Indria Ningsih: Sekolah Perlu Membangun School Branding

Pendidikan - Sabtu, 12 April 2025

250413103839-indri.jpg

istimewa

Pentingnya penguasaan teknologi informasi dengan platform digital untuk mengembangkan lembaga pendidikan untuk dapat bersaing di tengah zaman yang kompetitif dan serba cepat

BANDUNG, TINGKAP.CO – Lembaga pendidikan saat ini perlu memahami dan menggunakan piranti digital seperti media sosial dan sebagainya. Hal ini dianggap penting karena dapat memudahkan atau mempercepat proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

Bahkan platform digital dapat membuat, secara keseluruhan dunia pendidikan akan terbantu dalam mensosialisasikan lembaga pendidikan di tengah persaingan ketat di semua aspek kehidupan saat ini. Hal ini terungkap dalam Web Seminar (Webinar), Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Sekolah Dagang Islam (SDI), Sabtu (12/4/2025). Acara yang menampilkan praktisi pendidikan Indria Ningsih, S.Pd.I., M.Ak sebagai Keynote Speaker itu berlangsung selama 2 jam 30 menit.

Baca juga: Mengapa Pendidikan di Finlandia Unggul ?

Dalam seminar yang juga diikuti  oleh Ketua Yayasan SDI, Irlan Muhammad, Ketua Persatuan Kaluarga Silungkang (PKS) di Jakarta, Ir, Yeri Idrus, Ketua Ikatan Alumni (IKA) SDI, Mahir Syarifudin dan beberapa tokoh lainnya itu terungkap begitu pentingnya school branding dan peranan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi dalam pengelolaan lembaga pendidikan.

Indria Ningsih mengungkap kiat-kiat untuk membangun sebuah lembaga pendidikan yang mempertahankan spesifikasinya seperti SDI. Menurut praktrisi pendidikan berdarah asli Silungkang yang lahir dan dibesarkan di Bandung itu, ada 5 ciri Sekolah Unggul di Era Digital.

“Pertama pemanfaatan teknologi digital, kedua kurikulum yang inovatif dan kekhasan, ketiga fokus pada keterampilan abad ke-21, keempat pengembangan minat dan bakat, dan yang terakhir adalah kolaborasi dan partisipatif,” paparnya.

Perempuan karir yang akrab disapa Ningsih itu mengungkap langkah-langkah strategis yang bisa menggabungkan atau mengintegrasikan dalam pembelajaran dan harmonisasi Teknoligi dengan metodaTradisional.

Dilanjutkan Ningsih, selain itu juga ada pelatihan dan pengembangan guru/SDM, peningkatan literasi digital dan penggunaan teknologi bijak bagi siswa, adaptasi dan inovasi, pendidikan karakter dan life skill, supervisi dan evaluasi sistem, dan yang terakhir mengembangkan infrastruktur teknologi.

Ningsih menyorot kondisi SDI terkini sudah pada tracknya. “Mempertahankan kekhasan sebuah lembaga pendidikan adalah daya tarik tersendiri  dari pada kita mengikuti sistem pendidikan disekolah-sekolah negeri. Saya merasa bangga setelah mendengarkan pemaparan kepala sekolah.Ternyata sebagian apa yang saya sampaikan diawal sudah berjalan di SDI. Juga dalam mempertahankan mata pelajaran hitung dagang dan tata buku”, pungkas putra kedua dari pasangan almarhum Indra Sukma dan Risfa Aris ini dengan bangga.

Dalam Webinar bertajuk “Modenisasi Pendidikan SDI, Menjawab Tantangan di Era Digital” itu, Ningsih merasa bersyukur diakui sebagai orang Silungklang asli kendati dia dilahirkan dan dibesarkan di Bandung. Ia berjanji akan menyumbangkan pikiran-pikirannya untuk kemajuan sekolah yang juga almamater orang tuanya.

Sementara Ketua Yayasan SDI, Irlan Muhamad menyampaikan kondisi sekolah terkini baik SMP/SDI maupun SMA/SDI yang masih banyak kekurangannya. Mantan anggota DPRD Kota Sawahlunto ini berterima kasih atas masukan-masukan yang disampaikan dalam seminar itu.

Baca juga: Bocah Jenius "Dewa Matematika"

Irlan juga mengaku sudah menghubungi Universitas Putra Indonesia (UPI) di Padang dan PT. Tambang Bukit Asam untuk bisa mendapatkan bantuan dari Coorporate Social Responsibility (CSR) untuk menunjang dalam pengelolaan lembaga pendidikan yang sudah berusia 85 tahun itu.

Hal senada juga disampaikan Ketua IKA SDI, Mahir Syarifudin dan Ketua Persatuan Keluarga Silungkang, Jakarta, Yeri Idrus yang berterima kasih atas kontribusi pemikiran-pemikiran yang disampaikan dalam seminar tersebut.

Sekolah Dagang Islam

Sekolah Dagang Islam (SDI) merupakan manifestasi dari konferensi anak Nagari Silungkang, Kota Sawahlunto , Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 12 Agustus 1939.

Pada awalnya Yayasan Sekolah Dagang Islam ini bernama Limaoe Poeroet Institoet, diajarkan antara lain: Agama Islam, dan hukum dagang Islam, tata buku atau akuntansi, steno dan memulai proses belajar pada tanggal 1 Agustus 1940 yang dijadikan sebagai hari kelahiran lembaga pendidikan setingkat SMP yang lahir sebelum Indonesia merdeka itu.

Berselang setahun setelah dimulainya proses kegiatan belajar mengajar di Limaoe Poeroet Institoet, sekolah ini mendapat usulan pergantian nama menjadi Siloengkang Institoet. Pergantian nama menjadi Siloengkang Institoet karena Limaoe Poeroet Institoet dianggap terlalu khusus.

Pada tahun 1942, Siloengkang Institoet berubah nama menjadi Sekolah Dagang Islam (SDI) disesuaikan dengan niat awal pendirian sekolah yaitu mendirikan sekolah dagang.

Diawal pendiriannya Yayasan, Sekolah Dagang Islam diketuai oleh Noerdin Muhammad yang menjabat dari tahun 1972 sampai 1991. Pada tahun 1978, Noerdin Muhammad membangun ruang guru dan mendirikan laboratorium IPA. Selain menambah fasilitas sarana sekolah, beliau juga membenahi sistem manajemen sekolah dan menambah staf pengajar yang berstatus PNS untuk meningkatkan kualitas sekolah.

Di awal kemerdekaan Indonesia sekira tahun 1947 Wakil Presiden Bung Hatta sengaja menyambangi Silungkang. Hal ini karena banyak pejuang Kemerdekaan dari Silungkang yang di buang ke Bouven Digul, Merauke yang membantu bung Hatta di pengasingan ufuk Timur Nusantara itu. Bung Hatta dalam pesannya kepada tokoh tokoh Silungkang mengatakan kesadaran pendidikan adalah mulainya kesadaran jati diri bangsa. Bung Hatta berpesan untuk mempertahankan bentuk lembaga pendidikan dagang seperti SDI. Semoga !

Pewarta: Alfen Hoesin
Penyunting: Alfen Hoesin
©tingkap.co 2025