Jangan Malu Menjadi Muslim! Saatnya Umat Islam Amerika Tampil dan Menjadi Solusi Dunia

Internasional - Sabtu, 31 Oktober 2026

261031221346-janga.jpg

Foto: IG Imam Shamsi Ali

Imam Shamsi Ali (kanan) bersahabat baik dengan Wali Kota New York City, Zohran Mamdani.

                Oleh: Shamsi Ali Al-Nuyorki

Sudah terlalu lama komunitas Muslim di Amerika hidup dalam keraguan, bahkan merasa malu untuk menampilkan identitas keislamannya di tengah masyarakat.

Fenomena ini bukan muncul begitu saja. Ada luka panjang akibat tekanan Islamofobia yang sistematis, terutama setelah tragedi 11 September 2001 (9/11).

Selama lebih dari dua dekade, Muslim Amerika kerap dibingkai sebagai ancaman, diawasi, dicurigai, bahkan disudutkan.
Akibatnya, tidak sedikit Muslim yang memilih jalan aman dengan menyembunyikan identitas keislamannya.

Atas nama menjaga hubungan baik, toleransi, dan keinginan untuk diterima, sebagian umat memilih tidak terlalu menonjolkan simbol maupun identitas keislamannya.

Kita pernah berpikir bahwa jika tidak terlalu terlihat sebagai Muslim, tekanan dan diskriminasi itu akan berkurang.
Ternyata, kita keliru.
Sikap defensif, rasa malu, dan ketakutan tidak serta-merta menghentikan Islamofobia.

Sebaliknya, fenomena tersebut masih terus berkembang dan dalam pandangan saya bahkan semakin nyata dalam ruang politik dan kebijakan publik Amerika.

Karena itu, sudah saatnya kita mengubah sikap. Umat Islam tidak boleh terus-menerus bersembunyi atau merasa harus meminta maaf atas identitas keislamannya.

Dalam konteks ini, kita patut memberikan apresiasi kepada saudara-saudara kita yang berani mendobrak tembok ketakutan tersebut.

Kita melihat sosok Zohran Mamdani di New York City, Abdul El-Sayed di Michigan, serta sejumlah pemimpin Muslim lainnya di berbagai wilayah Amerika yang tampil percaya diri dengan identitas keislamannya sekaligus mengambil bagian dalam perjuangan politik dan kehidupan publik.

Mereka memberikan pesan penting: seseorang bisa menjadi Muslim sepenuhnya sekaligus menjadi warga Amerika yang sepenuhnya.Tidak ada pertentangan antara keduanya.
 
Ketika saya berbicara tentang tampil dengan Islam, yang saya maksud bukan sekadar aspek ritualistik atau simbol-simbol lahiriah seperti pakaian, janggut, sorban, dan sebagainya. Semua itu tentu memiliki tempat tersendiri sebagai bagian dari syiar Islam.

Namun, yang jauh lebih penting adalah bagaimana umat Islam menghadirkan nilai-nilai Islam yang mendasar dan universal, nilai-nilai yang menyentuh inti kemanusiaan.

Dunia hari ini sedang menghadapi berbagai persoalan serius. Krisis ekonomi yang mencekik, polarisasi politik yang memecah belah masyarakat, krisis keamanan, perubahan iklim, krisis moral, hingga merosotnya rasa kemanusiaan di tengah tragedi kemanusiaan yang disaksikan dunia secara langsung.

Semua persoalan itu membutuhkan jawaban. Lebih dari itu, dunia membutuhkan komitmen moral untuk mencari jalan keluar.

Di sinilah urgensi kehadiran umat Islam.
Dengan jumlah yang mendekati dua miliar jiwa atau sekitar seperempat penduduk dunia, umat Islam seharusnya tidak menjadi penonton. Kita harus hadir membawa sikap, memberikan respons, dan menawarkan solusi.

Inilah pesan utama yang ingin saya sampaikan: Islam harus ditampilkan tanpa keraguan, tanpa rasa malu, dan tanpa ketakutan.

Bukan melalui identitas yang kaku, eksklusif, atau sektarian, melainkan melalui nilai-nilai universal yang menjadi kebutuhan seluruh umat manusia.

Nilai-nilai itu adalah keadilan, kasih sayang, kejujuran, dan keberpihakan kepada mereka yang lemah serta tertindas.
Islam Adalah Keberpihakan kepada yang Terzalimi

Ketika kita membela masyarakat yang mengalami penindasan di berbagai belahan dunia, seperti di Kashmir, India, Turkestan Timur, Rohingya, Sudan, dan terutama Gaza, Palestina, perjuangan tersebut bukan semata-mata aktivisme politik.

Bagi seorang Muslim, keberpihakan kepada korban ketidakadilan merupakan bagian penting dari keimanan.
Membela kebenaran, menegakkan keadilan, dan memperjuangkan kemanusiaan adalah ajaran fundamental Islam.

