Ibadah Paripurna

Haji Sebagai Representasi Kesempurnaan Islam

Oleh:

Shamsi Ali Al-Nuyorki

Kita memulai sebagaimana biasanya dengan memuji dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atas nikmat-Nya yang tak terbatas, atas kasih sayang dan cinta-Nya, serta rahmat-Nya. Dan kita berdoa semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu bersyukur kepada-Nya. Karena pada hakikatnya, kebanyakan manusia gagal menghargai nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"...Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur." (...Wa qallun min 'ibdiyasy-syakr). (QS. Saba : 13)
Pada hari-hari ini, meskipun para jamaah haji kita menghadapi berbagai tantangan, khususnya dari komunitas Barat, mereka tetap mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah haji, insya Allah. Kita ingin memulai dengan mendoakan mereka. Semoga Allah menerima haji mereka, menjadikan haji mereka sebagai haji yang mabrur, insya Allah.
Ada tiga perkara dalam Islam yang saling berkaitan satu sama lain:

- Nabi Ibrahim 'alaihissalam.
- Idul Adha atau Qurban.
- Ibadah haji.

Ketiga hal ini sangat erat hubungannya dan semuanya merepresentasikan kesempurnaan Islam secara menyeluruh. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an, "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan” (Y ayyuhalladzna man udkhul fis-silmi kffah). (QS. Al Baqarah : 208).
Kesempurnaan Islam tercermin dalam tiga perkara yang telah disebutkan tadi.

Nabi Ibrahim 'alaihissalam memenuhi seluruh perintah Allah, "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya…” (Wa idzibtal Ibrhma rabbuhu bikalimtin fa atammahunna…). (QS. Al Baqarah : 124).

Segala sesuatu yang Allah perintahkan kepadanya, beliau laksanakan. Hingga pada akhirnya Allah berfirman, "...Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu pemimpin bagi manusia…" (Inn j'iluka linnsi imm). (QS. Al Baqarah : 124)

Di sini terdapat pelajaran penting bagi umat ini. Jika kita ingin menjadi pemimpin bagi umat dan bangsa lain, tidak ada jalan selain menyempurnakan pengamalan Islam kita. Jika kita masih mengambil Islam secara sebagian, hal itu tidak akan pernah terwujud.

Kita ingin menjadi khairu ummah (umat terbaik), tetapi hal itu tidak akan terjadi kecuali jika kita mengamalkan agama Allah secara menyeluruh. Itulah jalan Nabi Ibrahim 'alaihissalam.

Itulah pelajaran yang pertama.
Qurban dan Pengorbanan Nabi Ibrahim
Pelajaran kedua adalah tentang Qurban.

Puncak komitmen Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam menyempurnakan agamanya adalah ketika beliau siap mengorbankan putranya sendiri.

Bayangkan, beliau meninggalkan putranya dan istrinya yang tercinta di sebuah tempat yang tidak memiliki tumbuhan. Itu berarti tidak ada air dan tidak ada sumber kehidupan. Sebab di mana tidak ada air, manusia tidak dapat hidup.

Allah memerintahkan beliau membawa istrinya dan bayi yang baru lahir ke tempat tersebut, lalu meninggalkan mereka selama bertahun-tahun, bahkan lebih dari sepuluh tahun.

Pada akhirnya Allah memerintahkannya untuk kembali. Dan perintah itu bukanlah perintah biasa. Allah memerintahkan beliau untuk kembali dan menyembelih putranya.

Nabi Ibrahim 'alaihissalam sangat yakin bahwa itu adalah perintah Allah dan kewajiban yang datang dari-Nya. Tidak ada pilihan baginya selain kembali kepada Allah dan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya.
Allah menceritakan dalam Al-Qur'an bahwa ketika Ibrahim 'alaihissalam datang ke Makkah dan berkata kepada putranya:
"Y bunayya inn ar fil-manmi..." ("Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi...")

Dan mimpi seorang nabi adalah wahyu. Maksudnya: "Wahai anakku, Allah telah mewahyukan kepadaku dan memerintahkanku untuk menyembelihmu. Maka bagaimana pendapatmu?"

Di satu sisi, Ibrahim 'alaihissalam sudah sangat yakin dengan perintah itu. Beliau sebenarnya bisa langsung melaksanakan perintah Allah tanpa meminta pendapat putranya. Namun beliau tetap bertanya kepada anaknya.
Mengapa? Karena putranya adalah seorang yang merdeka. Inilah pentingnya merdeka dalam Islam.

Bayangkan, Ibrahim 'alaihissalam adalah seorang ayah yang tidak pernah menolak perintah Allah. Tetapi ketika menyangkut kehendak dan kebebasan orang lain, beliau meminta pendapat mereka.

