Sebuah Konsep Pemikiran, "Menara Suci 99 Al Asmaul Husna"

Seni Budaya - Minggu, 5 Juli 2026

260707040859-sebua.jpg

Foto: Koleksi pribadi

                     Oleh: Hendra Buana 

Dengan melafazkan ucapan:
Bismillahirrahmanirrahim 
Innallaha Jamiilun Yuhibbul Jamaala 
Artinya: Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan Mencintai Keindahan.

Dengan demikian, Allah memang menyukai orang yang menyukai keindahan, seperti kebersihan yang merupakan sebagian dari iman. Namun yang dilarang adalah bermegah-megahan. Sebagaimana firman Allah: Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. [QS. At-Takatsur: 1]

Latar belakang pemikiran 

Orang Minangkabau memiliki nilai-nilai Adat dan Limo Paga, serta adab yang baik dan tinggi. Memiliki prinsip hidup yang tangguh dimana pun berada.

Falsafah hidup orang Minang telah dititahkan di Puncak Bukit Marapalam dengan semboyan: ABS-SBK Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, serta Syarak Mangato, Adat Mamakai.

Hal ini telah tercermin pada tokoh-tokoh besar Minangkabau yang namanya harum dan diagungkan, baik yang lahir dan besar di Timur Tengah maupun di Ranah Minang, seperti:
Imam Al-Minangkabawi, Syekh Burhanuddin, Haji Sumanik, Haji Miskin, Haji Piobang, Inyiak Koto Tuo, Buya Hamka, dan masih banyak nama besar lainnya.

Seiring berjalannya waktu, hal ini juga diiringi dengan banyaknya pembangunan madrasah, IAIN, serta masjid-masjid tua yang artistik di Sumatera Barat.

Sebagai insan seni rupa lulusan ASRI/FSRD ISI Yogyakarta, institut terbaik di Indonesia dan pernah menjadi mahasiswa terbaik di Akademi Seni Rupa Yogyakarta, khususnya dalam bidang Kaligrafi Religius, serta pernah mengikuti Pertukaran Pemuda ASEAN tahun 1988 ke Brunei Darussalam, kami merasa perlu turut mewarnai dinamika pembangunan yang bersifat religius.

Kami yakin hal ini akan berdampak positif terhadap semaraknya dunia pariwisata di Sumatera Barat. Yaitu dengan menawarkan bentuk kepedulian bersama di Ranah Minang, Kota Padang, tempat kami juga dibesarkan di Sekolah Seni Rupa Kotapadang, SSRI/SMSR.

Sekaligus sebagai bentuk penghormatan bagi para tokoh Minang yang telah mengharumkan nama Sumatera Barat secara keseluruhan.

Alam Minang adalah alam yang indah, cantik bagaikan surga di belahan Timur dunia. Kita dapat menyaksikan betapa indahnya Alam Minang: embun pagi di Maninjau dan Singkarak, Danau Diateh dan Danau Dibawah, hamparan persawahan, jejeran Bukit Barisan, Gunung Marapi, Sago, Singgalang, hingga pesisir pantai yang keindahannya menyatu antara daratan dan lautan.

Seiring keindahan alam tersebut, berbagai sarana penunjang pariwisata telah dibangun, seperti jalan raya, dermaga, pelabuhan, bandara, hotel, dan sebagainya.

Namun 7 bulan yang lalu kita baru saja ditimpa bencana tak terduga, yaitu banjir bandang _galodo_ yang merenggut ribuan nyawa di Sumatera.
Peristiwa ini melahirkan pemikiran untuk membangkitkan semangat kehidupan dalam masa trauma healing, sekaligus menyadarkan kita bahwa sebagai manusia kita tidak bisa berbuat apa-apa jika musibah telah ditimpakan, terutama akibat kerusakan alam oleh oknum demi keuntungan pribadi, seperti pembalakan hutan secara liar.

Untuk membentengi agar hal ini tidak terjadi di masa depan, mari kita bangun sebuah tugu peringatan yang monumental, kuat, dan tahan gempa. Sebagai benteng yang dilafazkan dengan Asma-Asma terbaik Allah, untuk memanjatkan puji syukur kepada-Nya atas segala nikmat yang telah kita rasakan bersama.

Dengan demikian, insyaAllah kita akan senantiasa dalam lindungan Allah dari segala macam bencana yang rawan melanda: gempa, tsunami, longsor, galodo, dan sebagainya.

Maka dari itu, kiranya perlu ada sesuatu yang jarang dan belum pernah kita buat, namun sudah lama terpikirkan banyak orang: Yaitu pembangunan sebuah Menara Suci Al-Asmaul Husna.

