Perjalanan Manusia
Cerita Hidup Itu Belum Selesai - Sambungan

Foto: IG Imamshamsi
Oleh: Shamsi Ali Al-Nuyorki
Jika pada tulisan sebelumnya kisah Nabi Yusuf AS mengajarkan kita bagaimana memahami alur kehidupan melalui berbagai ujian dan ketetapan Allah, kali ini mari kita belajar dari kisah Nabi Musa AS.
Kisah Musa bukan sekadar cerita tentang seorang nabi. Di dalamnya ada pelajaran tentang ketakutan, kehilangan, hijrah, penantian, harapan, dan keyakinan kepada Allah.
Sebab terkadang, ketika hidup membawa kita keluar dari sesuatu yang kita cintai, kita mengira semuanya telah berakhir.
Padahal, bisa jadi justru di situlah Allah sedang memulai babak baru kehidupan kita.
Dari Ketakutan di Mesir Menuju Keamanan di Madyan
Sebuah pertengkaran terjadi di Mesir antara seorang warga Mesir dan seorang dari Bani Israil. Musa AS yang saat itu masih menjadi manusia biasa dan belum diangkat sebagai nabi, secara naluriah membela orang dari kaumnya.
Peristiwa itu kemudian berujung pada kematian warga Mesir tersebut.
Kabar itu menyebar. Fir'aun dan para pembesarnya berusaha mencari Musa untuk menangkap dan menghukumnya.
Musa pun berada dalam situasi yang sangat genting.
Ia takut.
Ia merasa tidak aman dan terancam. Akhirnya, ia meninggalkan Mesir dan berjalan menuju tempat yang sama sekali tidak ia kenal: Madyan.
Al-Qur'an menggambarkan keadaan Musa ketika meninggalkan Mesir:
Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut dan waspada.
(QS. Al-Qashash: 21)
Bayangkan keadaan Musa saat itu.
Ia pergi bukan untuk berwisata. Ia tidak membawa peta kehidupan yang jelas. Ia tidak tahu secara pasti apa yang akan terjadi di tempat tujuan.
Ia hanya berjalan sambil membawa harapan dan doa:
Mudah-mudahan Tuhanku menunjukkan aku ke jalan yang benar.
(QS. Al-Qashash: 22)
Namun siapa sangka, perjalanan yang bermula dari ketakutan itu justru menjadi jalan menuju kehidupan baru.
Di Madyan, Musa menemukan keamanan. Ia memperoleh pekerjaan, membangun kehidupan, bahkan menikah dengan salah seorang putri dari seorang hamba Allah yang saleh.
Lebih dari itu, bertahun-tahun kehidupannya di Madyan ternyata menjadi masa persiapan untuk sebuah tugas yang jauh lebih besar: menghadapi Fir'aun.
Betapa indah cara Allah mengatur kehidupan.
Apa yang bagi Musa mungkin terlihat sebagai pelarian, ternyata bagi Allah adalah persiapan.
Apa yang terlihat seperti kehilangan, ternyata merupakan jalan menuju sesuatu yang lebih besar.
Jangan Menilai Hidup Hanya dari Bab yang Sedang Kita Jalani
Dari kisah Musa kita belajar bahwa keadaan jiwa seseorang bisa berubah begitu drastis ketika ia mengetahui ke mana arah perjalanan hidupnya.
Pada awalnya ada ketakutan.
Ada kecemasan.
Ada ketidakpastian.
Tetapi kemudian datang rasa aman, ketenangan, dan keyakinan.
Begitulah cerita hidup kita.
Sering kali kita merasa takut hanya karena belum mengetahui akhir dari sebuah perjalanan.
Ketika kehilangan pekerjaan, kita merasa masa depan tertutup.
Ketika sebuah hubungan berakhir, kita merasa kebahagiaan telah pergi.
Ketika harus meninggalkan sebuah tempat, kita merasa kehidupan terbaik kita telah selesai.
