Berserah Diri

Indahnya Hidup Dengan Tawakkal

260811060539-indah.jpg

Foto: Instagram

                 Oleh: Shamsi Ali Al-Nuyorki 

Subuh ini setelah Subuhan di Masjid saya membaca menyampaikan kajian Buku Riyadhus Salihin oleh imam An-Nawawi. Kebetulan kajian kami telah memasuki Bab Tawakkal. Sebuah konsep yang mendasar dalam agama kita, yang seringkali dipahami secara kurang proporsonal oleh sebagian orang.

Tawakkal itu bukan apatisme. Tapi memiliki tiga komponen penting yang tak terpisahkan. Ikhtiar, yaitu berusaha terbaik dengan penuh kesungguhan. Tafwiidh, yaitu menyerahkan sepenuh hati hasil akhir dari ikhtiar kepada Allah. Dan ridho, yaitu menerima hasil akhir itu dengan hati yang lapang dan tenang.

Tawakkal Pintu Ketenangan Hidup

Kita sadar jika ada momen kita lelah, bahkan terasa kehilangan harapan, dalam menentukan arah kehidupan sesuai keinginan. Kita sudah berusaha, berdoa, merancang, tetapi hasilnya tetap di luar harapan. Di sinilah harus sadar jika tanggung jawab kita adalah berusaha maksimal dan terbaik. Sedangkan hasil akhir adalah wilayah Kekuasaan Allah.

Menyerahkan urusan kepadaNya bukan apatisme, lemah apalagi putus asa. Tapi sadar akan kelemahan dan keterbatasan, dan berhenti memaksa arah kehidupan sesuai kehendak kita.

Saat ketika kita mencapai fase: Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah, sebagaimana diajarkan Al-Quran, kita sesungguhnya berada di tataran tertinggi kemenangan dan ketenangan hidup. Kita tetap berusaha, terus berjuang dengan itqan, namun tidak menggantungkan hasil akhir kepada ikhtiyar dan diri sendiri, tapi kepada Pemilik dan Penguasa kehidupan.

Kesuksesan sejati bukan karena semua yang kita inginkan terwujud sebagaimana kita inginkan. Tetapi ketika sesuatu yang kita inginkan disikapi dengan ridho dalam Kuasa Allah. Berhasil atau belum seharusnya tidak merampas ketenangan hati. Pada titik inilah kesulitan dan kegagalan berubah menjadi pelajaran dan ketenangan.

Mari berikhtiar dengan tangan, berdoa dengan lisan, lalu berserah dengan hati. Mungkin saja badai belum reda, masalah belum selesai, tetapi jiwa tetap tenang karena tahu kepada siapa semua urusan diserahkan. Itulah kemenangan yang terindah. In-shaa-Allah!

Penulis adalah Direktur Jamaica Muslim Center, bermukim di New York, Amerika Serikat.

Komentar