Kebebasan
Dalam Islam Kebebasan Harus Disertai Tanggung Jawab

Foto: Istimewa
Wali Kota New York Zohran Mamdani (kiri) bersama Imam Shamsi Ali Al-Nuyorki.
Oleh: Ali Shamsi Al-Nuyorki
Saudara-saudaraku sekalian,
Sebagaimana biasa, kita memulai dengan merendahkan diri di hadapan Allah, memohon keberkahan dan ampunan-Nya. Semoga Allah memberkahi keluarga kita, mengampuni kekurangan, kesalahan, dan dosa-dosa kita.
Ada begitu banyak nikmat yang patut kita syukuri kepada Allah. Namun izinkan saya menekankan satu hal: Allah telah memilih kita. Saya menggunakan kata memilih karena kita menjadi Muslim adalah atas pilihan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka kita bersyukur kepada Allah karena termasuk orang-orang yang dipilih untuk beriman kepada agama ini.
Agama ini disebut sebagai "Hanfan Musliman". Apa makna Hanifiyah?
Hanifiyah berarti bahwa agama kita selaras dengan fitrah manusia. Segala kecenderungan alami manusia mendapat tempat dalam Islam. Misalnya, jika seseorang ingin mencari rezeki, Islam tidak melarangnya, tetapi memberi tuntunan. Seorang laki-laki secara fitrah tertarik kepada perempuan, dan perempuan kepada laki-laki. Itulah fitrah manusia.
Salah satu fitrah manusia adalah keinginan untuk bebas. Setiap manusia pada dasarnya ingin merdeka. Itulah sebabnya kita melihat banyak orang rela mengorbankan nyawa demi kebebasan, karena bagi mereka kebebasan adalah kehidupan itu sendiri.
Namun dalam Islam, alhamdulillah, kita memahami bahwa kebebasan harus disertai tanggung jawab.
Ketika kita mengucapkan kalimat tauhid, "L ilha illallh", terdapat dua bagian:
- L ilha: membebaskan diri dari segala sesembahan selain Allah.
- Illallh: kebebasan yang memiliki batasan, yaitu tunduk kepada Allah.
Orang bertanya, "Bagaimana mungkin seseorang bebas jika ada batasan?"
Jawabannya, kebebasan tanpa batas bukanlah kebebasan yang bertanggung jawab.
Sebagai contoh, di Amerika ada yang disebut kebebasan berbicara (freedom of speech). Saya boleh menyampaikan pendapat saya. Namun hak saya dibatasi oleh hak orang lain. Atas nama kebebasan, saya tidak boleh menghina tetangga saya atau menghina keyakinan agama lain.
Demikian pula, jika seseorang menghina Nabi Muhammad atas nama kebebasan, itu bukan kebebasan, melainkan ketidakbertanggungjawaban.
Saudara-saudaraku, alhamdulillah Allah telah memilih kita menjadi bagian dari agama yang sesuai dengan fitrah manusia.
Besok Amerika akan merayakan Hari Kemerdekaannya. Ketika berbicara tentang kemerdekaan, kita berbicara tentang kebebasan.
Saya ingin mengingatkan diri kita semua. Kita hidup di Amerika. Entah Anda datang ke negeri ini puluhan tahun lalu, beberapa tahun lalu, atau bahkan baru kemarin, jika Anda menjadikan Amerika sebagai rumah, maka Anda adalah bagian dari negara ini, sama seperti warga lainnya.
Jika ada yang berkata, "Saya lebih Amerika karena nenek moyang saya berasal dari Eropa," maka katakanlah, "Kalau begitu kembali saja ke Eropa." Amerika adalah negeri para imigran.
Terlepas dari berbagai kekurangannya, alhamdulillah Amerika masih merupakan salah satu tempat terbaik bagi umat Islam untuk hidup. Kita masih dapat shalat, berpuasa, dan hal lainnya.
Amerika masih merupakan tempat yang baik untuk ditinggali. Namun Amerika membutuhkan kita agar menjadi lebih baik: lebih ramah, lebih penyayang, lebih terbuka, dan lebih menerima semua orang.
Kita membutuhkan Amerika yang penuh kasih. Apa yang harus kita lakukan?
Pertama, kita menyadari bahwa Amerika saat ini sedang mengalami disorientasi. Disorientasi berarti kehilangan arah.
Hal ini dapat kita renungkan dari penutup Surah Al-Fatihah:
...wa la-lln.
...dan bukan pula jalan mereka yang sesat.
(QS. Al-Fatihah [1]: 7)
Orang-orang tidak mengetahui kemana tujuan hidup mereka. Mereka terus mengumpulkan lebih banyak harta, tetapi tidak tahu untuk apa semuanya itu.
Saya sering berkata kepada para pemuda, bayangkan jika seseorang menjadi miliarder pertama di dunia, tetapi tidak tahu ke mana tujuan hidupnya. Betapa menyedihkan.
Alhamdulillah, Islam mengajarkan kepada kita tujuan hidup.
Allah berfirman:
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.
(QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)
Allah juga berfirman kepada Adam:
...Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan di bumi ada tempat tinggal dan kesenangan bagimu sampai waktu yang telah ditentukan."
(QS. Al-Baqarah [2]: 36; lihat juga QS. Al-A'raf [7]: 24)
Kehidupan dunia hanyalah persinggahan yang sangat singkat.
Karena itu, Islam datang untuk mengajarkan kepada kita ke mana kita akan menuju. Keberadaan kita di Amerika adalah untuk membawa dakwah kepada masyarakat yang masih kehilangan arah hidup.
