IWD 2026

Menyulut Semangat Perempuan dan Kaum Marjinal Melawan Penindasan

260309120955-mempr.jpg

@tingkap/Hamada

Aliansi Simpul Puan memperingati International Womens Day (IWD) di Taman Cikapundung Riverspot, Bandung pada Minggu (8/3/26).

BANDUNG, TINGKAP.CO - Massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Simpul Puan memperingati International Womens Day (IWD) di Taman Cikapundung Riverspot, Bandung pada Minggu (8/3/26).

Mengangkat tema Perempuan Bangkit Kembali! Hancurkan Jeruji Fasisme aksi ini mengajak masyarakat untuk lantang menyuarakan keadilan terkait sejumlah isu yang berisiko dapat menindas perempuan dan kaum marjinal.

Ketua koordinator aksi Rasya dan Helvi mengungkapkan, penyelenggaraan IWD tahun ini sebagai ajang untuk membangkitkan semangat perempuan dan kaum terpinggirkan dalam merespons gelombang demoralisasi yang semakin intens.

"Banyaknya tindakan kekerasan aparat terhadap warga sipil, penangkapan secara serampangan, hingga krisis global yang terjadi sudah mengarah ke arah fasisme. Tentu ini melahirkan ketakutan di kalangan masyarakat, maka dari itu kita harus bangkit melawan," ujar Rasya kepada TINGKAP.CO disela-sela kegiatan.

Rasya menjelaskan, kegiatan ini juga merupakan wadah bagi komunitas-komunitas kolektif berekspresi dan bertumbuh untuk mencapai kemandirian ekonomi. Beberapa komunitas yang hadir diantaranya Inti Muda Jawa Barat yang menyediakan tes HIV gratis, Kembang Kata yang berfokus pada literasi buku dan zine, Sukahaji melawan, Face Painting By Boboan Sudio, dan banyak komunitas lainnya.

Rasya koordinator aksi (Foto:@tingkap/Hamada)

"Sebagai bentuk solidaritas berkomunitas, ini hak demokratis, semua dapat menyuarakan keresahannya, semakin banyak elemen masyarakat yang berpartisipasi semakin besar kemungkinan didengar juga, kan?," ujar Rasya.

Sementara Helvi berharap di momen ini perempuan dan kaum marjinal sadar bahwa mereka memiliki hak untuk melawan segala bentuk penindasan yang dapat membunuh eksistensi mereka di muka bumi.

"Apapun keresahannya, apapun bentuk diskriminasi yang tidak hanya dialami oleh perempuan, korban konflik agraria, bahkan kaum LGBT juga punya kesempatan bicara kok, toh penindasnya juga sama," pungkasnya.

Kegiatan dimulai pukul 1 siang tersebut diawali dengan long march dari titik 0 KM Bandung Jalan Asia Afrika menuju titik akhir di Cikapundung River Spot (Braga).

Kegiatan berlangsung lancar, beberapa petugas dari kepolisian dan Pol-PP turut hadir memantau jalannya aksi. Massa aksi mendapat takjil gratis sebelum membubarkan diri dengan tertib selepas waktu adzan magrib berkumandang.

Pewarta: Hamada
Penyunting: Ghea Reformita
Pengunjung: 41
©2026 tingkap.co

Komentar