Nasionalisme

Dialog Imam Shamsi Ali dengan Demonstran Papua Merdeka di New York Berujung Tegang

NEW YORK, TINGKAP.CO - Kendati sudah puluhan tahun bermukim di Kota New York, Amerika Serikat, darah nasionalisme Imam Shamsi Ali tak memudar. Hal inilah yang terjadi baru-baru ini.

Ia sempat geram terhadap seorang demonstran pro Papua merdeka di New York. Ia pun menceritakan pengalamannya yang menegangkan itu. Dikatakannya kejadian itu terjadi usai menjadi khatib khutbah Jum'at di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

"Saya melewati pendemo sebatang kara yang kesepian di pinggir jalan 42 dan 4 Avenue, Manhattan berpapasan dengan seorang demonstran yang menyuarakan kemerdekaan Papua dari Indonesia. Saya tidak tahan dan mendatanginya, maka terjadilah dialog panas itu," tuturnya menceritakan suasana saat itu.

Kepada TINGKAP.CO melalui pesan WhatsApp, Senin (28/9/2026), ulama asal Bulukumba, Sulawesi Selatan itu menceritakan percakapannya dengan demonstran tersebut.

Shamsi Ali mengaku mempertanyakan alasan tuntutan kemerdekaan Papua yang salah satunya dikaitkan dengan persoalan hak asasi manusia (HAM).

Baca juga: Seruan untuk Menjaga Planet dan Taubat Global Untuk Lingkungan Hidup

Ia kemudian menyinggung posisi Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) RI Natalius Pigai yang merupakan putra Papua.

Menurut Shamsi Ali, ketika dirinya mempertanyakan hal itu, demonstran tersebut menjawab bahwa Pigai hanyalah "boneka".

Percakapan kemudian berlanjut pada isu HAM dan posisi Amerika Serikat terhadap Indonesia. Shamsi Ali mempertanyakan pihak mana yang seharusnya disalahkan jika Presiden Prabowo Subianto dituding melakukan pelanggaran HAM, sementara Amerika Serikat tetap menjadi mitra Indonesia.

Siapa yang baiknya disalahkan, Prabowo atau Amerika? demikian inti pertanyaan yang disampaikan Shamsi Ali dalam percakapan tersebut.

Menurut Shamsi Ali, demonstran itu akhirnya menjawab bahwa kedua pihak sama-sama harus disalahkan.

Pertanyakan Mengapa Warga Sipil Dibunuh

Hal yang paling membuat Imam Shamsi Ali mempertanyakan aksi kelompok bersenjata di Papua adalah adanya warga sipil yang menjadi korban.

Ia mempertanyakan mengapa masyarakat sipil harus menjadi sasaran apabila konflik yang terjadi merupakan perjuangan melawan aparat atau militer.

"Kenapa rakyat sipil dibunuh? Kenapa tidak lawan militer?," Direktur Jamaica Muslim Center New York itu, mengutip pertanyaan yang diajukannya dalam percakapan tersebut.

Menurut Imam Shamsi Ali, demonstran itu menjawab bahwa warga Indonesia dianggap memiliki fungsi ganda, termasuk kemungkinan sebagai mata-mata.

Pernyataan tersebut, menurut Imam Shamsi Ali, menjadi alasan yang dikemukakan dalam percakapan terkait serangan terhadap warga sipil.

Imam Shamsi Ali mengaku kecewa dan marah mendengar jawaban tersebut. Ia bahkan mengakhiri percakapan dengan ungkapan emosional kepada demonstran itu.

Kisah percakapan tersebut disampaikan Imam Shamsi Ali sebagai bentuk keprihatinannya terhadap persoalan kekerasan dan nasib masyarakat sipil dalam konflik Papua.

Ia menekankan bahwa persoalan HAM semestinya tidak hanya dilihat dari satu sisi, tetapi juga dari keselamatan warga sipil yang berada di tengah konflik.

Pewarta: Alfen Hoesin
Penyunting: Alfen Hoesin
Pengunjung: 634
©2026 tingkap.co

Komentar