Pameran Tunggal

Sapuan Imajinatif Hendra Buana

250204123611-sapua.jpg

@tingkap/Alfen Hoesin

Hendra Buana sedang menjelaskan salah satu karya lukisannya kepada Menteri Kebudayaan, Fadli Zon (2/2/2025)

JAKARTA, TINGKAP.CO - Hamparan suasana desa dengan nuansa lanskap yang menyeret batin ke alam imajinasi sangat terasa di hampir setiap lukisan Hendra Buana (HB) dalam “Pameran Tunggal Karya Masterpeace Hendra Buana”, di Neo Gallery, Jalan Tanah Abang IV 23-25, Gambir, Jakarta Pusat. 

Kerincian sapuan rasa nan tertuang di atas canvas yang rata-rata berukuran besar, tampak menghiasi 53 lukisan sang maestro memenuhi lantai 2 ruang pamer dengan pencahayaan sempurna. Pameran tunggal pelukis yang sudah 40 tahun malang melintang dibelantara perupa nasional  ini akan berlangsung selama  15 hari.

Kendati puluhan tahun bermukim di kota Yogyakarta, Hendra adalah pelukis yang dikenal kuat pengaruh Islam dan Minangkabaunya. Pria kelahiran Koto Tangah Hilir, Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat ini dikenal sebagai pelukis kaligrafi Arab terbaik di Indonesia.

Menurut Sri Sultan Hamengkubuwono X, Hendra Buana adalah pelukis yang berprestasi baik nasional maupun di tingkat Internasional.

“Kita harus memunculkan pikiran-pikiran yang cemerlang, dinamis dan original. Yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Untuk itu kita belajar dari cara maestro  seni lukis dan kaligrafi Hendra Buana,” ujar Sri Sultan Hamengkubuwono X pada suatu kesempatan pembukaan pameran tunggal Hendra Buana di Yogyakarta, 12 tahun silam.

Tidak hanya itu, Hendra juga mengeksplorasi beragam media untuk mengejawantahkan ide-ide yang berdesakan dalam batinnya. Banyak objek lanskap dieksplorasi dengan liar oleh seniman yang juga bisa meniup saluang (alat musik tiup khas Minangkabau) ini.

Kritikus seni Agus Dermawan T menilai hasil karya Hendra Buana  adalah kemampuannya menyulam bentuk abstrak dan warna-warni yang dipengaruhi warna provokatif seni hias dan busana Minangkabau.

Agus memaparkan salah satu hasil karya ayah dari Rangga Anugrah Putra dan Azzahra Art Dewinda ini tentang kekuatan imajinasi sang pelukisnya. Ambil misal lukisan bertajuk “Dulu, Kini, dan Nanti”.

Sebentang negeri imajinatif (Foto: Ist)

Menurut Agus Dermawan, lukisan tersebut  menggambarkan sebentang negeri antah berantah. Dinegeri berlangit putih dan dibalut warna monokrom kelabu kebiruan itu tampak sekelebatan candi Prambanan dan Gapura Bali. Di kejauhan muncul deretan stupa Borobudur. Ditengah bidang lukisan bersitegak piramid dengan strukturnya yang meleleh.

Diatas piramid bertengger rumah bagonjong Minangkabau meruncing  estetis menghujam langit. Nun jauh dilatar belakang terlihat sepotong Bukit Barisan. Sementara pada bagian depan terbentang jembatan.

Agus Dermawan menilai lukisan tersebut sebagai lukisan dinamis dan berdaya semangat bak menggambarkan kebesaran peradaban masa silam yang menyatu, serta menjadi energi bagi manusia sekarang, untuk mendirikan masa depan yang gemilang.

Lukisan ukuran 3x10 m (Foto: @tingkap/Alfen Hoesin)

Sementara kurator, Dio Pamola C menyebut karya-karya Hendra Buana merefleksikan kedalaman pemikiran dan kepekaan terhadap fenomena alam serta budaya mengelilinginya. Tengok misalnya karya HB bertajuk , “Kabut Sutra di Lembah Sianok”. Lukisan ini adalah sebuah perayaan narasi visual yang mengajak penikmat seni untuk memasuki dimensi imajinasi yang kaya dan mendalam.

Dilatar depan lukisan ini terlihat dua sosok perempuan yang sedang mengambil air di pancuran, khasnya suasana desa yang damai. Di belakangnya terlihat juga ada seorang petani yang berjalan dipematang sawah memanggul cangkul dan membawa keranjang berisi hasil bumi.

Di sekitar mereka, terdapat aliran air terjun kecil yang jernih, dengan percikan air yang mengalir ke sungai di bawahnya. Sebatang pohan besar dengan dedaunan berwarna merah menyala berdiri kokoh di sisi kiri, memberi elemen visual yang mencolok.

Sebuah perahu sampan terlihat mengapung di telaga di samping sungai yang mengalir dengan tenang, menambah detail aktivitas keseharian dalam lanskap ini. Di bagian tengah hingga latar belakang, terlihat pula rumah tradisional Minangkabau dengan atap bagonjong yang khas berdiri megah diatas tebing yang terlihat seperti bahtera.

Kurator Dio memberi makna dalam tentang lukisan berukuran besar ini. Menurut Dio, kabut dalam lukisan ini dipahami sebagai simbol transendensi, menggambarkan batas antara dunia nyata dengan alam spiritual. Kabut ini menciptakan suasana misterius yang mengundang penonton untuk merenungkan makna tersembunyi di balik keindahan alam Ngarai Sianok.

Sebagai metafora, lanjut Dio, kabut melambangkan ketidakpastian dan kedalaman spiritual mengajak kita untuk melampaui apa yang tampak di permukaan dan mengeksplorasi esensi yang lebih dalam dari kehidupan dan alam.

Hasil karya alumni Akademi Seni Rupa Indonesia (sekarang ISI) Yogyakarta 1990 ini dikoleksi banyak tokoh dan kolektor lukisan diantaranya, Sultan Brunai Hasanah Bulqiah, pengusaha Hasyim Djoyohadikusumo, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Fadli Zon, David Sunar Handoko Merpati Motor Yogyakarta (kolektor Harley Davidson), Siti Herdianti Indra Rukmana alias Mbak Tutut, mantan Wapres Try Sutrisno, Haryanto Danutirto, Tarmizi Taher, Firdaus Alamhudi, Yeni Rahman, Reni Jayusman dan sederet nama besar lainnya. Hasil penelusuran TINGKAP.CO di Bandung juga ada belasan hasil karyanya di koleksi kolektor lukisan di kota yang dijuluki Parijs Van Java ini. Jadwal pelelangan lukisan akan diselenggarakan pada tanggal 9 Februari 2025.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon dalam sambutan pembukaan mengatakan kebesaran bangsa Indonesia dengan peningggalan baik itu sejarah arkeologi maupun peninggalan seni lainnya membuktikan kebesaran bangsa kita sejak ribuan tahun silam.

“Banyak lukisan diatas batu seperti berbentuk tangan, binatang dan lainnya di berbagai tempat di nusaantara membuktikan bangsa kita sudah besar budayanya sejak dulu”, ujar Fadli Zon.

Tampak hadir di acara tersebut mantan Ketua IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) Dewi Motik Pramono, mantan Duta Besar RI untuk Meksiko Komjen Pol. (Purn) Ahwil Luthan, mantan Wakil Menteri Pendidikan Profesor Fasli Jalal, Ph.D dan beberapa tokoh penting lainnya.

 

Pewarta: Alfen Hoesin
Penyunting: Alfen Hoesin
Pengunjung: 465
©2025 tingkap.co

Komentar