Psikologi

Psikolog Puskesmas Cipadung Ungkap Pentingnya Validasi Emosi Anak, Orang Tua Perlu Tahu!

261016140148-psiko.jpg

Dok. Diskominfo Kota Bandung

Masalah rumah tangga menjadi salah satu persoalan yang banyak ditemui, disusul berbagai permasalahan pada anak dan remaja.

BANDUNG, TINGKAP.CO - Kesehatan mental anak dan remaja tidak bisa dilepaskan dari peran keluarga. Cara orang tua merespons tangisan, kemarahan, kecemasan, hingga perubahan perilaku anak ternyata menjadi bagian penting dalam membantu mereka mengenali dan mengelola emosi sejak dini.

Psikolog Puskesmas Cipadung, Delis Larasaty Putri, mengungkapkan bahwa persoalan yang dihadapi pasien dalam layanan psikologis klinis cukup beragam. Masalah rumah tangga menjadi salah satu persoalan yang banyak ditemui, disusul berbagai permasalahan pada anak dan remaja.

Menurut Delis, persoalan pada anak umumnya berkaitan dengan tumbuh kembang. Sementara itu, remaja menghadapi tantangan yang tidak kalah kompleks, terutama dalam proses pencarian jati diri dan menghadapi pengaruh lingkungan pergaulan.

Salah satu hal mendasar yang perlu diperhatikan orang tua adalah validasi emosi, yakni upaya memahami dan mengakui perasaan anak tanpa harus membenarkan semua tindakan yang dilakukannya.

Delis menegaskan, pengenalan emosi seharusnya dimulai dari lingkungan keluarga karena orang tua merupakan pendidik pertama bagi anak. "Guru pertama kita adalah orang tua," ujar Delis, Kamis (15/10/2026).

Delis menjelaskan, memvalidasi emosi bukan berarti membiarkan anak melakukan apa saja. Sebaliknya, orang tua perlu memahami perasaan yang sedang dialami anak sebelum membimbingnya untuk mengelola emosi dengan cara yang tepat.

Misalnya, ketika anak menangis karena mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan, orang tua sebaiknya tidak langsung memarahinya atau meminta anak berhenti menangis.

Orang tua dapat memulai dengan menanyakan apa yang terjadi dan bagaimana perasaan anak. Pendekatan sederhana ini membantu anak belajar mengenali emosinya sekaligus memahami bahwa perasaannya dapat disampaikan secara terbuka.

Sebaliknya, ketika perasaan anak terus-menerus dianggap tidak penting atau diabaikan, anak berpotensi mengalami kesulitan dalam mengenali dan mengungkapkan emosinya.

Kesulitan tersebut dapat memengaruhi cara anak menghadapi persoalan ketika beranjak dewasa.

Karena itu, orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka dan memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan perasaannya tanpa takut dihakimi.
 
Persoalan kesehatan mental remaja juga berkaitan erat dengan kondisi keluarga dan lingkungan sosial.

Delis mengungkapkan, terdapat kasus ketika remaja harus menghadapi persoalan keluarga, termasuk perceraian orang tua, sementara kemampuan mereka dalam mengelola tekanan emosional belum berkembang secara optimal.

Kondisi tersebut dapat membuat remaja kesulitan memahami perasaan sendiri, terutama ketika mereka tidak mendapatkan ruang yang aman untuk bercerita di rumah.

"Kalau dari rumah saja sudah tidak memvalidasi emosinya, dia akan bingung," katanya.

Oleh sebab itu, Delis mengingatkan orang tua agar lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Sikap mudah marah, kecemasan, kecenderungan menarik diri, atau perubahan perilaku lainnya perlu disikapi dengan komunikasi yang terbuka.

Alih-alih langsung menghakimi, orang tua sebaiknya mencari tahu penyebab perubahan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak untuk bercerita.

Dengan demikian, persoalan yang dihadapi anak dapat dikenali lebih awal sehingga mereka bisa mendapatkan dukungan yang sesuai.
 
Untuk membantu masyarakat memperoleh pendampingan, layanan psikologis klinis di Puskesmas Cipadung diawali dengan proses skrining guna mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien.

Selanjutnya, psikolog menggali pengalaman, perasaan, serta persoalan yang dihadapi pasien melalui konsultasi.

Delis menyebutkan, sebagian pasien datang dengan persoalan yang telah dirasakan selama satu hingga dua tahun. Hal ini menunjukkan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak menunda mencari bantuan profesional ketika menghadapi masalah psikologis.

Layanan psikologis juga tersedia di Puskesmas Cipadung dan 11 puskesmas lainnya yang tersebar di Kota Bandung.
Selain pelayanan konsultasi, edukasi mengenai kesehatan mental terus diperluas melalui sekolah dan berbagai kegiatan masyarakat.

Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya kesehatan jiwa, sekaligus mendorong keluarga untuk membangun lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental anak tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kesediaan orang tua untuk mendengarkan, memahami perasaan, dan mendampingi anak menghadapi masalah dapat menjadi fondasi penting bagi perkembangan emosional mereka.

Pewarta: Hamada
Penyunting: Alfen Hoesin
Pengunjung: 209
©2026 tingkap.co

Komentar