Ketika sebuah doa belum dikabulkan, kita bertanya-tanya mengapa Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan.
Padahal, kita hanya sedang melihat satu halaman dari sebuah cerita yang belum selesai.
Karena itu, jangan buru-buru menyimpulkan kehidupan hanya berdasarkan apa yang sedang terjadi hari ini.
Perjalanan masih panjang.
Kita tidak mengetahui apa yang Allah siapkan di halaman berikutnya.
Hijrah Rasulullah SAW: Meninggalkan Makkah, Menemukan Jalan Kemenangan
Pelajaran yang sama juga dapat kita lihat dalam hijrah Rasulullah SAW.
Makkah adalah kota yang sangat beliau cintai. Di sanalah beliau dilahirkan. Di sanalah keluarga dan kehidupan beliau berada. Di sanalah terdapat Ka'bah, Rumah Allah yang menjadi pusat kecintaan kaum Muslimin.
Namun Rasulullah SAW harus meninggalkan kota tersebut dalam keadaan penuh ancaman.
Secara manusiawi, hijrah itu tampak seperti sebuah kehilangan.
Beliau meninggalkan rumah.
Meninggalkan lingkungan yang dicintai.
Meninggalkan tanah kelahiran.
Namun keluarnya Rasulullah SAW dari Makkah bukanlah akhir dari perjuangan.
Justru dari perjalanan itulah terbuka babak baru dalam sejarah Islam.
Madinah menjadi tempat Rasulullah SAW membangun masyarakat Islam yang berperadaban. Dari sana, dakwah berkembang dan akhirnya Rasulullah SAW kembali ke Makkah dalam keadaan yang jauh berbeda.
Maka kita belajar satu hal penting:
Tidak setiap kepergian adalah kehilangan.
Dan sebaliknya, tidak setiap sesuatu yang kita pertahankan akan selalu membawa kebaikan.
Ada kalanya Allah meminta kita meninggalkan sesuatu bukan karena Allah ingin mengambil kebahagiaan kita, tetapi karena Dia sedang mengarahkan kita menuju jalan yang belum kita lihat.
Allah berfirman:
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui
Kalimat yang sederhana, tetapi sangat dalam.
Sebab manusia hanya melihat apa yang ada di depan mata.
Sementara Allah mengetahui seluruh perjalanan. Ketika Penolakan Ternyata Menjadi Jalan Kebaikan
Coba bayangkan seorang pemuda yang selama bertahun-tahun mendambakan sebuah pekerjaan.
Ia berdoa.
Ia belajar.
Ia mempersiapkan diri.
Ia berusaha sebaik mungkin.
Namun pada akhirnya, ia ditolak.
Ia kecewa. Mungkin juga marah. Bahkan ia merasa masa depannya telah berakhir.
Tetapi beberapa waktu kemudian, terbuka sebuah pintu lain yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
Ia memasukinya.
Dan ternyata di sanalah ia menemukan kesempatan, pengalaman, lingkungan, serta kebaikan yang lebih luas.
Karena itu, jangan jadikan satu penolakan sebagai bukti bahwa Allah telah menutup seluruh masa depanmu.
Satu pintu yang tertutup tidak berarti seluruh pintu kehidupan ikut tertutup.
Bisa jadi Allah hanya sedang mengarahkanmu kepada pintu yang berbeda.
Tidak Semua Kehilangan Harus Diganti di Dunia. Ada pula seseorang yang begitu terikat kepada sesuatu hingga merasa kebahagiaannya bergantung sepenuhnya pada hal tersebut.
Namun Allah tidak menakdirkannya untuk memilikinya.
Hari berganti.
Bulan berganti.
Bahkan mungkin bertahun-tahun berlalu.
Sampai suatu hari ia melihat kembali kehidupannya dan berkata:
Alhamdulillah, ternyata Allah tidak memberiku sesuatu yang dulu kukira sebagai seluruh kebaikan.
Ada pula orang yang bertahun-tahun tinggal di sebuah kota.
