Bukan Aparatur Biasa
Lurah Bontoa: Antara Tinta Birokrasi dan Nada Budaya

Foto: Istimewa
Lurah Bontoa Saharuddin Lella sang pencinta Seni
MAROS, TINGKAP.CO - Pagi itu, di sebuah ruangan sederhana di Kantor Kelurahan Bontoa, suara ketikan mesin komputer bercampur dengan deru kipas angin tua. Tumpukan berkas pelayanan warga tersusun di meja, menanti tanda tangan sang lurah.
Dengan senyum tenang, Saharuddin Lella memeriksa satu per satu dokumen, menjawab pertanyaan warga yang datang, sambil sesekali bercanda kecil agar suasana tidak terasa kaku. Hal itulah keseharian Lurah Bontoa saat disambangi TINGKAP.CO, Selasa (26/8/2025).
Sekilas, rutinitas ini tak berbeda dengan lurah pada umumnya. Tetapi bagi warga Bontoa, Saharuddin bukan sekadar aparatur pemerintah. Ia adalah sosok yang membawa warna lain di tengah birokrasi yang sering dianggap dingin.
Dari Meja Kerja ke Panggung Seni
Sore harinya, wajah serius yang terbiasa berkutat dengan administrasi berubah. Saharuddin menggenggam gitar, membetulkan nada, lalu melantunkan lagu ciptaannya sendiri.
Bukan sekadar lagu hiburan, melainkan rangkaian pesan moral tentang kebersamaan, penghormatan kepada orang tua, dan kebanggaan pada budaya sendiri.
"Bagi saya, seni adalah energi. Ia membuat saya lebih dekat dengan masyarakat, membuat mereka merasa bahwa lurah bukan hanya tanda tangan di atas kertas, tetapi juga bagian dari kehidupan mereka," ujarnya.
Lewat kanal YouTube pribadinya, ia mengunggah karya-karya musik tersebut. Ada yang sederhana, direkam di ruang tamu, ada pula yang dilengkapi nuansa visual budaya lokal. Semua hadir dengan ketulusan, tanpa ambisi mengejar popularitas.
Budaya sebagai Benteng Generasi
Kecintaannya pada seni dan budaya lahir dari kegelisahan: melihat anak-anak muda semakin akrab dengan budaya populer global, tetapi asing terhadap tradisi leluhur mereka sendiri.
"Kalau sejak kecil mereka sudah dikenalkan dengan budaya lokal, akan tumbuh rasa bangga. Itulah benteng kita dari derasnya arus globalisasi," tutur Saharuddin dengan nada penuh keyakinan.
Menurutnya, tanggung jawab menjaga budaya tidak boleh dibebankan hanya kepada seniman atau pemerintah. "Harus ada kolaborasi. Kalau semua saling mendukung masyarakat, seniman, dan pemerintah budaya kita tidak akan hilang. Justru akan menjadi kebanggaan," tegasnya.
Jejak Kecil, Dampak Besar
Apa yang dilakukan Saharuddin mungkin terlihat sederhana: sebuah lagu, sebuah video, sebuah acara kecil di kampung. Namun dari hal-hal kecil itu, tumbuh kesadaran baru. Anak-anak yang dulu malu memainkan alat musik tradisional kini mulai berani. Orang tua yang sempat pasrah melihat budaya lokal memudar, kini punya harapan.
Di mata warganya, lurah ini bukan hanya pejabat, melainkan sahabat yang peduli pada warisan leluhur.
Dengan langkah-langkah kecil yang konsisten, Saharuddin Lella membuktikan bahwa birokrasi bisa lebih manusiawi, lebih hangat, dan lebih menyentuh hati rakyat, ketika digerakkan oleh cintapada seni, pada budaya, dan pada manusia itu sendiri.
Pewarta: Hakim / Harjan
Penyunting: Ghea R
Pengunjung: 922
©2025 tingkap.co
Berita Terkait
- Perkuat Sinergi dengan Media, Kapolres Mukomuko: Pers Mitra Strategis Polri
- 500 Warga Maros Antusias Ikuti Pemeriksaan Kesehatan Gratis, TBC Dideteksi dengan X-Ray Portabel
- Pascademonstrasi, Pemkot Bandung Kebut Bersihkan Vandalisme di Simpang Lima hingga Braga
- Penghimpunan Zakat BAZNAS Garut Turun Jadi Rp13 Miliar, Ini Penyebabnya
- Bukittinggi Ikuti Evaluasi Keterbukaan Informasi Publik 2026, Sekda Paparkan Komitmen Pemkot
- Satpas Polres Cimahi Pangkas Waktu Tunggu SIM hingga 35 Persen, Layanan Digital Diperkuat
- Bandung Perkuat Siskamling Siaga Bencana, Target Turunkan Risiko Bencana dari 95,15 Jadi 85,15
- Kisah Petugas Damkar Bandung: Berpacu dengan Waktu, Bertaruh Nyawa demi Menyelamatkan Sesama
- Krisis Air Bersih Maros Makin Parah, IPA Pattontongan 54 Hari Berhenti Beroperasi
- Baznas Bandung Himpun Zakat Rp23 Miliar, Farhan Bidik Kontribusi Muzaki Naik Tiga Kali Lipat
