Ketenangan Qolbu
Gerbang Menuju Kelapangan Dada (Insyirah as-Sadr)

Foto: Istimewa
Imam Shamsi Ali (kanan) bersama Wali Kota New York, Zohran Mamdani.
Oleh:
Shamsi Ali Al-Nuyorki
Dalam kehidupan, hati sering terasa sempit di bawah beban dosa, kecemasan, dan ketidakpastian. Namun Islam mengajarkan bahwa ketenangan batin bukan sekadar perasaan, melainkan karunia dari Allah yang diberikan kepada siapa pun yang Dia kehendaki.
Islam mengajak kita memahami bahwa jalan menuju kelapangan hati ini selalu terbuka, selama hati mau merendahkan diri, berserah, dan kembali kepada-Nya dengan keikhlasan penuh.
Ada saat-saat ketika hati terasa begitu sesak hingga dunia seakan menyempit, tak menyisakan ruang untuk bernapas dengan tenang. Kecemasan datang tanpa diundang, ketakutan menekan dari segala arah, dan hati terasa terbelenggu oleh sesuatu yang kadang sulit dijelaskan.
Namun Islam tidak membiarkan kita tenggelam dalam kegelapan tanpa arah. Allah telah memberikan petunjuk yang jelas: kelapangan hati adalah karunia nyata, bukan ilusi yang mustahil.
Allah mengingatkan kita: Barang siapa yang Allah kehendaki untuk mendapat petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa yang Dia kehendaki tersesat, niscaya Dia menjadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. (Al-Anam: 125).
Apakah hati terasa lapang atau sempit bukan sekadar fenomena psikologis. Hal itu berkaitan langsung dengan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Ketika hati dekat dengan Allah, ada keluasan yang tak dapat dijelaskan oleh akal manusia. Dan ketika hati jauh, meskipun kehidupan tampak mudah, tetap ada kegelisahan yang menekan.
Ibnu al-Qayyim mengungkapkan hal ini dengan mendalam: Keadaan seorang hamba di dalam kuburnya akan seperti keadaan hatinya di dalam dadanya, apakah ia merasakan kenikmatan atau siksaan, kesempitan atau kelapangan.
Ini bukan sekadar nasihat, tetapi peringatan: keadaan hati kita hari ini mencerminkan keadaan kita esok. Jika hati kita lapang di dunia ini karena iman, maka akan ada kelapangan pula di alam kubur.
Rasulullah mengajarkan bahwa ketenangan dan kelapangan hati adalah buah dari iman: Telah merasakan manisnya iman orang yang ridha Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya. (HR. Muslim)
Manisnya iman itu bukan sekadar kiasan. Ia dirasakan sebagai kedamaian batin yang nyata, kelapangan dada, dan berkurangnya kekhawatiran berlebihan. Orang yang ridha kepada Allah tidak mudah terguncang oleh keadaan, karena ia tahu bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman-Nya.
Di antara gerbang menuju kelapangan hati adalah memperbanyak mengingat Allah: Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (Ar-Rad: 28).
Zikir bukan hanya ucapan di lisan, tetapi hadirnya hati dalam mengingat kebesaran Allah. Ketika hati dipenuhi dengan mengingat Allah, ruang bagi kecemasan menyempit, dan ruang bagi ketenangan meluas.
Istighfar juga merupakan gerbang menuju kelapangan: Barang siapa yang senantiasa memohon ampun, Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan dan memberi kelapangan dari setiap kesulitan. (HR. Abu Dawud)
Jelas bahwa Rasulullah mengaitkan istighfar secara langsung dengan kelapangan dalam hidup. Dosa yang menumpuk seringkali membebani hati dan membuatnya terasa sempit. Ketika dosa-dosa itu dibersihkan melalui istighfar, hati menjadi ringan dan terbuka.
Tawakal (berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah berikhtiar) juga merupakan gerbang menuju kehidupan yang lapang. Dengan tawakal, seseorang tidak terjebak dalam kekhawatiran berlebihan, karena ia menyerahkan hasil akhirnya kepada Yang Maha Bijaksana. Ia memahami bahwa tidak semua yang diinginkannya harus terjadi, dan tidak semua yang terjadi harus sesuai dengan pemahaman serta keinginannya.
Pada akhirnya, rasa sempit dalam hidup bukanlah akhir dari segalanya. Ia adalah tanda bahwa hati perlu kembali. Ia adalah alarm yang mengingatkan bahwa ada sesuatu dalam hubungan kita dengan Allah yang perlu diperbaiki. Maka jangan hanya mencari pelarian. Carilah jalan kembali menuju sumber ketenangan.
Semoga setiap kesempitan yang kita rasakan menjadi jalan yang mengembalikan kita kepada-Nya, dan setiap kecemasan menjadi pintu menuju kelapangan yang lebih dalam. Karena sungguh, ketika Allah melapangkan hati seorang hamba, tidak ada lagi yang mampu menyempitkannya.
Manhattan City, 21 April 2026
Direktur Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundation.
Pewarta:
Penyunting: Ghea Reformita
Pengunjung: 121
©2026 tingkap.co
Berita Terkait
- Sepekan Bersama Profesor Mari Elka Pangestu
- Seorang Pria Tembak 8 Anak dan Istrinya Serta Seorang Wanita Lain di Shreveport, Louisiana
- Bandung Jadi Pusat Perhatian Dunia: Kilas Panjang Konferensi Asia Afrika 1955
- Sejarah Perang Saudara AS, Kolerasinya dengan Perang Moderen Asimetris
- Diambang Perang Dahsyat, Perundingan AS - Iran Gagal Mencapai Kesepakatan
- Ini Bukan di Jepang, Suasana Eksotik Bunga Sakura Hiasi Musim Semi di Washington DC
- Dubes Prof. Dwisuryo Hadir di Annual General Assembly & Halal bi Halal IMAAM
- Protes "No Kings" Menentang Trump Meluas, Menarik Jutaan Orang di Seluruh AS
- Cuaca Dingin Melanda Eropa dan Siklon Menerjang Australia
- Dua Orang Tewas, Pesawat Air Canada Tabrak Truk Pemadam Kebakaran di Bandara LaGuardia
