Kualitas Hidup

BAROKAH: Nilai yang Hilang dari Kehidupan Modern

261023073645-barok.jpg

Foto: IG Imam Shamsi Ali

Imam Shamsi Ali adalah Direktur Jamaica Muslim Center, bermukim di New York, Amerika Serikat.

               Oleh: Shamsi Ali Al-Nuyorki

Sungguh sebuah kemuliaan, Allah telah memberikan hidayah yang dengannya kita dapat memahami Haqiqah al-Hayat- hakikat kehidupan yang sejati.

Hidup bukanlah soal matematika. Hidup bukan sekadar tentang angka. Manusia modern berpikir bahwa hidup adalah tentang: uang yang banyak, gelar yang banyak, pengikut yang banyak. Padahal Islam mengajarkan bahwa hidup adalah tentang nilai- bukan tentang volume. Hidup adalah tentang makna, bukan sekadar hitungan.

Satu juta dolar tanpa ketenangan adalah kemiskinan. Rumah yang kecil namun penuh Sakinah adalah istana. Itulah bedanya antara hidup yang mengejar angka dan hidup yang bernilai.

Kita Hidup di Zaman yang Penuh Paradoks

Lihatlah di sekeliling kita. Kita belum pernah sekaya hari ini, namun belum pernah pula kita melihat kecemasan akan rezeki dan rasa lapar sebanyak hari ini. Capaian sains kita melebihi generasi mana pun sebelumnya, namun rasa nyaman dan ketenangan batin kita justru semakin menipis.

Apotek dan obat-obatan lebih banyak dari sebelumnya, namun kesehatan kita justru lebih rapuh.

Kita lebih terhubung dari sebelumnya - ada Facebook, Instagram, TikTok, WhatsApp- namun kita juga lebih kesepian dari sebelumnya. Seseorang bisa memiliki sejuta teman di dunia maya, namun tak seorang pun datang menjenguknya ketika ia sakit.

Itulah dunia modern yang terobsesi memburu ANGKA. Kita menghitung segalanya: berapa banyak harta yang kita miliki, berapa banyak rumah, berapa banyak like, berapa banyak gelar. Kita berlomba untuk mengumpulkan lebih banyak dan lebih banyak lagi, tetapi kita telah kehilangan NILAI dari apa yang kita kumpulkan.

Mengapa nilai itu hilang? Karena kita telah mengeluarkan Allah dari pusaran kehidupan ki9ta.

Dan ketika Anda mengeluarkan Allah dari pusaran itu, hasilnya akan selalu nol, sebesar apa pun angka yang Anda banggakan.

Nilai yang Hilang Itu Bernama Al-Barakah

Nilai yang hilang itu memiliki nama dalam Islam: Al-Barakah- .

Itulah sebabnya seorang Muslim tidak pernah sekadar meminta kepada Allah untuk lebih banyak. Kita tidak hanya berkata, "beri aku lebih banyak uang, lebih banyak anak, hidup yang lebih panjang."

Ketika menikah, kita berdoa BarakAllahu Lakuma. Ketika dikaruniai anak, kita seseorang melahirkan anak kita doakan Buurikta fil-mauhuub. Ketika makan, kita memohon agar Allah meletakkan barakah di dalam makanan kita. Ketika menyebut rezeki, usia, dan ilmu, kita selalu meminta barakah.

Karena kita paham: banyak tanpa barakah adalah beban. Sedikit dengan barakah adalah kelimpahan.

Janji Al-Qur'an Tentang Barakah

Allah menjelaskannya dengan sangat jelas di dalam Al-Qur'an:

"Sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi..." (QS. Al-A'raf: 96)

Ayat ini adalah rumus untuk membangun masyarakat yang diberkahi. Allah menggunakan kata Barakaat dalam bentuk jamak, bukan tunggal. Jika kita memiliki Iman dan Taqwa, Allah akan membukakan keberkahan bagi kita dari segala penjuru, dari langit dan dari bumi.

Maka jika cita-cita kita adalah membangun apa yang Allah gambarkan dalam Surah Saba sebagai Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur- negeri yang baik dan Tuhan yang Maha Pengampun (Saba: 15), jalannya bukan hanya melalui PDB atau kecanggihan teknologi. Jalannya utamanya melalui barakah.

Apa Itu Barakah?

Secara bahasa, Barakah () berasal dari akar kata Birkah () yang berarti kolam air yang tetap, tidak pernah kering, dan justru menghimpun air kepadanya dari segala arah.

