Wagub Banten: Filosofi Catur Bisa Jadi Kunci Sukses Jalankan Birokrasi
Olahraga - Kamis, 8 Oktober 2026

Dok. Diskominfo Banten
Wagub Dimyati sedang bermain catur.
SERANG, TINGKAP.CO - Permainan catur bukan sekadar adu strategi untuk mengalahkan lawan. Di balik setiap langkah bidak, tersimpan filosofi tentang kerja sama, ketelitian, dan kemampuan mengambil keputusan yang juga penting dalam menjalankan roda pemerintahan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur (Wagub) Banten, Achmad Dimyati Natakusumah, saat membuka Turnamen Catur dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Provinsi Banten di Aula Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Provinsi Banten, Kota Serang, Rabu (7/10/2026).
Menurut Dimyati, catur mengajarkan pentingnya sinergi dan kolaborasi. Setiap bidak memiliki peran masing-masing, sehingga pemain harus mampu menyusun strategi sekaligus melindungi setiap bagian untuk mencapai kemenangan.
Filosofi tersebut, kata dia, sejalan dengan penyelenggaraan pemerintahan yang membutuhkan kerja sama seluruh pihak demi mewujudkan target pembangunan.
"Catur mengajarkan kita untuk saling bekerja sama dan menjaga demi meraih kemenangan. Sama halnya di pemerintahan, kita tidak bisa bekerja sendiri," ujar Dimyati.
Ia menjelaskan, nilai saling ketergantungan dalam permainan catur mengajarkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh satu langkah atau satu bidak. Diperlukan strategi yang matang, koordinasi yang baik, serta kehati-hatian dalam mengambil keputusan.
Karena itu, Dimyati menilai kolaborasi antarpihak menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan kinerja birokrasi dan mendorong kemajuan daerah.
"Kerja sama dan kolaborasi dapat memenangkan pertandingan, mencapai keunggulan, serta mendorong kemajuan. Begitu juga dalam birokrasi, kolaborasi antarpihak adalah kunci untuk mencapai target pembangunan," tuturnya.
Selain kerja sama, Dimyati menekankan pentingnya kemampuan berpikir strategis dan berorientasi jangka panjang.
Menurutnya, setiap langkah dalam permainan catur harus diperhitungkan dengan cermat, termasuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi.
Prinsip serupa perlu diterapkan dalam pengambilan kebijakan pemerintahan. Analisis terhadap kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman menjadi bagian penting agar keputusan yang diambil tepat sasaran dan memberikan manfaat berkelanjutan.
"Dalam catur, satu kesalahan bisa menghancurkan segalanya. Setiap langkah harus dipikirkan matang-matang. Ini sejalan dengan birokrasi, setiap kebijakan harus dirancang agar berkelanjutan dan berpihak pada generasi ke depan, bukan sekadar kepentingan saat ini," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Banten, Ahmad Syaukani, mengatakan turnamen catur tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan untuk memeriahkan HUT ke-26 Provinsi Banten.
Menurut Syaukani, kegiatan ini bertujuan meningkatkan sportivitas sekaligus mendorong budaya olahraga di lingkungan masyarakat dan pemerintahan, khususnya cabang olahraga catur.
Turnamen tersebut mempertandingkan dua kategori, yakni perorangan dan beregu.
Kategori perorangan diikuti perwakilan dari 27 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta satu perwakilan kabupaten/kota.
Sementara kategori beregu diikuti 25 tim dan lima perwakilan kabupaten/kota.
Pertandingan kategori perorangan digelar pada 7 Oktober 2026, sedangkan kategori beregu berlangsung pada 8 Oktober 2026. Kedua kategori menggunakan sistem Swiss.
Melalui turnamen ini, Pemerintah Provinsi Banten tidak hanya memeriahkan hari jadinya, tetapi juga mendorong tumbuhnya sportivitas, kemampuan berpikir strategis, dan semangat kolaborasi yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat maupun penyelenggaraan pemerintahan.
Pewarta: Sofyandri Triyadi R
Penyunting: Dewi Apriatin
©tingkap.co 2026
