Pameran Tunggal

I Ketut Adi Candra Gelar "AUM di Tengah Realitas Hybrid" di Orbital Dago Bandung

260506205942-ketut.jpg

@tingkap/Robby Hendrawan

I Ketut Adi Candra membuka ruang dialog antara modernitas dan tradisi, sekaligus menjadi catatan penting tentang spiritualitas dalam seni rupa kontemporer Indonesia.

BANDUNG, TINGKAP.CO - Geliat seni rupa kembali muncul perlahan di tengah redupnya ekonomi global. Adalah I Ketut Adi Candra, seorang seniman dan pemangku adat Bali, resmi menggelar pameran tunggal  bertajuk AUM di Tengah Realitas Hybrid di Orbital Dago, Jl. Rancakendal Luhur No. 7, Bandung, Rabu (6/5/2026). Pameran ini menjadi perkenalan pertama perupa asal Pulau Dewata itu kepada publik Bandung.

"AUM atau Om dalam bahasa Sanskerta, adalah penyempurna pengucapan menuju ke atas, menuju semesta, menuju Ketuhanan," ujar Adi Candra di sela-sela pembukaan kepada TINGKAP.CO. Ia menjelaskan bahwa judul yang dipilih kurator ini selaras dengan karakter karyanya yang bertema Tantra dan energi meditasi.

Lahir di Gianyar, Bali, tahun 1973 dan lulusan ISI Denpasar 1998, I Ketut Adi Candra menjalani dua peran sekaligus: seniman dan jero mangku. Perjalanan spiritualnya menjadi bahan bakar kekaryaan. "Bagi saya, melukis bukan sekadar mengoleskan cat. Ini adalah wahana pembebasan spirit, kekuatan doa, dan hasil meditasi," tuturnya.

Pameran ini menampilkan tiga komponen karya. Pertama, lukisan abstrak dengan simbol rerajahan dan ornamen sesembahan. Kedua, gambar-gambar upacara ritus. Ketiga, sanggah atau tempat sesaji. Meski visualnya dominan abstrak dengan sapuan warna liar, Adi Candra menyisipkan simbol-simbol suci adat di antara warna. Menurutnya, yang sakral dan profan harus berjalan bersama.

"Latar belakang saya sebagai seniman dan jero mangku menjadi bahan bakar kekaryaan. Antara modern dan tradisi, keduanya kuat dalam diri saya," kata Adi Candra. Ia berharap pameran tunggal dia yang dibuka oleh Heri Dim itu bisa mewarnai kancah seni rupa Indonesia, ikut bagian dalam wacana nasional, dan ke depan bisa masuk ke Asia.

Sementara kurator Bambang Barnas menyebut pameran ini penting untuk menunjukkan praktik seni rupa yang menghubungkan diri dengan spiritualitas Bali. "Melukis bagi Adi Candra adalah proses pembebasan diri sekaligus wahana spiritualitas. Meski visualnya abstrak, ia menyelipkan simbol-simbol suci adat di antara warna dan sapuan," jelas Bambang.

Menariknya, Bambang melihat pola yang sama dengan pameran tunggal Cecep Hidayat di Taman Budaya. Dua seniman, dua tempat berbeda, tapi keduanya menyatakan hal yang sama. "Melukis nonfiguratif adalah wahana pembebasan. Tidak terikat bentuk, jadi lebih bebas,"  katanya.

Bambang juga menyoroti minimnya dukungan pemerintah terhadap seni rupa di Bandung. Padahal, kota yang dijuluki Parijs Van Java ini memiliki 12 perguruan tinggi seni rupa dan menjadi salah satu pusat perkembangan seni rupa nasional setiap tahun. "Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan sudah menyediakan Dana Abadi Kebudayaan. Tapi di Bandung, perhatian pemerintah untuk seni rupa masih kurang jika dibanding seni tradisi,"  ujarnya.

Ia mendorong pemerintah untuk membangun galeri dan museum khusus seni rupa. "Di negara maju, museum dan galeri adalah simbol peradaban. Dampak ekonominya juga besar. Pameran tahunan seperti Art Jakarta bisa menghasilkan 10 kali lipat dari biaya penyelenggaraan," tegas Bambang.

Pameran "AUM di Tengah Realitas Hybrid" berlangsung di Orbital Dago, Jl. Rancakendal Luhur No. 7, Bandung hingga akhir Mei 2026. Karya-karya Adi Candra diharapkan bisa membuka ruang dialog antara modernitas dan tradisi, sekaligus menjadi catatan penting tentang spiritualitas dalam seni rupa kontemporer Indonesia.

Pewarta: Robby Hendrawan
Penyunting: Alfen Hoesin
Pengunjung: 440
©2026 tingkap.co

Komentar