Green Eco Tourism

Kemandirian Gili Trawangan Dalam Keberlanjutan Green Eco Tourism

250415121929-keman.jpg

@tingkap/Ari

Haji Malik melakukan konservasi terumbu karang melalui organisasi nirlaba Eco Trust

LOMBOK, TINGKAP.CO - Gili trawangan merupakan destinasi wisata yang sangat populer di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Pulau dengan luas sekitar 340 hektar ini merupakan pulau terbesar di antara tiga pulau Gili, yaitu Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air yang berada di Kabupaten Lombok Utara, Propinsi Nusa Tenggara Barat.

Adalah Haji Malik yang telah memelopori bermukim di Gili Trawangan sejak tahun 1973. Dia meyakini bahwa Gili Trawangan harus secara mandiri mengelola sumber daya alam dan daya tarik wisatawan untuk mengunjungi pulau nan eksotik itu.

Wisatawan mancanegara dan domestik akan betah di pulau bak surga terpencil itu (@tingkap/Ari)

Oleh karena itu, pengelolaan yang telah dilakukan oleh Haji Malik yang saat ini telah menjadikan pulau Gili Trawangan memperoleh kemandirian dalam pengelolaan  antara lain yakni Konservasi terumbu karang melalui organisasi nirlaba Eco Trust, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu yang menghasilkan zero waste yang dilakukan oleh Front Masyarakat Peduli Lingkungan dan ikut bekerjasama dengan pihak swasta untuk pengolahan air laut menjadi air tawar dengan teknologi Reverse Osmosis untuk kebutuhan masyarakat dan kebutuhan industri pariwisata seperti hotel, villa dan restoran.

Kegiatan yang telah dia lakukan  merupakan kebutuhan mendasar yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat di Pulau dan oleh pengelola industri pariwisata disana.

Haji Malik sang pelopor (Foto: @tingkap/Ari)

Gili trawangan dapat dikategorikan sebagai destinasi green eco tourism karena di pulau tersebut tidak ada kendaraan bermotor yang berbahan bakar minyak, jadi hanya ada sepeda dan kuda sebagai alat transportasi. Kondisi ramah ekosistem ini harus mendapatkan apresiasi dan merupakan kebanggaan industri pariwisata di Indonesia untuk dicontoh oleh destinasi pariwisata lainnya.

Haji Malik mengakhiri penjelasannya mengatakan, Pulau Gili Trawangan ini kami ibaratkan seperti piring kaca.

"Jika kami tidak mengelola piring kaca ini dengan benar dan hati-hati maka suatu saat piring kaca ini akan pecah berkeping-keping. Kami tidak mau hal itu terjadi karena akan mempengaruhi kelangsungan hidup masyarakat di Gili Trawangan dan juga sektor pariwisata yang menjadi andalan kehidupan masyarakat disana. Jadi peningkatan kesadaran masyarakat di Pulau harus terus di edukasi untuk menjaga ekosistem pulau ini," pungkasnya.

Pewarta: Ari
Penyunting: Ghea R
Pengunjung: 1.834
©2025 tingkap.co

Komentar