Tempuh Ribuan Kilometer, 35 Delegasi Syarikat Islam Aceh Bawa Semangat Perjuangan ke Kongres Nasional

Nasional - Senin, 19 Oktober 2026

261020041436-tempu.jpg

Foto: Istimewa

Pengurus Wilayah Syarikat Islam (PWSI) Aceh menghadiri Kongres Nasional/Majelis Tahkim ke-42 Syarikat Islam di Surabaya, Jawa Timur, pada 17-20 Oktober 2026.

SURABAYA, TINGKAP.CO - Ribuan kilometer perjalanan darat tidak menyurutkan semangat 35 delegasi Pengurus Wilayah Syarikat Islam (PWSI) Aceh untuk menghadiri Kongres Nasional/Majelis Tahkim ke-42 Syarikat Islam di Surabaya, Jawa Timur, pada 17-20 Oktober 2026.

Berangkat dari Markaz Syarikat Islam Aceh di Banda Aceh pada 13 Oktober 2026, rombongan menempuh perjalanan panjang melintasi sejumlah wilayah di Sumatra dan Jawa, termasuk menyeberangi Selat Sunda.

Perjalanan ini bukan sekadar upaya menghadiri agenda nasional, tetapi juga menjadi simbol pengabdian, solidaritas, dan komitmen kader dalam menjaga keberlangsungan perjuangan organisasi.

Rombongan dilepas langsung oleh Ketua Dewan Wilayah Syarikat Islam Aceh, Prof. Muhammad Siddiq Armia, M.H., Ph.D., didampingi Ketua Pengurus Wilayah Syarikat Islam Aceh, Zulmahdi Hasan, S.Ag., M.H.

Keberangkatan tersebut menandai kesiapan delegasi Aceh untuk berpartisipasi dalam forum nasional sekaligus membawa aspirasi daerah bagi masa depan Syarikat Islam.
 
Perjalanan dari Banda Aceh menuju Surabaya diperkirakan mencapai 3.2003.500 kilometer. Jarak tersebut menuntut kesiapan fisik, pengaturan waktu, koordinasi, serta kemampuan menjaga kebersamaan selama perjalanan.

Berbeda dengan perjalanan udara yang relatif singkat, jalur darat menghadirkan tantangan tersendiri. Kondisi jalan, kelelahan, waktu tempuh, dan kebutuhan beristirahat menjadi bagian dari perjalanan yang harus dikelola bersama.

Namun, di balik panjangnya perjalanan, terdapat semangat yang menyatukan puluhan delegasi tersebut. Mereka berangkat dengan tujuan yang sama: menghadiri kongres, memperkuat konsolidasi organisasi, dan mengambil bagian dalam menentukan arah perjuangan Syarikat Islam ke depan.

Kebersamaan selama perjalanan juga menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan antarkader. Nilai solidaritas tidak hanya diwujudkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui kedisiplinan, kepedulian, dan kesediaan untuk saling membantu.

Bagi para delegasi, perjuangan organisasi tidak selalu dimulai ketika persidangan dibuka. Perjuangan justru telah berlangsung sejak langkah pertama meninggalkan daerah untuk memenuhi amanah organisasi.
 
Kongres Nasional/Majelis Tahkim ke-42 Syarikat Islam menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi, mengevaluasi perjalanan organisasi, serta merumuskan arah kebijakan dan program perjuangan ke depan.

Bagi delegasi Aceh, keikutsertaan dalam kongres ini memiliki arti strategis. Aceh memiliki tradisi keislaman, sejarah perjuangan, dan pengalaman sosial yang dapat menjadi sumber pemikiran bagi pengembangan organisasi di tingkat nasional.

Karena itu, kehadiran 35 delegasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemenuhan undangan atau formalitas organisasi. Partisipasi mereka perlu diwujudkan melalui penyampaian aspirasi daerah, pertukaran gagasan, dan keterlibatan aktif dalam agenda kongres sesuai dengan mandat organisasi.

Melalui forum ini, berbagai pengalaman dan pemikiran dari daerah diharapkan dapat memperkaya pembahasan sekaligus memperkuat langkah Syarikat Islam dalam menjawab kebutuhan umat dan tantangan masyarakat.

Perjalanan dari Banda Aceh menuju Surabaya pun memiliki makna lebih luas. Delegasi tidak hanya membawa mandat organisasi, tetapi juga harapan agar aspirasi kader di daerah mendapat ruang dalam perumusan arah perjuangan nasional.
 
Syarikat Islam memiliki sejarah panjang dalam perkembangan gerakan Islam, pemberdayaan ekonomi umat, pendidikan, dan perjuangan kebangsaan di Indonesia.

Warisan tersebut menjadi modal penting bagi generasi kader saat ini. Namun, sejarah besar sebuah organisasi tidak cukup hanya dikenang. Nilai-nilai perjuangannya perlu diterjemahkan ke dalam program dan tindakan nyata yang menjawab tantangan zaman.

Penguatan kaderisasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan kemandirian ekonomi, serta perluasan kontribusi sosial menjadi sejumlah bidang yang relevan untuk terus dikembangkan.

Dalam konteks tersebut, kongres menjadi ruang strategis untuk mempertemukan gagasan, pengalaman, dan harapan dari berbagai wilayah. Delegasi Aceh diharapkan dapat berkontribusi dalam proses tersebut sekaligus membawa pulang hasil kongres sebagai bahan penguatan organisasi di daerah.

Dengan demikian, keberhasilan kongres tidak hanya diukur dari terselenggaranya persidangan atau lahirnya keputusan organisasi, tetapi juga dari kemampuan seluruh jajaran menerjemahkan hasilnya menjadi program yang bermanfaat bagi umat dan masyarakat.
 
Perjalanan panjang 35 delegasi PWSI Aceh menuju Surabaya pada akhirnya bukanlah tujuan akhir. Kongres merupakan salah satu tahapan dalam perjalanan panjang Syarikat Islam untuk terus memperkuat peran dan pengabdiannya.

Tantangan berikutnya adalah memastikan gagasan, keputusan, dan semangat yang diperoleh selama kongres dapat diwujudkan dalam kerja nyata setelah para delegasi kembali ke Aceh.

Kebersamaan selama perjalanan diharapkan menjadi modal untuk memperkuat konsolidasi, mempererat persaudaraan, dan meningkatkan efektivitas gerakan organisasi.

Sementara itu, hasil kongres perlu diterjemahkan menjadi program yang sesuai dengan kebutuhan kader, umat, dan masyarakat di daerah.

Dari Markaz Syarikat Islam Aceh di Banda Aceh menuju Surabaya, perjalanan ribuan kilometer itu membawa pesan bahwa perjuangan membutuhkan keteguhan, pengorbanan, dan komitmen yang berkelanjutan.

Sebab, perjuangan organisasi tidak berhenti ketika kongres ditutup. Justru setelah forum berakhir, komitmen untuk mengabdi diuji melalui tindakan nyata.

Dari Aceh untuk Indonesia, semangat persaudaraan dan cita-cita perjuangan Syarikat Islam diharapkan terus hidup, tumbuh, dan memberi manfaat bagi umat serta bangsa.

Pewarta: Zainal Abidin
Penyunting: Dewi Apriatin
©tingkap.co 2026