Warning Dari Kampus
Sentimen Konsumen AS Anjlok ke Level Terendah Kedua Dalam Catatan Sejak Tahun 1952

Foto: CNN
Hantu inflasi yang lebih tinggi, membuat suasana hati rakyat negeri Paman Sam itu dalam beberapa bulan terakhir menjadi "galau"
WASHINGTON DC, TINGKAP.CO - Sentimen konsumen anjlok 11% bulan ini ke angka awal 50,8. University of Michigan mengatakan dalam survei terbarunya yang dirilis hari Jumat, angka terendah kedua dalam catatan sejak tahun 1952. Angka di bulan April lebih rendah daripada yang pernah terjadi selama Resesi Besar.
Perang dagang Presiden Donald Trump yang bergejolak, yang mengancam inflasi yang lebih tinggi, telah secara signifikan membebani suasana hati rakyat negeri Paman Sam itu dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini semakin memburuk menjelang pengumuman Trump minggu lalu mengenai kenaikan tarif, menurut survei tersebut.
"Penurunan ini, seperti penurunan bulan lalu, terjadi secara luas dan merata di seluruh usia, pendapatan, pendidikan, wilayah geografis, dan afiliasi politik," ujar Joanne Hsu, direktur survei tersebut, dalam sebuah rilis.
"Sentimen kini telah kehilangan lebih dari 30% sejak Desember 2024 di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang perkembangan perang dagang yang telah terombang-ambing sepanjang tahun ini," tambahnya.
Federal Reserve dan Wall Street mengamati dengan seksama bagaimana sentimen yang memburuk diterjemahkan ke dalam belanja konsumen, yang menyumbang sekitar 70% dari ekonomi AS, dan apakah orang Amerika kehilangan kepercayaan bahwa inflasi akan kembali normal di tahun-tahun mendatang.
Trump pada hari Rabu menghentikan kenaikan tarif besar-besarannya terhadap lusinan negara selama 90 hari, tetapi tetap memberlakukan bea masuk 10% untuk semua impor ke AS dan tarif terpisah untuk produk dan komoditas tertentu.
Tarif yang disebut sebagai tarif resiprokal ini, meskipun tidak berlangsung lama, merupakan kenaikan bea masuk AS yang paling tajam yang pernah terjadi selama 200 tahun terakhir, kata Fitch Ratings kepada CNN.
Namun, China tidak termasuk dalam penangguhan tarif Trump, melanjutkan perselisihan antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia yang berlanjut hingga Jumat, dengan Beijing menaikkan tarif pembalasannya terhadap impor AS menjadi 125% dari 84%.
Survei Michigan dilakukan antara 25 Maret dan 8 April, sehingga tidak menangkap reaksi responden terhadap penundaan tarif yang baru-baru ini diumumkan.
Pewarta: Vero Iskandar (Washington DC)
Penyunting: Ghea R
Pengunjung: 144
©2025 tingkap.co
Berita Terkait
- Trump Mengolok Nama Muhammad, Kemuliaan Rasulullah Tak Akan Pernah Ternoda
- Demonstrasi di Prancis Berujung Penjarahan Toko Gucci sampai Versace
- The Wharf Washington, D.C., Surga Wisata Tepi Sungai dengan Restoran, Marina, dan Hiburan
- Paham Sekuler dan Kemunafikan Dalam Menyikapi Keadilan dan HAM
- Pakai Baterai BYD, Suzuki Luncurkan Mobil Listrik Pertama E-Sky
- Imam Shamsi Ali: Dunia Sedang Retak, Dialog Antaragama Jadi Kunci Perdamaian
- Dialog Imam Shamsi Ali dengan Demonstran Papua Merdeka di New York Berujung Tegang
- Ditawari Kerja di Malaysia, 49 WNI Malah Ditahan di Madagaskar: Haji Uma Surati Kemenlu
- Seruan untuk Menjaga Planet dan Taubat Global Untuk Lingkungan Hidup
- Trump Sebut Sebagian Media Jadi Ancaman Nasional, Samakan Berita Palsu Seperti Kanker
