Pekerjaan Iblis
Rasisme: Dosa Asal Amerika Serikat

Foto: Instagram
Oleh:
Imam Shamsi Al-Nuyorki
Ada paradoks yang nyata di Amerika Serikat. Di satu sisi, kita bangga disebut pelopor hak asasi manusia, keadilan, dan kesetaraan, nilai-nilai yang terus kita gaungkan ke seluruh dunia. Di sisi lain, kita sedang menyaksikan babak kelam dalam sejarah bangsa ini.
Kebijakan pemerintahan Trump terhadap imigran, terutama warga Hispanik dan kelompok non-kulit putih, adalah contoh nyata kekejaman dan perilaku rasis. Begitu pula upaya membungkam suara pro-Palestina di kampus-kampus negeri Paman Sam itu adalah bukti nyata rasisme yang tinggi dan sistemik di era pemerintahan tersebut.
Sebagai bagian dari komunitas minoritas, perlakuan ini tidak mengejutkan saya maupun banyak orang lain. Tapi selama ini saya tetap membela Amerika Serikat. Saya percaya, kasus racial profiling tidak mewakili wajah sejati bangsa ini. Saya menghormati Konstitusi dan nilai-nilai universal yang Amerika Serikat sebarkan ke dunia.
Akar Rasisme
Saya pernah menyebut penyakit rasisme di Amerika Serikat sebagai dosa asalnya. Rasisme bukan fenomena baru. Ia sudah ada sejak bangsa ini berdiri.
Penduduk asli negeri ini adalah Native American, yang hari ini kita kenal sebagai Indian. Merekalah pemilik sah tanah ini. Semua yang lain, termasuk imigran Eropa, tetaplah pendatang. Tidak ada yang berhak mengklaim diri sebagai pribumi asli Amerika.
Sejarah mencatat, ketika orang Eropa tiba, mereka disambut oleh Native American. Bahkan mereka merayakan Thanksgiving bersama. Tapi perayaan itu kemudian berubah makna: menjadi simbol dominasi imigran Eropa atas penduduk asli. Akibatnya: peminggiran, penindasan, hingga nyaris pemusnahan.
Perlakuan serupa dialami warga Afrika yang dibawa ke negeri ini sebagai budak. Ketidakadilan itu berlanjut dari era perjuangan Martin Luther King Jr. sampai hari ini. Warga Jepang diperlakukan buruk setelah Perang Dunia II. Kini, warga Hispanik, Asia, dan khususnya komunitas Muslim masih menghadapi berbagai bentuk diskriminasi.
Realita Saat Ini
Terpilihnya pemerintahan saat ini telah membuat kaum rasis dan anti-non-kulit putih semakin berani. Supremasi kulit putih dan nasionalisme ekstrem kembali menguat. Islamofobia dan kebencian terhadap minoritas pun meningkat.
Perlu diingat: perlakuan buruk terhadap Muslim bukan hal baru. Ia sudah ada jauh sebelum 9/11, dan terus berlanjut hingga sekarang.
Tanggung Jawab Kita Bersama
Iklim politik saat ini seharusnya menyadarkan kita: melawan rasisme dan ketidakadilan adalah tanggung jawab bersama. Ingat, keadilan itu setara dengan kehidupan. Hidup tanpa keadilan sama artinya dengan mati. Rasisme adalah pekerjaan iblis, dan kita harus bangkit melawannya secara kolektif.
Setiap warga Amerika harus berdiri melawan rasisme dan membela Konstitusi serta nilai-nilai bangsanya. Para pemimpin punya kewajiban moral dan konstitusional untuk menegakkan keadilan dan kesetaraan. Kita butuh keberanian dan kejujuran untuk menyembuhkan penyakit sosial ini.
Meski tantangannya besar, saya tetap yakin pada kehebatan dan keindahan Amerika. Jika kita benar-benar menjunjung tinggi Konstitusi dan nilai-nilai yang kita banggakan, kita bisa membangun Amerika yang lebih baik. Dengan usaha dan tekad bersama, kita pasti bisa mengusir gelapnya rasisme dan menciptakan masa depan yang lebih cerah untuk semua.
Selamat Hari Juneteenth untuk Amerika!
New York City, 19 Juni 2025
Direktur Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundation
Pewarta:
Penyunting: Alfen Hoesin
Pengunjung: 151
©2026 tingkap.co
Berita Terkait
- Trump Mengolok Nama Muhammad, Kemuliaan Rasulullah Tak Akan Pernah Ternoda
- Demonstrasi di Prancis Berujung Penjarahan Toko Gucci sampai Versace
- The Wharf Washington, D.C., Surga Wisata Tepi Sungai dengan Restoran, Marina, dan Hiburan
- Paham Sekuler dan Kemunafikan Dalam Menyikapi Keadilan dan HAM
- Pakai Baterai BYD, Suzuki Luncurkan Mobil Listrik Pertama E-Sky
- Imam Shamsi Ali: Dunia Sedang Retak, Dialog Antaragama Jadi Kunci Perdamaian
- Dialog Imam Shamsi Ali dengan Demonstran Papua Merdeka di New York Berujung Tegang
- Ditawari Kerja di Malaysia, 49 WNI Malah Ditahan di Madagaskar: Haji Uma Surati Kemenlu
- Seruan untuk Menjaga Planet dan Taubat Global Untuk Lingkungan Hidup
- Trump Sebut Sebagian Media Jadi Ancaman Nasional, Samakan Berita Palsu Seperti Kanker
