Kisah Petugas Damkar Bandung: Berpacu dengan Waktu, Bertaruh Nyawa demi Menyelamatkan Sesama
Humaniora - Selasa, 20 Oktober 2026

Dok. Diskominfo Kota Bandung
Bagi petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmatan) Kota Bandung, setiap hari adalah pertaruhan antara kesiapsiagaan, kecepatan, dan keselamatan.
BANDUNG, TINGKAP.CO - Di balik sirene yang meraung dan mobil pemadam kebakaran yang melaju menembus kemacetan, ada perjuangan para petugas yang mempertaruhkan keselamatan demi menolong sesama.
Mereka tak hanya berjibaku dengan kobaran api, tetapi juga menghadapi berbagai situasi darurat, mulai dari evakuasi korban kecelakaan hingga penyelamatan hewan.
Bagi petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmatan) Kota Bandung, setiap hari adalah pertaruhan antara kesiapsiagaan, kecepatan, dan keselamatan.
Tak seorang pun tahu kapan panggilan darurat datang. Bisa saat sedang berlatih, memeriksa kendaraan, beristirahat, bahkan ketika baru saja menyelesaikan tugas sebelumnya.
Di markas Diskarmatan yang berlokasi di Jalan Sukabumi, Kota Bandung, kesiapsiagaan menjadi bagian dari rutinitas yang tidak boleh diabaikan.
Sebab, keterlambatan beberapa menit atau peralatan yang tidak berfungsi optimal dapat menentukan keberhasilan sebuah operasi penyelamatan.
Pukul 07.30 WIB, aktivitas personel dimulai dengan apel gabungan. Setelah itu, mereka menjalani pembinaan fisik, memeriksa kendaraan, serta memastikan seluruh peralatan siap digunakan sewaktu-waktu.
Bagi Sendi Saputra, petugas penyelamatan Diskarmatan Kota Bandung yang telah mengabdi sejak 2017, pemeriksaan tersebut bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian penting dari upaya menjaga keselamatan diri dan orang lain.
Pemeriksaan kendaraan dilakukan secara terperinci, mulai dari oli mesin, oli rem, hingga air radiator. Peralatan penyelamatan seperti gergaji mesin, pompa, alat derek, dan berbagai perangkat khusus lainnya juga harus dipastikan berfungsi dengan baik.
Salah satu peralatan yang mendapat perhatian khusus adalah combination tool, perangkat penyelamatan yang memiliki tiga fungsi dan digunakan dalam kondisi tertentu untuk membantu proses evakuasi.
Mengingat perannya yang vital dan pengadaannya tidak mudah, peralatan tersebut harus dirawat dengan cermat.
Dalam situasi darurat, petugas tidak memiliki banyak waktu untuk memperbaiki perlengkapan yang bermasalah akibat luput diperiksa. Karena itu, kesiapan harus dibangun jauh sebelum panggilan darurat datang.
Pekerjaan Sendi ternyata tidak selalu berkaitan dengan kebakaran. Tim penyelamatan juga menangani berbagai kejadian nonkebakaran, seperti mengevakuasi hewan yang masuk ke rumah atau sumur, membantu warga yang kesulitan melepas cincin, hingga menangani kecelakaan dan berbagai kondisi darurat lainnya.
Tuntutan pekerjaan itu membuat petugas harus menguasai beragam keterampilan. Mereka dituntut siap menghadapi medan dengan tingkat kesulitan berbeda, baik di tempat tinggi maupun di kedalaman tertentu.
Sendi, misalnya, memiliki sertifikasi rescue diver atau penyelam penyelamatan. Kemampuan ini membutuhkan penguasaan teori, teknik penyelaman, serta prosedur keselamatan yang harus dipelajari dan dilatih secara serius.
Menurutnya, penyelaman menjadi salah satu tugas yang paling menantang karena membutuhkan pengetahuan teknis dan perhitungan matang, terutama ketika dilakukan untuk mengevakuasi korban.
Namun, siapa sangka, pekerjaan yang kini dijalaninya dengan penuh dedikasi itu awalnya bukanlah pilihan yang benar-benar diinginkannya.
Sendi mengaku pertama kali masuk ke dunia pemadam kebakaran dan penyelamatan karena mengikuti keinginan orang tuanya.
"Awalnya saya cuma mengikuti kemauan orang tua. Ketika Damkar membuka lowongan, orang tua memberi informasi. Sebetulnya saya tidak suka. Setelah setahun menjalani, mulai senang. Tahun ketiga malah makin senang karena bisa menolong orang," tuturnya saat ditemui di Markas Komando Diskarmatan Kota Bandung, Kamis (15/10/2026).
