Kutbah Jumat Imam Shamsi Ali di Markas Besar PBB New York

Agama - Sabtu, 29 Agustus 2026

260831145740-kutba.jpg

Foto: Instagram

        Oleh: Imam Shamsi Ali Al-Nuyorki 

Saudara-saudari sekalian,
Sebagaimana biasa, marilah kita mengawali dengan merendahkan diri di hadapan Allah Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi. Semoga Allah memberkahi pertemuan kita ini dan mengampuni segala kekurangan serta kesalahan kita. Kita berkumpul di sini untuk mencari keberkahan dan ampunan-Nya.

Karena kita masih berada dalam momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah , maka merupakan sesuatu yang baik untuk terus mengulang dan mengingat kembali kehidupan beliau serta sejarah Rasulullah.
Namun, izinkan saya memulai seperti biasa. Ketika berbicara mengenai Maulid Nabi atau Miladun Nabi, selalu ada perbedaan pendapat di antara umat ini. Ada yang berpendapat bahwa memperingatinya diperbolehkan, baik dalam bentuk perayaan tertentu maupun sekadar konferensi, seminar, atau kajian mengenai kehidupan beliau. Ada pula yang berpendapat bahwa hal tersebut tidak diperbolehkan.

Bagi saya, dalam hal ini, masing-masing pendapat kita sikapi dengan baik. Karena umat ini sudah cukup matang untuk menghadapi perbedaan pendapat yang ada di antara sesama umat Islam.

1. Ikhtilaf tanpa Iftira'
Ikhtilaf, yaitu perbedaan pendapat, merupakan sesuatu yang dikenal dalam Islam. Kita dapat memiliki pendapat, penafsiran, dan pemahaman yang berbeda terhadap sumber yang sama, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah.
Yang tidak diperbolehkan dalam Islam adalah iftira', yaitu membuat-buat kedustaan atau mengada-adakan sesuatu atas nama Allah dan agama.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, Ini halal dan ini haram, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.
QS. An-Nahl: 116
Kita juga harus ingat bahwa bahkan pada masa Rasulullah masih hidup, para sahabat pernah memiliki perbedaan dalam memahami dan menerapkan suatu perintah.

Namun, agar kita dapat memiliki ikhtilaf tanpa terjatuh ke dalam iftira', pertama-tama kita harus belajar menjadi dewasa. Dan kedewasaan itu terkadang dibangun di atas kedalaman pemahaman dan ilmu.
Terkadang kita hanya membaca satu sumber tertentu. Saya mengikuti satu mazhab tertentu, misalnya saya membaca kitab-kitab dalam mazhab Maliki, lalu saya merasa telah mengetahui segala sesuatu tentang Islam dan menganggap yang lainnya salah. Atau karena kita berasal dari Asia Tenggara, kita mengikuti mazhab Syafi'i dan membaca kitab-kitabnya, kemudian kita sampai pada kesimpulan bahwa mazhab lain adalah salah.

Atau kita mengikuti Imam Abu Hanifah dan menganggap pemahaman selainnya keliru.
Saudara-saudari sekalian, kita perlu menjadi dewasa. Dan untuk menjadi dewasa, kita perlu memperdalam pemahaman kita terhadap agama kita.
Saudara-saudara kita yang berpendapat bahwa peringatan tersebut tidak diperbolehkan, mereka juga mencintai Rasulullah.

Mereka tidak ingin Sunnah Rasulullah dilanggar. Karena berdasarkan pemahamannya, peringatan tersebut dapat termasuk bid'ah. Dan kita dapat menghargai pemahaman tersebut.
Sementara mereka yang melakukan suatu bentuk peringatan juga melakukannya atas dasar kecintaan kepada Rasulullah . Mereka ingin mendekatkan diri kepada Rasulullah, baik dalam pemahaman, perasaan, maupun tentunya dalam ketaatan kepada beliau. Tapi cara terbaik seperti apa dalam menyikapi kecintaan kepada Rasulullah ?

2. Hubungan Kita dengan Rasulullah 
Poin kedua, saudara-saudari sekalian, adalah mengenai hubungan kita dengan Rasulullah. Hubungan dengan Rasulullah dapat berupa hubungan darah.
Alhamdulillah, ada di antara kita yang merupakan keturunan Rasulullah, yaitu dari keturunan beliau. Dan percayalah, dalam Sunnah, kita mencintai keluarga Rasulullah sebagaimana saudara-saudara kita juga mencintai keluarga Rasulullah .
Kita bahkan menyebut mereka dalam bacaan tahiyyat ketika kita bershalawat kepada Nabi .

Namun pemahaman kita mengenai keluarga Rasulullah juga dapat diperluas, tidak hanya sebatas hubungan darah.
Bukan hanya keturunan dari Fathimah az-Zahra radhiyallahu 'anha, tetapi juga kita mengenang orang-orang yang dekat dengan Rasulullah seperti Bilal bin Rabah, Salman al-Farisi, Suhaib ar-Rumi, dan para sahabat lainnya.