Kemudian keadaan memaksanya pergi.
Ia menangis ketika mengemasi barang-barangnya. Ia merasa hari-hari terbaik dalam hidupnya telah tertinggal di belakang.
Namun di tempat baru, Allah menghadirkan sahabat-sahabat yang baik, ilmu, rezeki, pengalaman, dan berbagai pintu kebaikan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
Tetapi ada pula bentuk kehilangan yang berbeda. Kadang-kadang sesuatu benar-benar hilang dan tidak pernah digantikan dengan sesuatu yang serupa di dunia.
Dan di sinilah iman seorang mukmin diuji.
Sebab janji Allah bukan berarti setiap kehilangan di dunia pasti akan diganti dengan sesuatu yang lebih indah di dunia.
Ada orang beriman yang kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya dan tetap merindukannya hingga akhir hayat.
Namun kesabaran itu tidak pernah sia-sia di sisi Allah.
Seluruh Perjalanan Seorang Mukmin Adalah Kebaikan
Rasulullah SAW bersabda:
Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan. (HR. Muslim)
Kebaikan tidak selalu berarti mendapatkan apa yang kita inginkan. Kadang kebaikan hadir dalam bentuk sesuatu yang Allah berikan.
Kadang justru dalam bentuk sesuatu yang Allah palingkan dari kita.
Kadang kebaikan itu berupa iman yang semakin matang setelah melewati ujian.
Kadang berupa dosa-dosa yang Allah gugurkan.Kadang berupa derajat yang Allah tinggikan.
Dan bisa jadi, kebaikan itu bukan sesuatu yang kita nikmati di dunia sama sekali.
Bisa jadi Allah menyimpannya untuk kita di akhiratdi tempat yang tidak ada lagi kehilangan, tidak ada lagi perpisahan, dan tidak ada lagi air mata.
Maka jika hari ini hidup terasa tidak sesuai dengan harapan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ceritamu telah berakhir. Cerita hidupmu belum selesai.
Apa yang tampak sebagai kehilangan mungkin sedang menjadi jalan.
Apa yang tampak sebagai penolakan mungkin sedang menjadi perlindungan.
Apa yang tampak sebagai akhir mungkin sebenarnya adalah awal.
Kita memang tidak mengetahui seluruh cerita. Tetapi kita tahu siapa yang menulisnya.
Dan selama kita terus berikhtiar, bersabar, berdoa, dan bersandar kepada Allah, kita tidak perlu mengetahui seluruh jalan untuk tetap melangkah. Sebab Allah mengetahui akhir dari cerita yang bahkan belum selesai kita jalani.
InsyaAllah.
New York, 18 September 2026
Shamsi Ali Al-Nuyorki
Pewarta:
Penyunting: Alfen Hoesin
Pengunjung: 349
©2026 tingkap.co
Berita Terkait
- Trump Mengolok Nama Muhammad, Kemuliaan Rasulullah Tak Akan Pernah Ternoda
- Demonstrasi di Prancis Berujung Penjarahan Toko Gucci sampai Versace
- The Wharf Washington, D.C., Surga Wisata Tepi Sungai dengan Restoran, Marina, dan Hiburan
- Paham Sekuler dan Kemunafikan Dalam Menyikapi Keadilan dan HAM
- Pakai Baterai BYD, Suzuki Luncurkan Mobil Listrik Pertama E-Sky
- Imam Shamsi Ali: Dunia Sedang Retak, Dialog Antaragama Jadi Kunci Perdamaian
- Dialog Imam Shamsi Ali dengan Demonstran Papua Merdeka di New York Berujung Tegang
- Ditawari Kerja di Malaysia, 49 WNI Malah Ditahan di Madagaskar: Haji Uma Surati Kemenlu
- Seruan untuk Menjaga Planet dan Taubat Global Untuk Lingkungan Hidup
- Trump Sebut Sebagian Media Jadi Ancaman Nasional, Samakan Berita Palsu Seperti Kanker
