Rusuh di Prancis

Demonstrasi di Prancis Berujung Penjarahan Toko Gucci sampai Versace

261018205457-demon.jpg

Foto: X

Sepeda pun jadi sasaran amuk massa di kerusuhan Prancis

JAKARTA, TINGKAP. CO - Sejumlah kota di Prancis mengalami kerusuhan massal usai demontrasi yang awalnya berlangsung damai. Warga seperti mengalami mimpi buruk saat pemandangan kerusakan luas pada hari Minggu setelah satu hari diwarnai kerusuhan dan demonstrasi. Bagian depan toko hancur, mobil-mobil hangus, sepeda terbakar, serta tumpukan pecahan kaca dan puing-puing berserakan di trotoar kota Paris.

Polisi, seperti dilaporkan BBC menangkap sekitar 1.800 orang pada hari Sabtu, saat kurang lebih 550.000 pengunjuk rasa turun ke jalan dalam aksi yang sebagian besar berlangsung damai.

Mereka berunjuk rasa menentang kenaikan harga bahan bakar, tingginya biaya hidup, serta memburuknya layanan publik, termasuk di sektor pendidikan.

Kelompok perusuh beberapa di antaranya berpakaian serba hitam serta mengenakan masker dan penutup kepala (balaclava) juga muncul di Paris, Marseille, dan sejumlah kota lainnya; beberapa dari mereka bahkan membakar mobil serta bangunan.

Bagian dalam sebuah restoran di ibu kota yang hancur pada Minggu pagi. Penjarahan meluas terjadi di kota Paris, Marseille, dan Lille, serta beberapa wilayah lainnya.

Di Paris, para pengunjuk rasa terlibat bentrokan dengan polisi antihuru-hara, yang kemudian mengerahkan gas air mata dan meriam air ke arah massa. Sepanjang hari, beberapa kelompok menyalakan api di jalanan dan membakar kendaraan. Setidaknya satu restoran hangus dilalap api, dan BBC menyaksikan perkelahian pecah di antara beberapa kelompok tersebut.

Polisi antihuru-hara terlihat menyerbu kerumunan di pusat kota Paris dan memukuli sejumlah orang dengan tongkat (pentungan).

Lebih jauh ke selatan, di Marseille, para pengunjuk rasa menerobos masuk ke balai kota dengan menggunakan pagar logam sebagai alat pendobrak. Di Lille, menurut keterangan polisi, sebuah gerai McDonald's dibakar, sementara sebuah toko Apple di kota tersebut dibobol dan dijarah. Menteri Sbastien Lecornu menyatakan bahwa 150 petugas kepolisian terluka dalam kerusuhan tersebut.

Pada Minggu pagi di Paris, warga mengamati kerusakan yang terjadi, termasuk kaca depan toko-toko merek mewahseperti Ralph Lauren, Gucci, dan Versaceyang hancur.

Para pemilik toko sudah mulai beraktivitas sejak pagi dengan membawa sapu, mengumpulkan pecahan kaca yang besar sebagai bagian dari upaya pembersihan. Truk sampah tampak menyusuri sejumlah jalan utama untuk menyingkirkan puing-puing sisa kerusuhan.

Banyak toko dicoreti dengan grafiti, beberapa di antaranya bertuliskan "pajaki orang kaya" dan "makanlah orang kaya" (eat the rich).

BBC mengunjungi sebuah toko pakaian di dekat Place de la Rpublique yang telah dijarah; tumpukan pakaian dan perabotan tampak berserakan di lantai toko.

Pemilik toko yang sangat terpukul itu menuturkan kepada BBC bahwa ia melihat para penjarah melalui rekaman CCTV berada di dalam tokonya selama lebih dari satu setengah jam. Selama kurun waktu tersebut, ia sama sekali tidak melihat kehadiran polisi.

Pemilik toko yang meminta agar identitasnya tidak diungkap mengatakan kepada BBC bahwa ia yakin mereka yang menjarah tokonya bukanlah pengunjuk rasa yang benar-benar memprotes kondisi sekolah atau biaya hidup. Menurutnya, para penjarah tersebut hanya memanfaatkan situasi demonstrasi.

Rekaman CCTV yang ditayangkan oleh saluran televisi Prancis, Channel 2, memperlihatkan sekelompok remaja sebagian besar mengenakan maskerdi sebuah toko ponsel sedang mengambil barang-barang dari rak.

Rentetan Unjuk Rasa

Unjuk rasa pelajar di Prancis telah melibatkan ratusan ribu orang yang turun ke jalan sejak dimulai pada akhir bulan lalu. Para pengunjuk rasa menuntut investasi tambahan untuk sekolah mereka, seraya mengkritik kurangnya jumlah guru dan staf, ruang kelas yang terlalu padat, serta kondisi bangunan sekolah yang rusak.

Di kota Lyon, Wali Kota Grgory Doucet menyebut pembakaran kantor pariwisata kota sebagai "sebuah tragedi". Kepada media Prancis, BFMTV, ia mengatakan, "Ini sangat menyedihkan bagi kami karena bangunan tersebut merupakan bangunan bersejarah yang sangat ikonik dan terkenal."

Kepolisian setempat menyatakan bahwa ada "individu-individu yang bersikap agresif" yang menghalangi petugas pemadam kebakaran untuk memadamkan api dengan aman.

Petugas pemadam kebakaran juga berupaya memadamkan api di balai kota Limoges, yang menyebabkan sebagian bangunan tersebut runtuh. Para pejabat setempat mengatakan gedung balai kota tersebut "sebagian besar telah hancur."

Maurice Barate, prefek untuk departemen Haute-Vienne, menyatakan bahwa "sekelompok orang yang mengamuk" telah "dengan sengaja" membakar bangunan berusia 143 tahun itu.

Di tempat lain, seorang pemuda "kehilangan tangannya akibat ledakan" yang disebabkan oleh bahan peledak kecil di Saint-tienne. Hal ini disampaikan oleh Wali Kota Rgis Juanico melalui media sosial.

"Tragedi seperti ini seharusnya tidak pernah terjadi," ujarnya.

Pewarta: Defri Saefullah
Penyunting: Defri Saefullah
Pengunjung: 162
©2026 tingkap.co

Komentar