Seiring berjalannya waktu, kecintaannya terhadap pekerjaan itu tumbuh. Ia menemukan kebahagiaan tersendiri ketika berhasil membantu orang yang sedang menghadapi kesulitan.
Bagi Sendi, ucapan terima kasih dan doa dari masyarakat menjadi penghargaan yang tidak ternilai. Ia menegaskan, petugas tidak menerima uang atas pertolongan yang diberikan kepada warga. Jika ada masyarakat yang hendak memberikan uang, pemberian tersebut akan ditolak.
Di balik kepuasan menolong sesama, ada pengalaman yang membekas dan risiko yang selalu mengintai. Sendi pernah terlibat dalam evakuasi seorang anak yang tangannya tertancap pada pagar. Untuk membebaskan anak tersebut, petugas harus memotong bagian pagar sebelum membawanya ke rumah sakit.
Pengalaman lainnya adalah pencarian korban hanyut. Dalam situasi seperti ini, petugas harus bekerja dengan cermat, berkoordinasi dengan pihak terkait, dan mengikuti tahapan penanganan yang diperlukan.
Risiko lebih besar pernah dihadapinya ketika tim menangani kebakaran di sebuah gudang yang menyimpan amunisi dan senjata api. Kondisi tersebut menambah tingkat bahaya karena paparan panas dapat memicu situasi yang sulit diprediksi.
Sendi mengakui, rasa khawatir tetap ada. Menurutnya, menjadi petugas pemadam kebakaran dan penyelamatan bukan berarti tidak memiliki rasa takut.
Karena itu, ia selalu berdoa sebelum berangkat, menjalankan tugas sesuai prosedur, dan mengandalkan keterampilan yang telah dipelajari melalui latihan.
Sebelum menuju lokasi kejadian, Sendi berusaha mengabari keluarganya agar mereka mengetahui bahwa dirinya sedang bertugas. Setelah pekerjaan selesai, ia kembali memberikan kabar bahwa dirinya telah kembali dengan selamat.
Di tengah risiko yang tidak selalu dapat diprediksi, Sendi memegang prinsip yang menjadi pengingat bagi dirinya dan rekan-rekannya.
"Tidak ada pemadam dan penyelamat yang hebat, tapi adanya pemadam dan penyelamat yang terlatih. Jadi, jangan bosan untuk berlatih," ujarnya.
Jika Sendi memastikan peralatan penyelamatan siap digunakan, Maulana Iqbal bertanggung jawab menjaga kesiapan kendaraan pemadam kebakaran.
Sebagai operator Regu 2 Pleton 2 Diskarmatan Kota Bandung, Iqbal memastikan mesin kendaraan dan pompa berfungsi optimal agar operasi pemadaman dapat berjalan lancar.
Perjalanannya di dunia pemadam kebakaran dimulai sebagai relawan pada 2010. Ia kemudian mengikuti seleksi tenaga harian lepas pada 2015 dan kini berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu.
Menurut Iqbal, perawatan kendaraan pemadam tidak hanya didasarkan pada jarak tempuh, tetapi juga jam kerja mesin. Sebab, mesin dan pompa dapat terus beroperasi selama pemadaman berlangsung meskipun kendaraan tidak bergerak.
Tantangan berikutnya muncul ketika armada harus keluar dari markas menuju lokasi kejadian.
Kendaraan berukuran besar harus melewati jalan sempit, gapura rendah, kendaraan yang parkir sembarangan, hingga kemacetan di sejumlah ruas jalan Kota Bandung.
Diskarmatan Kota Bandung menetapkan target waktu respons maksimal 15 menit sejak laporan diterima hingga petugas tiba di lokasi. Persiapan keberangkatan dapat dilakukan dalam waktu kurang dari lima menit, tetapi durasi perjalanan sangat bergantung pada kondisi lalu lintas dan akses menuju lokasi.
"Kalau kami sering dikatakan terlambat, sebenarnya kami terhambat," ujar Iqbal.
Pernyataan itu menggambarkan tantangan yang dihadapi petugas ketika berpacu dengan waktu. Mereka dituntut bergerak cepat, tetapi tetap harus memperhatikan keselamatan pengguna jalan dan seluruh anggota regu.
Sirene dan lampu rotator bukan berarti petugas dapat mengabaikan kehati-hatian. Setiap personel tetap harus bekerja sesuai tugas, peran, dan arahan yang telah ditetapkan.
Setelah api berhasil dipadamkan, pekerjaan mereka belum selesai. Petugas harus memastikan lokasi aman, memeriksa kembali perlengkapan, memastikan seluruh anggota regu lengkap, serta menyiapkan kendaraan agar dapat kembali digunakan jika muncul panggilan darurat berikutnya.