Para ahli bahasa mendefinisikannya sebagai: - pertambahan, pertumbuhan, dan perkembangan dalam kebaikan.

Dan para ulama hati mendefinisikannya lebih mendalam sebagai: - menetapnya kebaikan dari Allah pada sesuatu.

Artinya, meski sesuatu itu kecil secara jumlah, ia membawa manfaat yang sangat besar dan bertahan lama.

Harta yang sedikit tetapi cukup untuk memenuhi semua kebutuhan, bahkan masih bisa bersedekah dan membantu keluarga, itulah barakah.

Harta yang melimpah, jutaan bahkan miliaran, tetapi tidak pernah merasa cukup, selalu gelisah, selalu terlilit utang, dan selalu bertengkar di rumah karena uang, itulah ketiadaan barakah.

Dan sayangnya, itulah wajah dunia modern hari ini. Banyak dalam hitungan, miskin dalam nilai.

Ciri-Ciri Kehidupan yang Diberkahi- Al-Hayat Al-Mubarakah

Bagaimana kita tahu apakah hidup kita memiliki barakah? Ada enam tanda:

SATU: Al-Qana'ah- Hati yang Merasa Cukup.pppAnda merasa cukup.

Rasulullah SAW bersabda: "Kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta benda. Kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa." (Bukhari & Muslim)

Hati tanpa barakah selalu berkata, "Aku butuh lebih banyak." Hati yang diberkahi selalu berkata, "Alhamdulillah," bahkan untuk yang sedikit. Rasa cukup adalah kekayaan yang pertama.

DUA: Nafi' lil-Ghayr- Bermanfaat Bagi Orang Lain. Hidup yang diberkahi tidak pernah egois.

Ilmunya diajarkan, hartanya dibagi, waktunya diberikan untuk orang lain.

Nabi SAW bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain." (Ahmad)

Jika hidup Anda hanya bermanfaat untuk diri sendiri, maka tidak ada barakah di dalamnya. Jika hidup Anda bermanfaat bagi keluarga, tetangga, dan umat, itulah barakah.

TIGA: Taysir ath-Tha'ah- Dimudahkan dalam Ketaatan. Ini adalah tanda yang tersembunyi.

Ketika hidup Anda memiliki barakah, ibadah terasa ringan. Bangun untuk Shalat Subuh menjadi mudah. Membaca Al-Qur'an menjadi sesuatu yang dicintai.

Allah berjanji: "Adapun orang yang memberikan hartanya dan bertakwa, serta membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." (Al-Lail: 5-7)

Jika maksiat terasa mudah dan ibadah terasa berat, tidak ada barakah. Jika ibadah terasa mudah dan maksiat terasa berat, itulah barakah.

EMPAT: Al-Ittisa' fil-Waqt- Kelapangan Waktu. Kita semua memiliki 24 jam yang sama.

Namun lihatlah para ulama kita: Imam Nawawi hidup hanya 45 tahun dan menulis kitab-kitab yang masih kita pelajari hingga 800 tahun kemudian. Ada orang yang hidup 80 tahun dan tidak menghasilkan apa-apa. Padahal dikarunia waktu yang sama.

Mengapa? Karena barakah melapangkan waktu. Tanpa barakah, waktu berlalu tanpa manfaat. Dengan barakah, satu jam bisa menghasilkan apa yang orang lain kerjakan dalam setahun.

LIMA: Sakinah al-Usrah- Ketenangan dalam Rumah Tangga.

Rumah yang diberkahi tidak diukur dari luas bangunan atau kemewahannya. Ia diukur dari Sakinah yang ada di dalamnya.

Allah berfirman: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya." (Ar-Rum: 21)

Anda merasa damai ketika masuk ke dalam rumah, bukan stres. Suami dan istri adalah mitra dalam agama. Anak-anak menjadi Qurrota A'yun- penyejuk mata. Itulah keluarga yang Mubarak.

ENAM: Baqa' al-Atsar- Dampak Keberlanjutan. Barakah tidak mati bersama Anda.

Rasulullah SAW bersabda: Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (Muslim)

Hidup tanpa barakah berakhir di liang kubur. Hidup yang Mubarak terus mengalirkan pahala bahkan ketika kita telah meninggalkan dunia fana ini. (Bersambung)

New York City, 22 Oktober 2026

Pewarta:
Penyunting: Alfen Hoesin
Pengunjung: 88
©2026 tingkap.co

TAGS:

Komentar