Rasulullah SAW mengajarkan agar kita menolong saudara yang berbuat zalim maupun yang dizalimi. Menolong orang yang zalim berarti mencegahnya melakukan kezaliman, sedangkan menolong orang yang dizalimi berarti membebaskannya dari penindasan.

Karena itu, sudah saatnya umat Islam bangkit dan menyatakan identitasnya dengan penuh keyakinan, sebagaimana ditegaskan Allah Subhanahu wa ta'ala dalam Al-Qur'an:

"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata: Sungguh, aku termasuk orang-orang Muslim." (QS. Fussilat: 33).

Innanii Minal Muslimin: Sesungguhnya Aku Seorang Muslim.
Kita membela Gaza bukan karena kita orang Arab. Kita membela masyarakat Uyghur bukan karena kita orang Cina. Kita membela mereka karena kita Muslim. Pembelaan terhadap mereka yang tertindas adalah bagian dari amanah keimanan.

Prinsip yang sama harus kita terapkan dalam kehidupan masyarakat Amerika sendiri.

Ketidakadilan ekonomi, ketika sebagian kecil kelompok menguasai kekayaan sementara jutaan orang kesulitan membayar sewa rumah, merupakan persoalan serius.

Begitu pula rasisme sistemik, mahalnya biaya perumahan, upah yang tidak layak, dan terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan.

Semua itu merupakan persoalan keadilan sosial yang membutuhkan perhatian dan perjuangan bersama.

Di sinilah kita melihat bagaimana nilai-nilai Islam dapat dihadirkan dalam kehidupan politik dan kebijakan publik.
Ketika Nilai Islam Hadir dalam Kebijakan Publik

Salah satu contoh yang menarik adalah kiprah Zohran Mamdani di New York City.
Gagasan kebijakan yang diperjuangkannya, seperti layanan bus gratis, pembekuan kenaikan sewa bagi kelompok penyewa tertentu, serta penitipan anak gratis, dapat dilihat dari perspektif keadilan sosial.

Bagi saya, nilai-nilai yang terkandung dalam gagasan tersebut sejalan dengan prinsip Islam tentang keberpihakan kepada masyarakat kecil.

Islam mengajarkan bahwa seorang pemimpin adalah pelayan masyarakat. Dalam harta terdapat hak orang-orang miskin. Keadilan tidak boleh hanya menjadi milik mereka yang memiliki kekuasaan dan kekayaan, tetapi harus dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Tentu, kebijakan publik tetap perlu dinilai berdasarkan manfaat, kelayakan, dan dampaknya bagi masyarakat. Namun, keterlibatan Muslim dalam memperjuangkan kebijakan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat merupakan salah satu bentuk aktualisasi nilai keislaman di ruang publik.

Dengan demikian, menjadi Muslim bukan sekadar identitas pribadi atau urusan ritual di tempat ibadah. Keislaman juga harus tercermin dalam sikap, keputusan, dan kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat.

Keberpihakan kepada rakyat kecil bukan sekadar pilihan politik. Ia juga merupakan tanggung jawab moral dan keagamaan.
Dunia Merindukan Islam
Maka, wahai saudara-saudaraku Muslim Amerika,

Jangan lagi ragu. Jangan lagi malu. Apalagi takut untuk tampil dengan identitas Islam.
Jangan sembunyikan cahaya keislaman di bawah meja. Dunia hari ini sedang menghadapi berbagai kegelapan akibat konflik, ketidakadilan, kebencian, dan hilangnya kepedulian terhadap sesama.

Dunia membutuhkan cahaya nilai-nilai kemanusiaan yang dibawa Islam.
Dunia tidak sedang menunggu perdebatan fikih kita yang bersifat khilafiyah. Dunia membutuhkan keadilan Islam, kasih sayang Islam, kejujuran Islam, dan keberanian umat Islam untuk berdiri bersama mereka yang tertindas.

Kita tidak harus menjadi mayoritas untuk memberikan kontribusi. Kita tidak harus memiliki kekuasaan untuk memperjuangkan keadilan. Dan kita tidak perlu menyembunyikan identitas keislaman untuk dapat hidup berdampingan dengan masyarakat yang berbeda.

Justru dengan identitas dan nilai-nilai itulah kita dapat memberikan sumbangsih terbaik bagi kehidupan bersama.
Sudah saatnya umat Islam tampil dengan penuh percaya diri, mengambil bagian dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan kemanusiaan, serta membuktikan bahwa kehadiran Islam membawa manfaat bagi semua.

Saatnya kita berdiri tegak dan menyampaikan kepada dunia:
Kami Muslim. Kami bangga dengan identitas kami. Dan kami hadir bukan untuk menjadi bagian dari masalah, melainkan menjadi bagian dari solusi.
Innanii Minal Muslimin!

Washington, D.C., 31 Oktober 2026

Pewarta:
Penyunting: Alfen Hoesin
©tingkap.co 2026