Surau Balenggek di Tanah Datar Terancam Roboh, Jejak Sejarah Taufik Kiemas dan Puan Maharani Menanti Perhatian
Ragam - Rabu, 21 Oktober 2026

Foto: Istimewa
Wali Nagari Edri Fauzen Dt. Kayo bersama masyarakat setempat berharap ada perhatian nyata dari berbagai pihak untuk menyelamatkan Surau Balenggek.
TANAH DATAR, TINGKAP.CO - Nasib Surau Balenggek di Jorong Sungai Ungkang, Nagari Sikabu, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, kian memprihatinkan.
Bangunan yang menyimpan jejak sejarah dan keterkaitan dengan tokoh politik nasional itu membutuhkan perhatian serius agar tidak roboh dan hilang ditelan zaman.
Di balik kondisi bangunannya yang memprihatinkan, Surau Balenggek menyimpan kisah panjang perjalanan sejarah masyarakat setempat. Surau ini juga memiliki keterkaitan dengan almarhum Taufik Kiemas, mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, serta putrinya, Puan Maharani, yang kini menjabat Ketua DPR RI.
Wartawan TINGKAP.CO menggali lebih jauh sejarah dan kondisi surau tersebut melalui wawancara dengan Wali Nagari Sungai Ungkang, Edri Fauzen Dt. Kayo, melalui pesan WhatsApp, Rabu (21/10/2026).
Edri mengungkapkan, sejak Taufik Kiemas dilewakan atau dikukuhkan sebagai Datuak Basa Batuah pada 2003, belum ada perhatian berarti dari Pemerintah Kabupaten Tanah Datar terhadap keberadaan Surau Balenggek.
Menurutnya, renovasi pernah dilakukan ketika Taufik Kiemas bersama keluarga berkunjung ke surau tersebut pada 2003. Namun, setelah itu, pemeliharaan bangunan lebih banyak mengandalkan swadaya keluarga.
"Sejak dilewakan pada 2003, belum ada perhatian dari pemerintah kabupaten terhadap Surau Balenggek. Renovasi pernah dilakukan saat kedatangan Taufik Kiemas dan keluarga. Sampai sekarang, belum ada bantuan dari donatur, sehingga pemeliharaan masih mengandalkan swadaya keluarga," ungkap Edri.
Puan Maharani Pernah Berkunjung dan Memberikan Bantuan
Keterkaitan Surau Balenggek dengan keluarga Taufik Kiemas bukan sekadar cerita. Menurut Edri, Puan Maharani pernah mengunjungi surau tersebut bersama ayahnya pada 2003.
Puan kembali memberikan bantuan pada 2017, ketika menjabat Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK).
Saat itu, bantuan sebesar Rp10 juta diberikan untuk keluarga surau, sedangkan Masjid Nagari Sikabu menerima bantuan Rp25 juta.
Meski pernah mendapat bantuan tersebut, kondisi Surau Balenggek saat ini masih membutuhkan perhatian. Masyarakat berharap kepedulian terhadap bangunan bersejarah itu dapat kembali tumbuh, baik dari pemerintah, para donatur, maupun perantau asal Tanah Datar.
Saksi Sejarah Perang Batipuh
Lebih dari sekadar tempat ibadah, Surau Balenggek memiliki nilai historis bagi kaum Datuak Kayo dan masyarakat Nagari Sikabu.
Edri menjelaskan, bangunan tersebut merepresentasikan rumah gadang milik kaum Datuak Kayo pada masa lampau. Rumah gadang itu dibakar oleh Belanda ketika berlangsung Perang Batipuh pada 1841.
Setelah peristiwa tersebut, bangunan yang memiliki keterkaitan dengan rumah gadang Datuak Kayo itu kemudian dikenal dengan nama Surau Balenggek.
Wali Nagari Edri Fauzen Dt. Kayo (Foto: Ist)
Bangunan tersebut dibangun kembali pada 1948, setelah masa pendudukan Jepang, dengan bentuk yang menyerupai rumah gadang Datuak Kayo pada zaman dahulu.
Jejak sejarah inilah yang membuat keberadaan Surau Balenggek memiliki arti penting bagi masyarakat setempat. Bangunan tersebut menjadi pengingat perjalanan kaum Datuak Kayo sekaligus bagian dari warisan sejarah dan budaya Minangkabau yang perlu dijaga.
Masyarakat Berharap Ada Kepedulian Sebelum Terlambat
Kini, kekhawatiran masyarakat semakin besar. Jika kondisi bangunan terus dibiarkan tanpa perbaikan, Surau Balenggek dikhawatirkan roboh dan jejak sejarah yang tersimpan di dalamnya ikut hilang.
Wali Nagari Edri Fauzen Dt. Kayo bersama masyarakat setempat berharap ada perhatian nyata dari berbagai pihak untuk menyelamatkan bangunan tersebut.
Harapan itu ditujukan kepada pemerintah, para donatur, serta perantau asal Tanah Datar. Secara khusus, masyarakat berharap Puan Maharani dapat kembali memberikan perhatian terhadap surau yang pernah dikunjunginya bersama sang ayah.
Bagi masyarakat setempat, menyelamatkan Surau Balenggek bukan semata-mata memperbaiki bangunan tua. Upaya tersebut merupakan bagian dari menjaga warisan sejarah, identitas kaum, dan kebudayaan Minangkabau agar tetap dapat dikenal oleh generasi mendatang.
Surau Balenggek kini menanti kepedulian bersama. Sebab, ketika sebuah bangunan bersejarah runtuh tanpa sempat diselamatkan, yang hilang bukan hanya bangunannya, melainkan juga sebagian jejak perjalanan sejarah masyarakat yang memilikinya.
Pewarta: Syahyetti Syamra
Penyunting: Alfen Hoesin
©tingkap.co 2026
