Hashim Peringatkan Dolar AS Bisa Tembus Rp22.000, Sebut Ancaman Serius bagi Ekonomi Indonesia

Ekbis - Minggu, 1 November 2026

261102110306-hashi.jpg

Foto: IG Hashim Djojohadikusumo

Nilai tukar rupiah berpotens menembus Rp22.000 per dolar AS. Peringatan serius tersebut disampaikan Hashim Djojohadikusumo dalam Rapimnas Kadin Indonesia di Jakarta.

JAKARTA, TINGKAP.CO - Nilai tukar rupiah berpotensi tertekan hingga menembus Rp22.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Peringatan serius tersebut disampaikan Hashim Djojohadikusumo dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Adik Presiden Prabowo Subianto yang juga menjabat Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi sekaligus Ketua Dewan Penasihat Kadin itu mengingatkan, persoalan transparansi pasar modal Indonesia dan rencana perubahan klasifikasi pasar saham oleh lembaga indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) berpotensi menimbulkan tekanan serius terhadap perekonomian nasional.

Hashim secara terbuka mengungkapkan perhitungannya mengenai kemungkinan pelemahan rupiah apabila investor asing menarik modalnya dari pasar keuangan Indonesia.

"Saya sudah hitung bisa Rp20.000 sampai Rp21.000. Ada yang bilang Rp22.000 per dolar AS. Kalau itu terjadi, ini bisa jadi bencana dan malapetaka bagi ekonomi Indonesia," ungkap Hashim.
 
Peringatan Hashim tidak terlepas dari langkah MSCI yang pada 15 Oktober 2026 mengumumkan konsultasi mengenai usulan perubahan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market (pasar berkembang) menjadi Standalone Market.

MSCI menyoroti sejumlah persoalan mendasar di pasar modal Indonesia, terutama transparansi struktur kepemilikan saham, keterbukaan informasi, dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, serta persoalan jumlah saham yang beredar di publik atau free float.

Jika usulan perubahan klasifikasi tersebut akhirnya disetujui, Hashim mengkhawatirkan kepercayaan investor global terhadap pasar modal Indonesia akan semakin tertekan.
Dampaknya, investor asing berpotensi menarik investasinya secara besar-besaran atau dikenal dengan istilah capital outflow.

Keluarnya modal asing tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

Menurut Hashim, pelemahan rupiah juga akan meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri karena pemerintah maupun perusahaan harus menyediakan lebih banyak rupiah untuk membayar kewajiban dalam mata uang asing.
 
Hashim mengungkapkan bahwa dirinya mendapat penugasan langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk membantu mengantisipasi persoalan tersebut.

Dia bersama CEO Danantara, Rosan Roeslani, turut membahas langkah-langkah mitigasi guna menjaga kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

Hashim juga mengingatkan para pengusaha, khususnya anggota Kadin, agar tidak terlibat dalam praktik manipulasi harga saham atau yang dikenal dengan istilah saham gorengan.

Menurutnya, saham dengan porsi kepemilikan publik yang terbatas tetapi memiliki valuasi harga tidak wajar dapat merusak kepercayaan investor.

Dia meminta praktik perdagangan saham yang tidak sehat segera dihentikan agar integritas pasar modal Indonesia tetap terjaga.
 
Meski demikian, ancaman rupiah menuju Rp22.000 tersebut bukanlah prediksi bahwa pelemahan itu pasti terjadi.
Angka tersebut merupakan skenario risiko terburuk yang disampaikan Hashim apabila terjadi arus keluar modal asing dalam skala besar.

MSCI sendiri masih menjalankan proses konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi pasar Indonesia.
Berdasarkan pengumuman resminya, MSCI membuka kesempatan bagi pelaku pasar untuk menyampaikan masukan hingga 30 April 2027. Keputusan akhir mengenai status pasar saham Indonesia akan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.

Artinya, masih terdapat kesempatan bagi otoritas Indonesia untuk melakukan pembenahan dan meyakinkan investor global mengenai perbaikan tata kelola pasar modal nasional.
 
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) merespons kekhawatiran mengenai kemungkinan pelemahan rupiah tersebut.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan bahwa bank sentral akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Menurut Destry, pergerakan rupiah dipengaruhi banyak faktor, mulai dari keseimbangan permintaan dan penawaran hingga persepsi pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi global dan domestik.
Dia juga menilai fundamental ekonomi Indonesia relatif terjaga dibandingkan sejumlah negara lain.

Dengan demikian, peringatan Hashim mengenai potensi dolar AS mencapai Rp22.000 menjadi pengingat pentingnya menjaga kepercayaan investor, memperbaiki transparansi pasar modal, serta memperkuat fundamental perekonomian nasional.

Sebab, stabilitas rupiah bukan hanya berkaitan dengan nilai tukar mata uang, tetapi juga berpengaruh terhadap kemampuan membayar utang luar negeri, dunia usaha, investasi, dan daya tahan ekonomi Indonesia.

Pewarta: Hamada
Penyunting: Alfen Hoesin
©tingkap.co 2026