Kedua, Amerika perlu membebaskan dirinya dari ketimpangan sosial.
Sebagai Muslim di Amerika, kita harus berusaha menjadikan masyarakat lebih baik. Salah satu ukuran masyarakat yang baik adalah semakin kecilnya kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin.
Saya tidak terlalu peduli apakah sistem itu disebut kapitalisme atau istilah politik lainnya. Yang saya pedulikan adalah bagaimana mengurangi jurang antara yang kaya dan yang miskin.
Itulah nilai yang diajarkan Islam.
Jika sistem yang ada tidak mendukung keadilan tersebut, maka kita harus menyampaikan bahwa sistem itu perlu diperbaiki. Dan perubahan itu memerlukan peran pemerintah. Itulah kontribusi kita.
Ketiga, Amerika harus membebaskan dirinya dari perpecahan rasial yang melahirkan rasisme.
Rasisme sering disebut sebagai dosa asal (original sin) Amerika. Sejak bangsa Eropa pertama kali datang ke benua ini, masyarakat pribumi (Native Americans) secara perlahan dimarginalkan. Pada awalnya mereka diajak merayakan Thanksgiving bersama, tetapi kemudian disingkirkan sedikit demi sedikit.
Keempat, Amerika harus membebaskan dirinya dari kebodohan yang melahirkan kebencian.
Salah satu akibatnya adalah meningkatnya Islamofobia.
Di New York City, meskipun untuk pertama kalinya kota ini memiliki seorang wali kota Muslim, masih ada sebagian anggota dewan kota yang menyerang Islam. Hal itu terjadi karena ketidaktahuan.
Amerika harus terbebas dari kebodohan yang melahirkan kebencian. Sebab jika hari ini Anda membenci orang lain, suatu hari orang lain pun akan membenci Anda.
Kita harus mengajarkan agar masyarakat mengenal tetangganya.
Tetangga saya adalah seorang warga Amerika keturunan Irlandia. Saya mengetuk pintunya dan memperkenalkan diri. Seorang wanita berusia sekitar 85 tahun membukakan pintu dengan terkaget.
Saya berkata kepadanya, "Bukankah Nabi Isa (Yesus) dalam Injil mengajarkan untuk mengasihi Tuhanmu dan mengasihi sesamamu? Bagaimana mungkin Anda dapat mengasihi saya jika Anda tidak mengenal saya? Itulah sebabnya saya datang untuk memperkenalkan diri."
Sering kali Amerika ingin dikenal oleh dunia, tetapi tidak mau mengenal orang lain. Mereka ingin menjadi yang terbaik, negara adidaya, tetapi kurang berusaha memahami siapa bangsa Afrika, siapa bangsa Asia, dan masyarakat lainnya.
Amerika juga harus membebaskan dirinya dari materialisme.
Bukan berarti kita tidak boleh bekerja keras mencari kehidupan dunia. Ada perbedaan antara bekerja keras mencari rezeki dengan menjadikan materi sebagai tujuan utama hidup.
Bagi umat Islam, konsep "pursuit of happiness" (mengejar kebahagiaan) adalah sesuatu yang sejalan dengan Islam. Allah menghendaki kita menjadi orang-orang yang berhasil.
Allah berfirman:
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
(QS. Al-Baqarah [2]: 5)
Namun konsep keberhasilan menurut Islam berbeda.
Keberhasilan menurut Islam adalah:
...Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat
(QS. Al-Baqarah [2]: 201)
Inilah tanggung jawab kita sebagai Muslim: mengajarkan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya harta yang dikumpulkan, tetapi juga dari keselamatan di akhirat.
Amerika memang telah merdeka secara politik. Namun Amerika masih terus berjuang untuk membebaskan dirinya dari berbagai persoalan.
Karena itu, saya meyakini bahwa keberadaan kita di Amerika adalah sebuah amanah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Saya sering mengatakan bahwa kita tidak berada di sini hanya untuk menikmati makanan biryani atau sekadar mencari kehidupan yang nyaman. Kita berada di sini karena memiliki tujuan dan misi.
Misi kita bukan sekadar menjadikan Amerika "hebat kembali", melainkan menjadikannya lebih baik, lebih baik hati, dan lebih penuh kasih sayang terhadap sesama.
Wallahu alam bis shawab.
New York, 3 Juli 2026
Penulis adalah Presiden Nusantara Foundation dan Direktur Jamaica Muslim Center.
Pewarta:
Penyunting: Alfen Hoesin
Pengunjung: 142
©2026 tingkap.co
Berita Terkait
- Trump Mengolok Nama Muhammad, Kemuliaan Rasulullah Tak Akan Pernah Ternoda
- Demonstrasi di Prancis Berujung Penjarahan Toko Gucci sampai Versace
- The Wharf Washington, D.C., Surga Wisata Tepi Sungai dengan Restoran, Marina, dan Hiburan
- Paham Sekuler dan Kemunafikan Dalam Menyikapi Keadilan dan HAM
- Pakai Baterai BYD, Suzuki Luncurkan Mobil Listrik Pertama E-Sky
- Imam Shamsi Ali: Dunia Sedang Retak, Dialog Antaragama Jadi Kunci Perdamaian
- Dialog Imam Shamsi Ali dengan Demonstran Papua Merdeka di New York Berujung Tegang
- Ditawari Kerja di Malaysia, 49 WNI Malah Ditahan di Madagaskar: Haji Uma Surati Kemenlu
- Seruan untuk Menjaga Planet dan Taubat Global Untuk Lingkungan Hidup
- Trump Sebut Sebagian Media Jadi Ancaman Nasional, Samakan Berita Palsu Seperti Kanker
