Memprovokasi Seni Batik Simbut Kontemporer dalam Metamorfosa Ide
Seni Budaya - Rabu, 25 Maret 2026

@tingkap/Alfen Hoesin
Sepasang suami istri Susentono & nDaru Bektari gelar pameran bersama karya seni bertajuk "Metamorfosa" di Gedung Pameran SOS, Babakan Siliwangi, Jl. Siliwangi Bandung.
BANDUNG, TINGKAP.CO - Kebebasan berekspresi dalam berkesenian dapat membuat mengalirnya ide-ide baru yang menerobos partisi-partisi kesenian yang membuat seni itu justru akan terasa monoton. Hal inilah yang didobrak oleh seniman berpikir bebas seperti Susentono.
Sebagai seniman yang sudah malang melintang menggeluti fine art selama puluhan tahun, pria berusia 55 tahun ini, kini memprovokasi seni Batik Simbut kontempoprer. Karya-karyanya akan dipemerkan di gedung pameran Sanggar Olah Seni (SOS), Babakan Siliwangi, Jl. Siliwangi, Bandung.
Susentono tidak sendiri, istrinya nDaru Bektari juga akan menampilkan puluhan karya lukis seni batik dengan mempergunakan media beragam baik kanvas maupun kain linen atau satin.
Tidak hanya itu, Bektari juga akan meluncurkan buku karyanya bertajuk "Berkibar di Dasar Hati, Berlayar di Permukaan Bumi". Kepada TINGKAP.CO Bektari menjelaskan buku karya dia tersebut menceritakan perjalanan hidupnya yang bermetamorfosa seperti judul pameran bersama suaminya "METAMORFOSA" yang akan diselenggarakan dari tanggal 28 Maret - 31 Maret 2026.
"Karya-karya saya mengejawantahkan simbol-simbol. Saya tidak tau itu bergaya apa, terserah yang menilai. Tapi pameran belum dibuka 10 karya saya sudah terjual," ujar Bektari kepada TINGKAP.CO, di Gedung Pameran SOS, Rabu (25/3/2026).
nDaru Bektari dan karya-karyanya (@tingkap/Alfen H)
Ditambahkan Bektari, untuk bukunya yang akan di-launching pada pembukaan pameran tersebut diselesaikan hanya dalam waktu singkat. "Buku itu jumlah halamannya 420 halaman dan saya rampungkan dalam 3 hari saja," ungkap perempuan kelahiran Semarang 46 tahun lalu itu.
Sementara Susentono di tempat yang sama mengatakan bahwa metamorfosa karya-karyanya dalam berkesenian ke seni Batik Simbut itu adalah sebuah perjalanan yang terinspirasi oleh bentuk seni batik yang tidak seperti biasanya.
"Seni Batik Simbut (Sunda: Selimut) itu ada di Banten dan Toraja. Di luar negeri juga ada di Norwegia mungkin dikembangkan oleh Philip Boris yang dulu perrnah belajar Batik Simbut di Banten," ulas Susentono.
Dia memaparkan tentang proses pembuatan Batik Simbut lebih simple dibandingkan batik Jawa yang menggunakan lilin dan canting.
"Pewarna juga harus dipanaskan. Sedang Batik Simbut justru tidak menggunakan lilin sebagai malm-nya tapi menggunakan aci kawung (Sunda: tepung aren-red) atau ketan sebagai pengganti lilin. Saya menggunakan pewarna pigmen," pungkasnya
Pewarta: Alfen Hoesin
Penyunting: Alfen Hoesin
©tingkap.co 2026
