Kesombongan Kekuasaan

Khutbah Jumat di Jamaica Muslim Center, New York

Oleh:

Shamsi Ali Al-Nuyorki

Sebagaimana biasa, kita memulai dengan mengingatkan diri untuk merendahkan hati dengan mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala, sekaligus memohon ampunan-Nya. Semoga Allah memberkahi majelis ini dan mengampuni segala kekurangan serta kesalahan kita.

Saudara-saudaraku, mari kita berdoa untuk dunia. Kita hidup di dunia yang penuh dengan kekacauan. Namun, itu bukan topik yang akan saya bahas hari ini. Saya ingin berbicara tentang sesuatu yang sedang dirayakan oleh tetangga kita hari ini.

Sekitar dua pertiga isi Al-Qur'an adalah membahas kisah-kisah umat terdahulu. Di antara kisah yang paling panjang dan paling sering diulang adalah kisah Nabi Musa 'alaihissalam. Kisah beliau disebutkan mulai dari Surah Al-Baqarah hingga Surah An-Nazi'at. Allah berulang kali menyebutkannya.

Mungkin muncul pertanyaan, mengapa kisah Nabi Musa begitu panjang dan sering diulang?

Para ulama menyebutkan beberapa alasan.

Pertama, karena sadar atau tidak, mengakui atau tidak, menerima atau tidak, kenyataannya agama yang paling mirip dengan Islam saat ini adalah Yudaisme (agama Yahudi). Dalam aspek akidah, masih ada di antara mereka yang meyakini keesaan Allah. Mereka juga memiliki hukum-hukum agama sebagaimana Islam memiliki syariat. Karena adanya kemiripan ajaran inilah kisah Nabi Musa 'alaihissalam sering disebutkan.

Islam bukanlah agama yang mengambil ajaran dari Yudaisme. Islam secara mendasar meyakini bahwa risalah Islam adalah satu kesatuan yang dibawa sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena itu, tidak mengherankan jika terdapat banyak kesamaan.

Kedua, karena adanya banyak kesamaan antara Nabi Musa 'alaihissalam dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Keduanya lahir secara normal dari ayah dan ibu. Keduanya mengalami ujian dalam masa kecil. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kehilangan ayahnya ketika masih dalam kandungan dan ibunya saat berusia enam tahun. Selain itu, keduanya membawa syariat dan memiliki umat yang mengikuti mereka.

Ketiga, karena adanya interaksi yang dekat antara umat Islam dan Yahudi. Sejak zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di Madinah, yang banyak disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperlakukan dengan tidak baik oleh kaum Yahudi di Madinah, hingga saat ini, hubungan antara Muslim dan Yahudi terus berlangsung, termasuk dalam persoalan Timur Tengah.

Salah satu kisah Nabi Musa 'alaihissalam yang disebutkan dalam Al-Qur'an adalah bagaimana Allah membebaskan Bani Israil dari Fir'aun. Dalam Al-Qur'an, peristiwa ini disebut sebagai an-najah (penyelamatan)Allah ta’ala berfirman, "Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari pengikut-pengikut Fir'aun. Mereka menimpakan kepadamu siksaan yang sangat berat, menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan yang besar dari Tuhanmu.” (QS. Al Baqarah : 49)

Allah menceritakan bagaimana Bani Israil mengalami siksaan yang berat di bawah Fir'aun. Mereka diperbudak selama ribuan tahun hingga Allah mengutus Nabi Musa 'alaihissalam dan membebaskan mereka. Allah membelah laut menjadi dua belas jalur sesuai dua belas suku Bani Israil.

Kisah ini hingga sekarang dirayakan oleh umat Yahudi dalam perayaan yang mereka sebut "Passover". Jika ada yang memiliki teman Yahudi, mereka mungkin akan menjelaskan bahwa Passover memperingati saat malaikat melewati rumah-rumah mereka sehingga anak-anak mereka selamat dari pembunuhan yang dilakukan oleh Fir'aun. Kita mengakui peristiwa tersebut karena Al-Qur'an juga menyebutkannya.

Pelajaran dari Kisah Pembebasan Bani Israil

  1. Bahaya Kekuasaan yang Tidak Terkontrol

Fir'aun tidak memiliki siapa pun yang mengawasi atau membatasi kekuasaannya. Pada akhirnya, ia sampai mengaku sebagai “rabbukumul a’la”, tuhan tertinggi.

