Pelukis Agung Wicaksono Bernostalgia Sekaligus Bungkus Kritikan Lewat Kenangan Hewan di Masa Kecil
Seni Budaya - Jumat, 2 Oktober 2026

Foto : Defri Saefullah
Pelukis asal Magetan Agung Wicaksono memberi penjelasan soal lukisannya yang bertema heean
JAKARTA, TINGKAP. CO - Dua belas pelukis memamerkan karya terbaik mereka di pameran lukisan bertajuk " The Untitled, Cerita-cerita yang siap diceritakan" di 2Madison, Bangka, Jakarta Selatan, mulai Kamis 1 Oktober 2026 sampai 17 Oktober 2026 . Para pelukis menghadirkan beragam genre mulai abstrak sampai realisme untuk memanjakan mata pecinta seni di Indonesia.
Pelukis yang paling banyak memamerkan karyanya yaitu Agus Wicaksono. Pelukis dengan gaya kontur ini menampilkan lukisan lukisan yang bertema hewan.
Ada gajah, badak, burung, monyet, babi dan binatang lainnya jadi inspirasi. Selain karena ada rasa gelisah melihat fenomena alam belakangan ini, Agus juga punya alasan lain mengapa banyak melukis hewan dalam bingkai kanvasnya. .
"Semua lukisan saya ada kaitannya dengan masa kecil. Masa kecil saya dekat dengan hewan hewan ini. Kakek saya kerja di kebun binatang, jadi masa kecil sangat melekat, " katanya kepada wartawan.
"Awalnya saya melukis hewan yang indah indah saja seperti kuda berlari, ikan sampai akhirnya bertemu pembimbing. Dia bilang jangan melukis yang indah indah saja. "

Pelukis asal Magetan ini menciptakan 25 karyanya yang dijualnya dipameran pada 2022. Satu lukisan dikatakannya rata rata dikerjakan dalam waktu satu bulan, kecuali lukisan berukuran 6 meter x1, 5 meter yang membutuhkan waktu 3 bulan...
Dia mengaku terinspirasi dengan pelukis legendaris Afandi. Maka itu, dia memulai karier lukisannya dengan menggunakan pisau palet.
"Cukup lama saya memakai palet dari 1997-2015, tapi lama lama saya jenuh. Sejak saat itu saya bertekad pakai kuas, " ujarnya.
Sementara itu, pelukis lainnya Rendi Respati menampilkan dua lukisan abstrak yang unik dan hanya menampilkan dua warna hitam dan putih
Dua lukisannya diberi judul Prakerti dan Purusa. Keduanya disebut Rendi sebagai simbol energi maskulin dan feminim.
"ini tidak digambarkan dalam wujud manusia tapi abstraksi, tidak diwujudkan dalam wujud fisik, tak ada wajah, gender. Ini sebenarnya bicara soal alam, gunung berapi, bagaimana keseimbangan alam itu, " ujar Rendi.
"Kenapa hanya hitam putih? Sebelumnya saya juga melukis di kanvas dengan banyak warna. Tapi dengan narasi ini, saya ingin yang sederhana. Dengan satu tarikan kuas harus langsung jadi, " katanya sembari menambahkan lukisannya dibuat dalam satu jam saja.
Sedangkan pelukis lain De Laurent mecoba bawa pengalaman pribadi ke atas kanvas. Dua lukisan yang dijualnya di pameran seperti yang berjudul "Bergantung kepada cinta" dibuatnya berdasarkan pengalaman pribadi.
Lukisan "bergantung kepada cinta" menampilkan sosok Bagong sebagai tokoh utama. Salah satu tokoh pewayangan ini memegang banyak balon berbentuk cinta di atas awan di tengah latar belakang warna warni dan enak dipandang mata.
"Ini bercerita soal rumah tangga , karena rumah tangga tanpa cinta pasti berantakan. Saya suka menggabungkan abstrak dengan realis. Proses pembuatannya cukup lama karena saya juga harus mengajar, " ujarnya.
Pewarta: Defri Saefullah
Penyunting: Defri Saefullah
©tingkap.co 2026
