1.080 Hektare Sawah di Langkat Krisis Irigasi, Petani Terancam Beralih ke Kelapa Sawit
Infrastruktur - Kamis, 8 Oktober 2026

Foto: Istimewa
LSM BITRA Indonesia bersama masyarakat dari Desa Kebun Kelapa, Desa Sei Ular, Desa Tanjung Ibus, dan Kelurahan Hinai Kiri saat melakukan audiensi dengan DPRD Kabupaten Langkat, Rabu (7/10/2026).
LANGKAT, TINGKAP.CO - Nasib ribuan petani di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, menjadi perhatian serius. Sebanyak 1.080 hektare lahan persawahan di empat wilayah membutuhkan pembangunan infrastruktur irigasi agar produktivitas pertanian meningkat dan petani tidak beralih menanam kelapa sawit.
Persoalan tersebut disampaikan LSM BITRA Indonesia bersama masyarakat dari Desa Kebun Kelapa, Desa Sei Ular, Desa Tanjung Ibus, dan Kelurahan Hinai Kiri saat melakukan audiensi dengan DPRD Kabupaten Langkat, Rabu (7/10/2026).
Audiensi tersebut diterima langsung Ketua DPRD Langkat Sribana Perangin Angin, didampingi anggota DPRD Sedarita Ginting serta perwakilan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Langkat.
Dalam pertemuan itu, masyarakat meminta dukungan pemerintah untuk membangun sistem irigasi yang memadai. Pasalnya, lahan persawahan di kawasan tersebut belum mendapatkan pasokan air yang optimal sehingga petani menghadapi keterbatasan dalam meningkatkan hasil panen.
Iswan Kaputra dari LSM BITRA Indonesia selaku pendamping masyarakat mengatakan, pembangunan irigasi menjadi kebutuhan mendesak karena berkaitan langsung dengan produktivitas pertanian dan keberlanjutan lahan persawahan.
Menurutnya, pihak BITRA Indonesia sebelumnya telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera II Medan dan Dinas Sumber Daya Air Provinsi Sumatera Utara. Dari koordinasi tersebut, pihaknya diarahkan untuk menindaklanjuti persoalan itu bersama Dinas PUTR Kabupaten Langkat.
"Persoalan irigasi ini sangat penting bagi masyarakat karena berkaitan langsung dengan produktivitas pertanian dan keberlanjutan lahan persawahan," kata Iswan.
Petani Hanya Bisa Panen Sekali Setahun
Keterbatasan pasokan air berdampak langsung terhadap aktivitas pertanian warga. Sigit Pamungkas, salah seorang warga Desa Kebun Kelapa, mengungkapkan bahwa petani saat ini hanya mampu menanam padi satu kali dalam setahun.
Produksi padi diperkirakan mencapai 56 ton dalam sekali panen. Namun, petani meyakini hasil tersebut masih bisa ditingkatkan apabila lahan mereka mendapatkan dukungan sistem irigasi yang memadai.
"Kalau areal persawahan ini dialiri irigasi, kami yakin hasil panen bisa mencapai 7 ton per hektare," ujar Sigit.
Lebih jauh, ia mengkhawatirkan keterbatasan air yang terus berlarut-larut dapat mendorong petani mengubah fungsi lahan persawahan menjadi perkebunan kelapa sawit.
"Kalau irigasi tidak terlaksana, kami khawatir petani akan beralih menanam kelapa sawit di areal persawahan ini," katanya.
Kekhawatiran tersebut menjadi salah satu alasan masyarakat mendesak agar pembangunan irigasi segera mendapat perhatian pemerintah. Selain meningkatkan hasil pertanian, ketersediaan air juga dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan lahan sawah dan mendukung ketahanan pangan daerah.
Pompa Air Jadi Solusi Jangka Pendek
Menanggapi aspirasi masyarakat, perwakilan Dinas PUTR Kabupaten Langkat menyampaikan bahwa pembangunan pompa air dapat menjadi solusi jangka pendek untuk membantu memenuhi kebutuhan air persawahan.
Satu unit pompa diperkirakan mampu mengairi sekitar 10 hektare lahan. Meski demikian, kebutuhan untuk mengairi hamparan persawahan seluas 1.080 hektare memerlukan perencanaan lebih lanjut agar penanganannya berjalan efektif.
Sementara itu, pembangunan jaringan irigasi permanen dengan memanfaatkan sumber air dari Sungai Wampu membutuhkan anggaran yang cukup besar. Karena itu, diperlukan perencanaan matang serta dukungan pendanaan dari berbagai tingkatan pemerintahan dan pihak terkait.
DPRD Langkat Siapkan Langkah Perjuangan Anggaran
Ketua DPRD Langkat Sribana Perangin Angin menyambut baik aspirasi masyarakat dan menyatakan dukungannya terhadap rencana pembangunan infrastruktur irigasi di empat wilayah Kecamatan Secanggang tersebut. "Kami akan berkoordinasi ke kementerian terkait di pusat," ujar Sribana.
Sementara itu, anggota DPRD Langkat Sedarita Ginting mengatakan, pihaknya akan berupaya mendorong agar pembangunan infrastruktur irigasi tersebut dapat diusulkan dalam APBD Kabupaten Langkat Tahun Anggaran 2027.
Menurut Sedarita, pembiayaan proyek tidak harus bergantung pada APBD kabupaten, tetapi juga dapat diperjuangkan melalui APBD Provinsi Sumatera Utara maupun dukungan pihak ketiga.
"Selain dari APBD Kabupaten Langkat, proyek infrastruktur irigasi ini juga dapat bersumber dari APBD Provinsi Sumatera Utara maupun dukungan pihak ketiga," ungkapnya.
Sebagai bagian dari upaya mempercepat realisasi pembangunan, LSM BITRA Indonesia turut menyerahkan desain rencana pembangunan infrastruktur irigasi kepada Ketua DPRD Langkat.
Penyerahan desain tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat perencanaan dan memperjuangkan dukungan anggaran bagi pembangunan irigasi di kawasan persawahan Secanggang.
Masyarakat kini berharap aspirasi yang telah disampaikan tidak berhenti pada audiensi, tetapi berlanjut menjadi langkah konkret. Dengan tersedianya irigasi yang memadai, petani diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, memperluas peluang musim tanam, serta mempertahankan lahan persawahan sebagai penopang ketahanan pangan di Kabupaten Langkat.
Pewarta: Siti Fatimah Hasibuan
Penyunting: Dewi Apriatin
©tingkap.co 2026