Inilah bahaya dari kekuasaan yang tidak diawasi, baik itu kekuasaan politik, pemerintahan, maupun bentuk kekuasaan lainnya. Ketika seseorang tidak mau dikontrol dan tidak ada yang berani mengoreksi, maka ia mudah menjadi tiran. Nabi Musa 'alaihissalam diutus Allah untuk mengingatkan Fir'aun bahwa ia telah melampaui batas.

Di negara mana pun, kekuasaan yang tidak diawasi dan tidak dikendalikan dapat membawa masyarakat menuju kehancuran. Tanpa terkecuali, termasuk dengan negara kita, jika orang-orang yang berkuasa di negara ini tidak dikontrol, maka berhati-hatilah. Pada akhirnya, kita akan membawa masyarakat kita ke dalam kehancuran.

       2. Kekuasaan yang Zalim Pasti Akan Runtuh

Kekuasaan yang tidak adil, sekuat apa pun, pada akhirnya akan jatuh.

Sejarah membuktikannya, mulai dari Fir'aun, kaum Tsamud, hingga berbagai penguasa lainnya. Bahkan pada zaman modern, banyak penguasa yang tampak sangat kuat akhirnya jatuh dalam kehinaan karena kezaliman mereka.

Keadilan adalah fondasi utama sebuah negara. Ketika keadilan dirusak, maka kehancuran akan mengikuti. Itulah sunnatullah dalam kehidupan manusia.

     3. Allah Akan Menolong Kaum yang Terzalimi

Pada akhirnya, orang-orang yang terzalimi akan mendapatkan pertolongan Allah.

Mungkin membutuhkan waktu yang lama. Tidak selalu terjadi secara instan. Namun Allah senantiasa berpihak kepada mereka yang terzalimi dan termarjinalkan.

Bani Israil diperbudak selama ribuan tahun, tetapi pada akhirnya Allah menyelamatkan mereka dengan cara yang luar biasa. Karena itu, kita harus memiliki keyakinan kepada Allah.

Kita melihat saudara-saudara kita di Palestina, Gaza, dan berbagai tempat lain di dunia yang masih mengalami penderitaan. Terkadang kita tidak bisa melihatnya lagi melalui sosial media, karena sangat menyakitkan untuk melihat apa yang terjadi.

Banyak yang kehilangan makanan, tempat tinggal, bahkan nyawa mereka. Untuk apa? Bagaimana bisa sebanyak sekitar 70.000 yang kebanyakannya adalah anak-anak, mengancam mereka? Dan mereka tetap harus mem-bomnya?

Kita mungkin bertanya-tanya kapan pertolongan Allah akan datang. Sebagaimana para Sahabat radhiyallahu ‘anhum pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang datangnya pertolongan Allah, Allah subhanahu wa ta’ala menjawab bahwa pertolongan-Nya itu dekat.

Maka tetaplah beriman dan bertawakal kepada Allah. Semakin kita mendapat ujian, semakin kita harus mempersiapkan datangnya pertolongan dari Allah.

       4. Perjuangan Diperlukan untuk Meraih Kebebasan

Pelajaran lainnya adalah bahwa perjuangan diperlukan untuk memperoleh kebebasan dan pertolongan Allah.Maka, jangan pernah menyerah.

Dalam Surah Thaha, Allah memerintahkan Nabi Musa ‘alaihissalam dan saudaranya, "Pergilah engkau bersama saudaramu dengan membawa tanda-tanda-Ku, dan janganlah kalian lalai dalam mengingat-Ku." (QS. Thaha : 42)

Artinya, perjuangan di jalan Allah merupakan syarat untuk meraih pertolongan-Nya. Tidak ada yang diperoleh tanpa usaha.

Sebagai Muslim yang hidup di Amerika, kita memiliki tanggung jawab untuk terus menjalankan peran kita dengan baik. Tugas kita adalah membantu tetangga dan masyarakat sekitar memahami bahwa umat Islam hadir sebagai partner yang ingin berkontribusi bagi kebaikan bersama, bukan sebagai ancaman. Semoga kita dapat terus bekerja sama dengan seluruh masyarakat untuk menjadikan negara ini lebih baik, insya Allah.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis/khutbah adalah Presiden Nusantara Foundation dan Direktur Jamaica Muslim Center bermukim di New York City, Amerika Serikat.

Pewarta:
Penyunting: Alfen Hoesin
Pengunjung: 195
©2026 tingkap.co

Komentar