Itulah salah satu cara kita memahami kedekatan dengan keluarga dan umat Rasulullah .
Maka kita sepakat bahwa kita harus mencintai keluarga Rasulullah .
Hubungan seseorang dengan Rasulullah dapat berupa hubungan darah. Dan tidak ada yang salah dengan hal tersebut.
Bisa juga seseorang merasa memiliki hubungan melalui suku, etnis, ras, ataupun budaya, karena Rasulullah sendiri adalah manusia. Beliau berasal dari suatu suku dan memiliki latar belakang etnis serta budaya tertentu.

Namun bagi kita umat Islam secara umum, hubungan kita dengan Rasulullah yang paling utama adalah hubungan iman.
Kita beriman kepada beliau.
Dan hubungan iman ini memiliki konsekuensi. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan sebagai konsekuensi dari keimanan tersebut.

3. Ketaatan kepada Rasulullah
Yang pertama adalah al-ith'ah, yaitu ketaatan. Beriman kepada Rasulullah menuntut kita untuk menaati beliau.
Ketaatan kepada Rasulullah merupakan konsekuensi dari keimanan kita kepada beliau. Kita wajib mengikuti ajaran yang beliau sampaikan kepada kita dari Allah melalui Al-Qur'an dan melalui Sunnah beliau. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

Barang siapa menaati Rasul, maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.
QS. An-Nisa': 80
Allah juga berfirman:
Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
QS. Ali 'Imran: 31

4. Rasulullah sebagai Uswatun Hasanah
Hal berikutnya adalah pentingnya menjadikan Rasulullah sebagai role model, sebagai teladan dalam setiap aspek kehidupan manusia.
Mulai dari bagaimana beliau beriman kepada agama, bagaimana beliau memiliki keyakinan yang kuat dan kokoh kepada agama Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kita berusaha mengikuti bagaimana Rasulullah memiliki keyakinan yang tidak tergoyahkan.

Ketika beliau berada di Makkah, beliau menghadapi tantangan yang sangat berat. Namun beliau tetap teguh dengan ajaran Allah. Ketika berada di Madinah, beliau menjadi pemimpin. Beliau memimpin masyarakat dan negara.
Apa pun gelar yang ingin kita berikan kepada beliauraja, presiden, perdana menteri, atau pemimpinyang jelas, beliau adalah seorang pemimpin.
Pertanyaannya:

Apakah kita memiliki tingkat keimanan seperti Rasulullah sehingga keadaan hidup kita tidak menggoyahkan iman?
Ketika kita kaya atau miskin.
Ketika kita kuat atau lemah.
Ketika kita memiliki kekuasaan atau tidak memiliki kekuasaan.
Apakah keyakinan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala tetap tidak berubah?
Itulah uswah dari Rasulullah .
Kita menjadikan beliau sebagai teladan dalam ibadah kepada Allah. Dan saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar mengenai hal tersebut.

Namun keteladanan Rasulullah tidak hanya berada di dalam dinding masjid.
Kita juga harus melihat bagaimana beliau menjadi teladan sebagai pemimpin masyarakat.
Bagaimana beliau menjadi teladan sebagai seorang suami.
Sebagai seorang ayah.
Sebagai seorang panglima.
Sebagai seorang pemimpin pasukan.
Bagaimana beliau menjadi seorang diplomat. Diplomasi Rasulullah sangat tinggi dan penuh hikmah.
Beliau adalah teladan kita dalam bisnis.
Beliau adalah teladan kita dalam kepemimpinan. Dan beliau adalah teladan kita dalam berbagai aspek kehidupan lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.
QS. Al-Ahzab: 21
Jika kita benar-benar beriman kepada Rasulullah , maka kita harus menjadikan beliau sebagai qudwah hasanah, sebagai teladan yang baik.

5. Mencintai Rasulullah
Hal berikutnya, saudara-saudari sekalian, adalah pentingnya mencintai Rasulullah .
Ya, kita mungkin mengikuti beliau. Kita mungkin menjalankan Sunnah beliau. Namun terkadang kita masih kurang dalam hal kecintaan yang bersifat emosional dan hati kepada Rasulullah. 
Ketika kita berbicara mengenai kecintaan kepada Rasulullah , maka kita benar-benar harus mencintai beliau.

Rasulullah bersabda:
Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman (dengan sempurna) hingga aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.
HR. Bukhari dan Muslim
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata kepada Rasulullah bahwa beliau lebih ia cintai daripada segala sesuatu kecuali dirinya sendiri.

