Obituari
Dunia Seni Rupa Berduka, Nasirun Berpulang Selamanya

Instagram @nasirunstudio
Nasirun (kiri) sedang menjelaskan karya-karyanya.
YOGYAKARTA, TINGKAP.CO - Innailaihi wa innailaihi rojiun, dunia seni rupa Indonesia berduka, maestro seni rupa kondang Nasirun meninggal dunia pagi ini. Informasi meninggalnya sang seniman salah satunya dibagikan penulis yang juga pelukis sekaligus kerabat Nasirun, Agus Noor. Di akun Instagram pribadinya Agus mengungkapkan rasa belasungkawa atas kepergian Nasirun.
"Mendapat kabar, pelukis Nasirun (@nasirunstudio) meninggal dunia, sekitar pukul 05.30 an, pagi tadi, 1 Agustus 2026. Alfatihah buat almarhum. Saya bersaksi ia orang yang baik," tulis Agus Noor dalam unggahan instagramnya, Sabtu (1/8/2026).
Kepergian maestro seni rupa yang selalu pakai sarung ini juga dibenarkan tetangganya, Bimo Aditya. Menurut Bimo, kepergian Nasirun cukup mendadak.
"Bener (Nasirun meninggal dunia), Jenazah masih di RS AMC," terang Bimo seperti dilansir detik Jogja.
"Nggak ada riwayat sakit, kemarin sore masih ngobrol sama aku, cuma akhir-akhir ini ngeluh dada sakit sama ada asam lambung kemarin. Jadi selama ini sehat sehat wae, dadakan aja ini," sambungnya.
Menurut Bimo, jenazah Nasirun akan dikebumikan di Makam Seni Imogiri Bantul.
Sementara pelukis Hendra Buana kepada TINGKAP.CO mengaku sangat terkejut dengan kepergian mendadak adik kelasnya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu. "Baru seminggu lalu saya ngobrol 1 jam lebih dengan almarhum. Selama ini kita tau dia tidak menggunakan hp saat itu kejutan dia sudah megang hp dan mengaku bisa WA. Kami berencana awal tahun depan mau melukis dengan media batu di alam terbuka di Labuan Bajo Nusa Tenggara. Nasirun yang menentukan waktunya karena dia mau ke Belanda dulu. Rencananya kami berempat dengan Mas Amdo dan Asri Nugroho," ujar Hendra melalui telepon selular, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Hendra almarhum sangat menghormati para senior-senior dalam seni rupa. Perjalanan seni rupa Nasirun meningkat sejak menggelar pameran bersama dengan Afandi, dan Entang Wiharso di Galeri Museum Nasional tahun 1996. "Mulai saat itu karya-karya almarhum semakin banyak dikoleksi. Saat itu yang menjadi kuratornya James Supangkat," kenang Hendra.
"Almarhum sangat baik dan dalam dunia spiritual mendalami tarekat sejak lama. Nasirun sedang pameran berdua dengan pematung Dunadi di Pendopo Art Space, Yogyakarta sampai tanggal 20 Agustus ini. Dunadi kaget mendengar berita duka ini dia sedang berada di Uzbekistan," papar Hendra.
Hendra mengaku banyak kenangan dengan almarhum Nasirun. "Saya banyak kenangan dengan almarhum. Sayang bertemu seminggu lalu lupa berfoto. Dulu dia bergabung dalam kelompok Sekata yang saya ketuai dengan anggota 54 seniman Jogja," tutur Hendra.
Nasirun adalah seorang pelukis, seniman, kolektor seni, dan maestro seni lukis yang terkenal akan penggunaan elemen kebudayaan Jawa dalam karya-karyanya.
Pelukis Hendra Buana (kanan) sedang melayat di rumah duka yang dipenuhi para pelayat (Dok. Hendra Buana).
Nasirun tidak hanya terkenal di Indonesia tetapi juga terkenal ke seluruh Asia Tenggara, bahkan Eropa dan Amerika Utara. Nasirun lahir di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pada 1 Oktober 1965, tetapi kini ia tinggal dan menetap di Wates yang masuk dalam wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sebagai seorang seniman, ia justru lahir dari keluarga pekerja dan petani di daerah pesisir Selatan Jawa. Meskipun tidak lahir dari keluarga seniman, pelukis kaya raya yang pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah di kampungnya itu, tetap bertekad menjadi seorang seniman yang hebat.
Ketertarikannya pada dunia seni dimulai saat ia sejak kecil, ia sangat suka sekali dengan wayang kulit. Uniknya pelukis yang enggan memiliki handphone ini menyukai wayang kulit bukan hanya dari sisi cerita dan legendanya, tetapi juga karena bentuk, warna, dan ornamennya.
Nasirun memiliki jiwa sosial yang tinggi (Instagram @nasirunstudio)
Nasirun menempuh pendidikan seni di Sekolah Seni Rupa Yogyakarta dan lulus pada 1983, lalu ia melanjutkan pendidikan di Jurusan Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa di Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada 1987 dan lulus pada 1994.
Sebagai salah satu seniman yang tersohor Nasirun sudah beberapa kali melakukan pamerean tunggal, bahkan sejak masih berstatus mahasiswa di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Pameran tunggal paling sakral diadakan di Sangkuriang Art Space, Yogyakarta dengan tema Salam Bekti pada 2009 untuk peringatan dan mengenang 1000 hari meninggal ibundanya.
Nasirun mengoleksi lukisan -lukisan lawas para pendahulu seni rupa (Instagram nasirunstudio)
Hasil dari penjualan lukisannya dengan harga yang rata-rata mahal dan dikoleksi banyak kolektor, dia menyisihkan rejekinya yang diistilahkan sebagai zakat kebudayaan untuk menyelamatkan lukisan-lukisan pelukis pendahulunya. Tidak hanya itu, sosok seniman yang bila tertawa selalu lepas ini kerap membantu kehidupan seniman-seniman yang belum beruntung. Selamat jalan sang maestro!
Pewarta: Alfen Hoesin
Penyunting: Alfen Hoesin
Pengunjung: 227
©2026 tingkap.co