Ini adalah pelajaran penting bagi kita semua. Baik sebagai ayah, pemimpin, maupun pihak yang memiliki otoritas, manusia harus diajak bermusyawarah, terutama dalam perkara ketaatan kepada Allah.

Lalu apa jawaban putranya? "Y abati..." Kata abati dalam bahasa Arab mengandung makna cinta, kasih sayang, dan penghormatan. Seolah-olah ia berkata: "Wahai ayahku yang tercinta..."
Dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang, ia menjawab:
"Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Seorang ayah yang bertanggung jawab akan melahirkan anak yang bertanggung jawab.
Sering kali kita mengeluhkan anak-anak kita, tetapi kita tidak memperhatikan tanggung jawab kita sendiri.
Ibrahim 'alaihissalam menaati seluruh perintah Allah, dan dengan kehendak Allah hasilnya adalah putranya pun menaati perintah Allah.

""Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (Y abatif'al m tu'mar, satajidun insyAllhu minash-shbirn.) (QS. As Shaffat : 102)
Itulah pelajaran yang kedua.

Haji sebagai Representasi Kesempurnaan Islam

Pelajaran ketiga adalah tentang haji. Haji merupakan representasi tertinggi dari kesempurnaan Islam. Ketika kita mengatakan bahwa kita masuk ke dalam Islam secara menyeluruh, maka haji menjadi bukti terakhir dari komitmen tersebut.

Karena itulah haji hanya diwajibkan sekali seumur hidup. Seseorang boleh berhaji berkali-kali jika memiliki kemampuan, tetapi kewajiban hanya sekali.

Sebab ketika seseorang menunaikan haji, seakan-akan ia berkata, "Saya siap menjadi Muslim yang sempurna, insya Allah."
Mengapa haji mewakili keseluruhan Islam? Karena di dalam haji terdapat seluruh unsur ibadah dalam Islam.
Mulai dari syahadat: "Labbaik Allahumma labbaik, labbaika l syarka laka labbaik..."

Maknanya: "Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, untuk beriman dan taat kepada-Mu." Di dalam haji juga ada shalat. Selama bertahun-tahun kita menghadap ke arah yang sama, dan kini kita berada di tempat yang menjadi tujuan arah tersebut.

Di dalam haji juga ada puasa dalam bentuk pengendalian diri. Kita diperintahkan menahan diri bahkan dari perdebatan. Jika demikian, apalagi mengganggu orang lain.

Di dalam haji juga terdapat zakat. Karena seseorang yang tidak memiliki kemampuan finansial untuk menunaikan kewajiban-kewajiban hartanya tidak diwajibkan berhaji. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Seluruh ritual Islam ada dalam haji, termasuk tasbih, zikir, dan berbagai bentuk ibadah lainnya. Bahkan haji sendiri menggambarkan seluruh siklus kehidupan manusia. Dari awal penciptaan hingga kita meninggalkan dunia dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, semuanya direpresentasikan dalam ibadah haji.

Makna Simbolik Tahapan Haji

Ketika memulai haji, kita memasuki keadaan ihram. Awal ihram ditandai dengan ucapan:

"Labbaik Allahumma labbaik..."
Ini melambangkan kembalinya manusia kepada fitrah, yaitu keyakinan kepada Allah. Karena ketika Allah bertanya kepada seluruh ruh:

"Alastu birabbikum?" (Bukankah Aku Tuhanmu?) Mereka semua menjawab,
"Bal syahidn." (Benar, kami bersaksi.)

Maka ketika memulai haji dengan ihram, kita sedang kembali kepada fitrah keimanan kita kepada Allah. Kemudian kita menuju Arafah. Mengapa? Karena Arafah adalah waktu untuk merenung dan mengenal Allah, mengenal diri sendiri, dan memahami kehidupan.

Banyak orang tidak memahami kehidupan karena mereka tidak memahami diri mereka sendiri. Dan banyak orang tidak memahami diri mereka sendiri karena mereka tidak mengenal Allah. Mereka melupakan Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.

Betapa banyak orang yang bertindak bertentangan dengan kepentingan mereka sendiri, bahkan menyakiti diri mereka sendiri, tetapi tetap melakukannya karena mereka telah melupakan diri mereka. Mengapa? Karena mereka melupakan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Arafah adalah waktu untuk refleksi dan perenungan tentang kebesaran Allah. Karena itu zikir terbaik pada hari Arafah adalah, "L ilha illallh."

Kemudian kita menuju Muzdalifah.
Malam di Muzdalifah adalah malam persiapan untuk sebuah pertempuran. Keesokan harinya kita memulai pertempuran tersebut. Itulah hari terpanjang dalam rangkaian haji.