Rasulullah kemudian bersabda:
Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.
Kemudian Umar radhiyallahu 'anhu berkata:
Sekarang, demi Allah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.
Rasulullah kemudian bersabda:
Sekarang, wahai Umar.
HR. Al-Bukhari, no. 6632
Secara alami, manusia mungkin mencintai dirinya sendiri lebih dari orang lain.
Tetapi kecintaan kepada Rasulullah adalah sesuatu yang kita pilih berdasarkan iman.
Karena agama adalah pilihan, dan kecintaan kita kepada Rasulullah merupakan bagian dari agama.

6. Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.
Suatu hari, ada seseorang datang kepada Rasulullah. Dan kita sudah sering mendengar hadis ini dari berbagai orang.
Orang tersebut bertanya kepada Rasulullah mengenai kapan Hari Kiamat akan terjadi.
Rasulullah tidak langsung menjawab.
Kemudian orang tersebut mengulangi pertanyaannya, tetapi Rasulullah tetap tidak menjawab.

Ketika ia bertanya untuk ketiga kalinya, Rasulullah kemudian mengalihkan pertanyaan tersebut kepadanya.
Seakan-akan beliau ingin mengajarkan:
Tidaklah yang paling penting apakah kiamat terjadi hari ini, besok, satu tahun lagi, atau seratus tahun lagi.
Yang paling penting adalah: apakah engkau sudah siap menghadapinya?
Apa yang telah engkau persiapkan?
Jika kiamat terjadi malam ini, apakah engkau siap?
Jika terjadi satu tahun lagi, apakah engkau siap?
Orang tersebut menjawab kurang lebih bahwa amalnya tidak terlalu banyak. Ia melaksanakan shalat lima waktu dan beberapa amal lainnya.
Namun ia mengatakan satu hal:
Akan tetapi, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Maka Rasulullah bersabda:
Engkau akan bersama orang yang engkau cintai. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Dalam riwayat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata bahwa para sahabat tidak pernah merasa gembira setelah masuk Islam melebihi kegembiraan mereka ketika mendengar sabda Rasulullah :

Sesungguhnya engkau akan bersama orang yang engkau cintai.
HR. Bukhari dan Muslim
Maka lihatlah pentingnya mencintai Rasulullah .

7. Melihat Wajah Allah di Surga
Dan tentu saja, saudara-saudari sekalian, tidak ada keraguan bahwa kenikmatan terbesar bagi seorang mukmin adalah mendapatkan keridhaan Allah dan melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala di akhirat.
Allah berfirman:
Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya lah mereka melihat.
QS. Al-Qiyamah: 2223
Kita akan melihat wajah Allah, dan itu adalah kenikmatan yang paling utama.
Apa pun kenikmatan lainnya tidak dapat dibandingkan dengan memandang wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Namun dalam konteks hadis tadi, pesan yang ingin disampaikan adalah:
Karena engkau mencintai Allah dan mencintai Rasulullah , maka engkau akan bersama orang yang engkau cintai di akhirat.
Itulah pentingnya mencintai Rasulullah .

8. Membela Rasulullah
Namun tentu saja, saudara-saudari sekalian, hal berikutnya adalah pentingnya membantu dan membela Rasulullah .
Sebagian teman-teman kita yang non-Muslim mungkin tidak memahami mengapa umat Islam begitu marah ketika Nabi Muhammad dihina atau dijadikan bahan ejekan.
Mengapa kita begitu marah?
Karena mereka mungkin tidak memahami seberapa besar kecintaan umat Islam kepada Rasulullah dan bagaimana kita ingin membela kehormatan Rasulullah .
Namun kita hidup di dunia yang memiliki aturan, hukum, dan regulasi.

Dan menurut saya, cara terbaik untuk membela Rasulullah adalah dengan mengikuti Sunnah beliau.
Dengan menjalankan kehidupan sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah. Karena apa arti emosi dan kemarahan dalam membela Rasulullah apabila pada saat yang sama kita justru jauh dari Sunnah Nabi Muhammad ?
Membela Rasulullah bukan hanya dengan kata-kata. Bukan hanya dengan kemarahan. Tetapi dengan menghidupkan ajaran beliau dalam kehidupan kita.
Dengan menjadi manusia yang jujur sebagaimana beliau jujur.
Dengan menjadi manusia yang amanah sebagaimana beliau amanah.
Dengan menjadi suami yang baik.
Menjadi ayah yang baik.
Menjadi pemimpin yang adil.
Menjadi tetangga yang baik.
Menjadi seorang Muslim yang menjalankan Sunnah Rasulullah .
Itulah salah satu bentuk pembelaan terbaik terhadap Rasulullah .

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kita petunjuk.
Wallahu a'lam bish-shawab.

Imam Shamsi Ali Al-Nuyorki adalah Direktur Jamaica Muslim Center, dan bermukim di New York, Amerika Serikat.

Pewarta:
Penyunting: Alfen Hoesin
©tingkap.co 2026