Bagi Iqbal, kebahagiaan terbesar muncul ketika melihat warga kembali tenang setelah kebakaran berhasil ditangani dan memastikan tidak ada korban.
Lambaian tangan dan ucapan terima kasih masyarakat menjadi penyemangat tersendiri baginya. Sebaliknya, ia merasa sedih ketika perjalanan menuju lokasi terhambat. Ia membayangkan, jika armada bisa tiba lebih cepat, api yang semula kecil mungkin dapat segera dikendalikan sehingga dampak kebakaran bisa ditekan.
Di tengah kesibukan tersebut, keluarga menjadi sumber kekuatan bagi Iqbal. Melihat istri dan anaknya yang masih kecil membuatnya kembali bersemangat setelah menjalani tugas panjang.
Keluarga pula yang mengingatkannya untuk selalu menjaga keselamatan, meningkatkan kemampuan, dan menjalankan tanggung jawab sebaik mungkin.
Kesiapsiagaan Sendi dan Iqbal merupakan bagian dari sistem pelayanan Diskarmatan Kota Bandung yang bekerja selama 24 jam melalui pengaturan regu, armada, jadwal piket, dan prosedur operasional.
Kepala Bidang Pemadaman Diskarmatan Kota Bandung, Leonard, menjelaskan bahwa bidang pemadaman didukung 207 personel dan empat unit pelaksana teknis (UPT) yang melayani wilayah utara, selatan, timur, dan barat Kota Bandung.
Sementara itu, tim penyelamatan diperkuat 43 personel. Untuk menunjang operasional, Diskarmatan memiliki 20 unit mobil pancar, tiga mobil tangki air, kendaraan tangga, dua kendaraan penyelamatan (rescue), serta kendaraan pendukung lainnya.
Berdasarkan data Diskarmatan Kota Bandung, sepanjang Januari hingga September 2026 tercatat 49 kejadian kebakaran.
Pada periode yang sama, petugas menangani 135 kejadian penyelamatan hewan (animal rescue) dan 19 kejadian penyelamatan manusia (human rescue).
Data tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan petugas pemadam kebakaran dan penyelamatan tidak terbatas pada penanganan api, tetapi juga mencakup berbagai kondisi darurat yang membutuhkan keahlian khusus.
Leonard menjelaskan, pada musim kemarau, kebakaran lahan terbuka menjadi salah satu perhatian. Kejadian semacam ini banyak ditemukan di wilayah utara dan timur Kota Bandung yang masih memiliki lahan terbuka.
Sementara itu, kawasan permukiman padat dengan akses jalan sempit juga menghadirkan tantangan tersendiri bagi petugas ketika harus menjangkau titik kebakaran.
Di lapangan, keberhasilan penanganan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memadamkan api. Akses menuju lokasi, kondisi bangunan, ketersediaan sumber air, serta situasi masyarakat di sekitar tempat kejadian turut memengaruhi proses penanganan.
Karena itu, latihan rutin menjadi bagian penting dalam menjaga kemampuan dan kesiapan seluruh personel.
Leonard menegaskan, keberanian harus dibarengi keterampilan, kedisiplinan, serta kepatuhan terhadap prosedur keselamatan.
"Pemadam itu bukan orang yang jago, tetapi orang yang terlatih," kata Leonard.
Di Balik Sirene, Ada Keluarga yang Menunggu
Sehari bersama petugas Diskarmatan Kota Bandung memperlihatkan bahwa pekerjaan mereka dibangun dari rutinitas yang sering kali luput dari perhatian masyarakat.
Ada kendaraan yang harus selalu siap, peralatan yang diperiksa berulang kali, keterampilan yang terus diasah, dan prosedur yang harus dipatuhi dalam setiap operasi.
Ketika panggilan darurat datang, mereka harus segera bergerak menghadapi situasi yang belum tentu dapat diprediksi.
Bagi masyarakat, keberhasilan petugas mungkin terlihat ketika kobaran api berhasil dipadamkan atau seseorang berhasil diselamatkan.
Namun, di balik setiap keberhasilan itu, terdapat kerja sama tim, latihan panjang, dan keputusan yang harus diambil dengan cepat serta penuh perhitungan.
Ada pula keluarga yang menanti kabar di rumah, berharap orang yang mereka cintai dapat kembali dengan selamat.
Sebab, bagi para petugas pemadam kebakaran dan penyelamatan, tugas bukan hanya tentang menaklukkan api atau menolong sesama. Tugas juga tentang memastikan setiap anggota regu dapat kembali pulang setelah mempertaruhkan tenaga, keterampilan, dan keberanian demi keselamatan orang lain.
Pewarta: Hamada
Penyunting: Alfen Hoesin
©tingkap.co 2026
