mewarnai hari-hari kita, terutama dunsanak-dunsanak kita di daerah-daerah terdampak. Tentu kita semua harus bangkit, dan kembali hidup normal beraktivitas seperti sediakala. 

Seiring berjalannya waktu yang begitu cepat berlalu, sebagai perupa saya punya pemikiran atau sekelebat ide yang barangkali bisa untuk dilakukan bersama baik sebagai perorangan maupun secara kolektif.

Ide tersebut menyangkut pemanfaatkan kayu-kayu gelondongan dengan ukuran bervariasi itu.

Salah satu desain karya perupa Hendra Buana yang bisa menggunakan bahan-bahan dari kayu gelondongan bekas bencana. (Dok. Hendra Buana)

Untuk bangunan apa kayu-kayu gelondongan tersebut ? Selain bisa dimanfaatkan sebagai bahan  membangun rumah -rumah warga yang terdampak di tempat yang lebih aman, juga sebagai karya seni.

Sebagai perupa yang berasal dari ranah Minang saya bergagasan menyulap kayu-kayu tersebut menjadi benda seni yang tentu juga untuk mengenang bencana dahsyat tersebut, dan juga diharapkan berdampak positif terhadap dunia pariwisata di Sumbar di kemudian hari.

Kiranya sangat perlu kita buatkan sebuah monumen yang nantinya bisa sebagai sejarah dan objek yang bisa mengedukasi bangsa ini akan menjaga keseimbagangan alam. Terjadinya bencana banjir bandang ini mirip dengan bencana banjir di zaman Nabi Nuh.

Lantas bangunan seperti apa yang cocok akan yang akan kita wujudkan sebagai tanda atau simbol penghormatan kepada segenap mereka yang menjadi jadi korban ?

Pada monumen tersebut akan dituliskan semua nama-nama korban pada bagian tertentu bangunan. Monumen yg terbuat terurama dari bahan kayu gelondongan yang berbagai rupa bentuknya mulai dari batang hingga rantingya pun akan berguna untuk monumen tersebut.

Penulis sudah menghubungi nama-nama besar seniman maestro patung nasional, dan alhamdulillah semuanya mendukung tentang ide pemikiran kami ini. 

Adapun beberapa nama seniman yang telah kami hubungi seperti Yulhendri (Yogyakarta), Aliumar (Yogyakarta), dan juga Jhon Wahid (Sumbar), Arnimal (Sumbar), dan Ardim (Sumbar).

Jika dapat suatu kesepakatan bersama kita dalam hal terkait maka Insya Allah Ide pemikiran ini akan bisa terwujud dalam bentuk Monumen di Sumbar.

Gagasan ini akan bisa terwujud bila semua kalangan baik seniman, pengusaha dan pemerintah bersatu mendukungnya. Ada sederet nama besar seniman akademik berdarah Minang tentu akan melengkapi gagasan ini. Beberapa diantaranya, Syaiful Adna Amir Syarif, Ardim, Asnam Rasyid, Jhon Hardi Yusman, Arlan Kamil, Neil Fuadi.

Dengan menggunakan mix media yaitu kayu, fiber glass, steel, akrilik bening, dan material penunjang lainnya bisa kita cantumkan juga 99 nama-nama Allah. Bangunan dengan konstruksi khusus akan bisa tahan hingga ratusan tahun di ruang outdoor.

Dengan konsep dasar karya seni ABS/SBK (Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah"Syara' Mangato, Adat Mamakai" semoga Allah SWT selalu melindungi kita dari segala marabahaya dan bencana. 

Penulis adalah pelukis dan pewarta TINGKAP.CO tinggal di Yogyakarta.

Pewarta:
Penyunting: Alfen Hoesin
©tingkap.co 2026