Allah ingin mengingatkan kita bahwa perjuangan melawan setan dan iblis adalah perjuangan panjang, bukan sekali selesai.
Bukan hanya satu Ramadhan kita menang melawan setan. Bukan hanya satu malam qiyamul lail kita berhasil mengalahkannya. Melawan setan adalah perjuangan sepanjang hidup.

Tawaf mungkin hanya memakan waktu sekitar 45 menit hingga satu jam. Sa'i mungkin sekitar satu jam. Tetapi melontar jumrah dan rangkaian lainnya berlangsung dua atau tiga hari. Ini mengingatkan kita bahwa memerangi setan adalah proses seumur hidup. Sampai kita meninggal, setan tetap menjadi musuh kita.

Tawaf dan Sa'i sebagai Gambaran Kehidupan
Setelah itu kita melakukan tawaf. Tawaf merupakan representasi dari kehidupan itu sendiri. Kita memulai dari satu titik dan berakhir di titik yang sama. Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Sedangkan sa'i adalah gambaran perjalanan hidup di dunia.

Jika kita ingin menjalani kehidupan di dunia ini, maka kita harus siap menghadapi berbagai ujian dan tantangan. Karena kehidupan memang penuh dengan tantangan.

Tawaf Wada' dan Persiapan Kembali kepada Allah
Hal terakhir yang dilakukan para jamaah haji sebelum meninggalkan Makkah adalah Tawaf Wada' (tawaf perpisahan).
Pada hakikatnya, Tawaf Wada' merupakan pengingat yang sangat dekat dan sangat jelas tentang pentingnya menyadari bahwa setiap manusia pasti akan meninggal dunia. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"Wa l tamtunna ill wa antum muslimn."
(Dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai Muslim.). (QS. Surat Ali 'Imran : 102)

Janganlah merasa cukup hanya dengan memahami apa artinya menjadi seorang Muslim. Tawaf Wada' merupakan simbol bahwa kita akan meninggalkan tempat suci. Kita masih terikat dengan simbol-simbol kesucian. Kita masih terikat dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dan hingga ajal menjemput, keterikatan itu harus tetap terjaga. Sebagaimana sabda Nabi , "Man kna khiru kalmihi l ilha illallh dakhalal jannah." (Barang siapa yang ucapan terakhirnya adalah "L ilha illallh", maka ia akan masuk surga.)

Karena itulah para ulama sepakat bahwa Tawaf Wada' merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan sebelum meninggalkan Makkah.

Makna Haji Mabrur
Akhirnya, saudara-saudara sekalian, kita berbicara tentang Haji Mabrur, sesuatu yang diimpikan oleh setiap Muslim.
Karena Rasulullah bersabda bahwa, "Balasan bagi haji yang mabrur tidak lain adalah surga, insya Allah Ta'ala."
Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan Haji Mabrur?

Kata mabrur berasal dari akar kata Arab: Barra – Yabirru – Birrun – Mabrurun yang bermakna kebaikan, kebajikan, atau haji yang terbaik.

Lalu apa yang dimaksud dengan haji terbaik? Suatu ketika, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu ditanya oleh seseorang, "Apakah yang dimaksud dengan Haji Mabrur?"
Beliau menjawab, "Haji Mabrur dapat diketahui ketika engkau kembali ke Madinah Al-Munawwarah."

Karena orang yang bertanya berasal dari Madinah. Apa maknanya? Maknanya adalah bahwa Haji Mabrur bukan hanya tentang apa yang kita lakukan di Makkah atau di tempat-tempat suci selama ibadah haji.

Yang lebih penting adalah:
Apakah haji tersebut membawa perubahan positif dalam kehidupan kita?
Apakah hubungan kita dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadi lebih kuat?
Apakah hubungan kita dengan sesama manusia menjadi lebih baik?
Apakah ibadah-ibadah kita menjadi lebih berkualitas?

Dan yang lebih penting lagi, apakah sikap dan akhlak kita terhadap sesama manusia menjadi lebih baik?
Jika semua itu terjadi, maka itulah tanda-tanda Haji Mabrur.

Semoga Allah menerima ibadah haji saudara-saudara kita yang telah menunaikannya. Semoga Allah memudahkan seluruh urusan mereka. Dan semoga Allah juga memudahkan kita semua untuk dapat menunaikan ibadah haji suatu hari nanti.

Allahumma aamiin.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.

Penulis/Khutbah adalah Presiden Nusantara Foundation dan Direktur Jamaica Muslim Center, bermukim di New York City, Amerika Serikat.

Pewarta:
Penyunting: Alfen Hoesin
Pengunjung: 199
©2026 tingkap.co

TAGS:

Komentar