Maksud dan tujuan 

Maksud dan tujuan dari pemikiran pembangunan Menara Suci ini adalah:
Agar tercipta keseimbangan dalam hal jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Sumatera Barat.

Selama ini kunjungan terbanyak ke Sumatera Barat berasal dari negara-negara Barat dan Eropa. Dengan adanya pembangunan Tugu Menara Suci Al-Asmaul Husna kami yakin secara tidak langsung akan mempererat sinergi dengan negara-negara Timur Tengah yang terkenal royal dalam pengeluaran, seperti Kuwait, Qatar, Maroko, Dubai, Arab Saudi, Lebanon, Yaman, Turki, dan Sudan.

Dengan demikian, hal ini juga akan meningkatkan secara signifikan pendapatan pariwisata yang masuk ke Sumatera Barat. Tentunya dengan pengelolaan yang lebih profesional, termasuk peningkatan kualitas SDM di lingkungan Dinas Pariwisata Kota Padang, Sumatera Barat.

Konsep karya 

Sebuah karya seni rupa yang baik memiliki konsep baik secara psikoplastis maupun ideoplastis.

Secara Psikoplastis

Kami tertarik dengan bentuk tulisan Arab bergaya Diwani dan Diwani Jali. Dari dua gaya ini kami kembangkan dengan perpaduan motif ukiran Minang dan Melayu sebagai elemen penting pada menara terkait. Sehingga lahir suatu novelty yang berbeda dari kelaziman penulisan Diwani aslinya, namun tetap terbaca jelas dan mudah dipahami bagi setiap orang yang bisa membaca tulisan Arab.

Secara Ideoplastis

Kami sangat tersentuh secara mendalam dengan makna dari Nama-Nama Allah yang 99 ini. 
Seperti: 

Ya Salam = Yang Maha Memberi Keselamatan 
Ya Wahhab = Yang Maha Pemberi 
Ya Razzaq = Yang Maha Pemberi Rezeki 
Ya Jabbar = Yang Maha Perkasa 
Ya Mujib = Yang Maha Mengabulkan

Desain Menara 99 Al-Asmaul Husna (Dok. Hendra Buana)

Ukuran ketinggian serta volume menara suci Al-Asmaul Husna

Dengan pertimbangan bahwa Sumatera rawan gempa, kami merencanakan ketinggian menara lebih dari 100 meter. Sebagai pembanding, menara telekomunikasi seperti Menara Telkomsel dapat dibuat dengan ketinggian di atas 100 meter.

Maka kita pun dapat membuat menara dengan ketinggian 99 hingga 114 meter, dengan bentuk warna-warni kolase yang memancarkan kilau cahaya, sehingga menghasilkan keindahan yang fantastis.

Bahan yang digunakan 

Bahan dominan yang digunakan adalah:

- Besi Stainless Steel 
- Acrylic Plating 
- Berbagai jenis cat full colour sebagai elemen pembentuk penulisan Ayat Nama Allah 99 Al-Asmaul Husna 
- Semen, batu, dan besi sebagai pondasi dengan sistem cakar ayam sedalam 912 meter, menyesuaikan ketinggian menara 99-114 meter.

Lokasi penempatan 

Lokasi yang diharapkan untuk penempatan menara ini adalah di Puncak Bukit Siti Nurbaya, Kota Padang.

Target yang hendak dicapai 

Targetnya adalah untuk meningkatkan minat wisatawan terhadap dunia pariwisata di Sumatera Barat, sekaligus menjadi ikon wisata religi selain masjid-masjid yang telah dibangun dengan baik dan indah sebelumnya, seperti Masjid Raya Kota Padang dan Masjid Wisata di Pantai Carocok, Pesisir Selatan.

Desain bangunan berangkat dari kearifan seni ukiran budaya lokal yang dikembangkan dan dikemas secara moderen.

Demikian ide pemikiran kami tentang bagaimana mewujudkan sebuah menara yang sangat indah dan fantastis di Kota Padang, Sumatera Barat:
Menara Suci Al-Asmaul Husna
Aamiin.

Yogyakarta, 5 Juli 2026

Penulis adalah kurator Program Istiqlal Nasional 95 
Pelukis Kontemporer Kaligrafi Nasional.
Seniman Seni Rupa/Lukis ASRI Angkatan 1984.

Anggota Luar Biasa Pendukung Pro PERWAKU Pusat Jakarta di bawah Pelindung Emil Salim.

Dari Studio Hendra Buana Link Art Center
Jl. Nitiprayan 47A, Yogyakarta.

Pewarta:
Penyunting: Alfen Hoesin
©tingkap.co 2026