Wagub Banten: Suara Ayam Pelung Jadi Simbol Persatuan, Jangan Dicampur Judi!

Ragam - Minggu, 25 Oktober 2026

261026192106-wagub.jpg

Dok. Diskominfo Banten

Dimyati menghadiri kontes Suara Ayam Pelung yang digelar Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung (HIPPAP) Nusantara Provinsi Banten di Teras Kaibon Kota Serang, Minggu (25/10/2026).

SERANG, TINGKAP.CO - Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah mengajak masyarakat memperkuat persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman suku, budaya, dan latar belakang.

Menurutnya, perbedaan bukan penghalang untuk bersatu, melainkan kekuatan yang membuat kehidupan berbangsa semakin indah.

Pesan tersebut disampaikan Dimyati saat menghadiri kontes Suara Ayam Pelung yang digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung (HIPPAP) Nusantara Provinsi Banten di Teras Kaibon, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Minggu (25/10/2026).

Dalam kesempatan itu, Dimyati mengibaratkan keberagaman masyarakat Indonesia seperti suara ayam pelung yang memiliki keunikan tersendiri. Meski berbeda dari ayam pada umumnya, suara ayam pelung justru memiliki daya tarik dan keindahan yang khas.

"Begitu pula dengan persatuan. Kita semua ini anak bangsa. Meski berbeda-beda suku, kita disatukan oleh NKRI. Persatuan itu indah manakala di dalamnya banyak perbedaan," kata Dimyati.

Ia menjelaskan, secara fisik ayam pelung mungkin tidak jauh berbeda dari ayam lainnya. Namun, keistimewaannya baru terasa ketika ayam tersebut bersuara.

Menurut Dimyati, filosofi itu menggambarkan bahwa setiap perbedaan memiliki nilai dan keunikan yang dapat memperkaya kehidupan bersama.
 
Selain mengajak masyarakat menjaga persatuan, Dimyati juga mendukung pelestarian kontes ayam pelung sebagai bagian dari kekayaan budaya dan kearifan lokal.

Ia berharap kegiatan yang mempertemukan para peternak dan penggemar ayam pelung tersebut dapat terus dilaksanakan sehingga tradisi ini semakin dikenal masyarakat luas.

Namun, Dimyati mengingatkan agar kontes ayam pelung tidak disalahgunakan untuk kegiatan yang melanggar hukum, terutama perjudian.

"Misalnya, dijadikan ajang judi. Itu tidak boleh. Ini harus dilestarikan karena keunikannya," tegasnya.

Sebagai bentuk dukungan terhadap komunitas pecinta ayam pelung, Dimyati turut memberikan tambahan hadiah bagi para pemenang.

Sebelumnya, panitia telah menyiapkan hadiah berupa domba untuk peserta yang berhasil meraih juara.

Kontes tersebut diikuti puluhan peserta, tidak hanya dari berbagai wilayah di Provinsi Banten, tetapi juga dari luar daerah, termasuk Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Antusiasme peserta menunjukkan bahwa kontes ayam pelung bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan juga menjadi wadah silaturahmi, mempererat persaudaraan, serta melestarikan keunikan ayam pelung di tengah masyarakat.

Pewarta: Sofyandri Triyadi R
Penyunting: Dewi Apriatin
©tingkap.co 2026