Presiden Prabowo Subianto Hadiri Pengukuhan MUI, Sampaikan Pesan Moral untuk Bangsa

Agama - Minggu, 8 Februari 2026

260208190541-presi.jpg

Foto: Istimewa

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan moral saat menghadiri pengukuhan pengurus MUI Pusat, periode 2025-2030, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (7/2/2026).

JAKARTA, TINGKAP.CO - Sabtu pagi di Masjid Istiqlal, udara Jakarta seolah membawa aroma harapan baru. Di bawah kubah megah yang menjadi saksi sejarah bangsa, Presiden Prabowo Subianto berdiri dengan nada suara yang tegas namun bergetar oleh rasa hormat. Ia tidak sekadar hadir dalam pengukuhan Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2025-2030, tetapi seakan datang untuk meneguhkan kembali ikatan spiritual antara negara dan umat.

Dalam sambutannya, Prabowo menyanjung MUI sebagai lentera yang tak pernah padam, bahkan ketika badai mengguncang negeri.

"Saya bangga terhadap MUI yang tidak pernah absen dari negara, bahkan saat negara sulit," ujarnya.

Kalimat itu bukan sekadar pujian, melainkan pengakuan atas peran moral yang selama ini dijaga MUIsebuah pelita yang tetap menyala di tengah gelapnya zaman.

Ada nada keharuan ketika Presiden mengungkapkan bahwa MUI telah memberinya cambuk semangat dan keberanian untuk memimpin bangsa. Ia berbicara bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai manusia yang tersentuh oleh doa dan dukungan umat.

"Terima kasih atas apa yang kau berikan kepada saya," katanya, seolah berbicara langsung kepada nurani bangsa. Dalam kalimat itu, tersirat kesadaran bahwa kekuasaan tanpa bimbingan moral hanyalah kapal tanpa kompas.

Pidato itu tidak berhenti pada pujian. Prabowo mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu, menyingkirkan kemiskinan yang masih mencengkeram sebagian anak negeri.

Kita tidak boleh takut, tidak boleh gentar, serunya lantang, menggema di ruang Istiqlal yang luas. Kata-kata itu seperti genderang yang membangunkan semangat kolektif, mengingatkan bahwa perjuangan bangsa belum usai.

Di balik pidato itu, tersimpan pesan yang lebih dalam: bahwa kekuatan bangsa tidak hanya terletak pada senjata dan ekonomi, tetapi juga pada kesatuan hati dan moralitas. MUI, dengan segala kiprahnya, menjadi jembatan antara langit dan bumiantara nilai-nilai ilahi dan realitas sosial yang sering kali keras.

Hari itu, di bawah cahaya lembut yang menembus kaca Masjid Istiqlal, terasa seolah bangsa ini sedang menulis bab baru dalam perjalanan panjangnya. Sebuah bab tentang sinergi antara iman dan kepemimpinan, antara doa dan kerja nyata. Dan mungkin, dari tempat suci itu, gema tekad untuk menghapus kemiskinan dan menegakkan keadilan akan terus bergema, menembus batas waktu dan ruang, menuju Indonesia yang lebih berani, lebih adil, dan lebih beriman

Pewarta: Martinus Laba Uung
Penyunting: Ghea Reformita
©tingkap.co 2026