Tak Hanya Keturunan Tionghoa, Pusat Belajar Mandarin di Bandung Terbuka untuk Semua

Pendidikan - Kamis, 5 November 2026

261106121444-tak-h.jpg

Dok. Diskominfo Kota Bandung

Pusat pembelajaran bahasa Mandarin diresmikan oleh Wakil Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Zheng Jie, di Pusat Kebudayaan Indonesia Tionghoa, Jalan Nana Rohana, Kota Bandung, Kamis (5/11/2026).

BANDUNG, TINGKAP.CO - Kota Bandung kembali memperkuat posisinya sebagai kota pendidikan sekaligus pusat keberagaman budaya. Kali ini, Bandung memiliki Pusat Pembelajaran Bahasa Mandarin Priangan yang diharapkan menjadi jembatan pertukaran pendidikan dan kebudayaan antara Indonesia dan Tiongkok.

Pusat pembelajaran tersebut diresmikan oleh Wakil Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Zheng Jie, di Pusat Kebudayaan Indonesia Tionghoa, Jalan Nana Rohana, Kota Bandung, Kamis (5/11/2026).

Peresmian itu turut dihadiri Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dan Koordinator Kegiatan Masyarakat Tionghoa Peduli sekaligus Ketua Yayasan Dana Sosial Priangan (YDSP), Herman Widjaja.

Fasilitas pendidikan ini hadir berkat dukungan hibah Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Kehadirannya diharapkan membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk mempelajari bahasa Mandarin sekaligus mengenal kebudayaan Tiongkok.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyambut positif kehadiran pusat pembelajaran tersebut. Menurutnya, kemampuan menguasai bahasa asing merupakan modal penting untuk memperluas wawasan, meningkatkan pengetahuan, dan mengembangkan kecerdasan masyarakat.

"Pengetahuan bahasa, khususnya bahasa asing, akan menambah khazanah kecerdasan orang Bandung untuk belajar bahasa asing," kata Farhan.

Ia menilai, pusat pembelajaran bahasa Mandarin juga menjadi bagian dari diplomasi antarwarga atau people-to-people diplomacy. Melalui pendekatan ini, hubungan antarnegara tidak hanya dibangun melalui jalur resmi pemerintahan, tetapi juga melalui interaksi langsung, persahabatan, dan pertukaran kebudayaan masyarakat.

Farhan berharap fasilitas tersebut semakin mempererat hubungan masyarakat Kota Bandung dengan masyarakat Tiongkok. Terlebih, Bandung telah menjalin hubungan baik dengan sejumlah kota di Tiongkok melalui kerja sama sister city.

Bahkan, Pemerintah Kota Bandung membuka peluang bagi aparatur sipil negara (ASN) untuk ikut memanfaatkan fasilitas tersebut guna mempelajari bahasa Mandarin.

"Kita coba saja. Nanti kita lihat kalau memang memungkinkan kenapa tidak? Pengetahuan bahasa asing tentu sangat berguna. Apalagi bahasa Mandarin merupakan bahasa internasional yang digunakan di banyak negara," ujarnya.

Farhan juga melihat keberadaan pusat pembelajaran ini sebagai peluang untuk memperkaya ekosistem pendidikan di Kota Bandung, terutama dalam mendorong pertukaran pelajar dan mahasiswa antara Indonesia dan Tiongkok.

Mahasiswa asal Tiongkok yang ingin menempuh pendidikan di Bandung dapat memanfaatkan fasilitas tersebut untuk mempelajari bahasa Indonesia. Sebaliknya, mahasiswa Indonesia yang berencana melanjutkan pendidikan ke Tiongkok juga bisa terlebih dahulu belajar bahasa Mandarin di Bandung.

"Ini adalah sebuah bentuk pertukaran yang akan sangat memberikan prospek baik di masa depan," ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Zheng Jie, menegaskan bahwa Pusat Pembelajaran Bahasa Mandarin Priangan terbuka bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa membedakan latar belakang maupun usia.

Kesempatan belajar tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat keturunan Tionghoa, tetapi juga terbuka bagi masyarakat umum, generasi muda, hingga aparatur sipil negara.

"Siapa pun, baik warga keturunan Tionghoa maupun saudara-saudara warga Indonesia, mulai dari anak muda hingga pegawai negeri, selama mencintai bahasa Mandarin dapat mendaftar dan belajar di sini," tuturnya.

Kehadiran pusat pembelajaran ini diharapkan menjadi ruang pertemuan lintas budaya sekaligus membuka peluang baru di bidang pendidikan, ekonomi, dan hubungan masyarakat Indonesia-Tiongkok.

Pewarta: Hamada
Penyunting: Alfen Hoesin
©tingkap.co 2026