Dialog Antaragama
Imam Shamsi Ali: Dunia Sedang Retak, Dialog Antaragama Jadi Kunci Perdamaian
NEW YORK, TINGKAP.CO - Dunia kita sedang retak. Kalimat itu menjadi salah satu pesan kuat yang disampaikan Imam Shamsi Ali dalam sebuah pidato di sebuah gereja bersejarah di New York, Amerika Serikat.
Di tengah meningkatnya konflik, polarisasi, hoaks, dan penyebaran informasi palsu melalui media sosial, ia mengingatkan pentingnya membangun kepercayaan lintas agama sebelum krisis terjadi.
Tokoh Muslim asal Indonesia yang telah lama bermukim di New York, Amerika Serikat itu membuka pidatonya di depan tokoh-tokoh agama, akademisi, dan jurnalis. Bahkan guru besar Jurnalistik dari New York University, Prof. Peter Beinart.
Imam Shamsi Ali menyapa hadirin dengan sapaan pluralisme yang mencerminkan semangat keberagaman. "Shalom, namaste, peace and assalamu alaikum. Semoga kedamaian dan keberkahan Tuhan dilimpahkan kepada kita semua," ucapnya dari atas mimbar.
Imam Shamsi Ali mengaku pernah mengunjungi gereja tersebut pada 2002-2004. Namun, kehadirannya kali ini bukan sekadar untuk mengenang masa lalu. Ia justru membawa pesan tentang kondisi dunia yang menurutnya semakin menghadapi tantangan serius.
"Dunia kita sedang retak. Keretakan yang mengarah pada permusuhan, bahkan kekerasan dan berbagai bentuk kekejaman yang mengancam kemanusiaan kita bersama," katanya.
Dari Perang Ideologi ke Konflik Identitas. Menurut Imam Shamsi Ali, pola perpecahan manusia mengalami perubahan. Pada abad ke-20, dunia banyak diwarnai pertentangan ideologi, termasuk persaingan antara kapitalisme dan komunisme. Sementara memasuki abad ke-21, garis pemisah justru semakin banyak berkaitan dengan identitas agama, bangsa dan kelompok.
"Di abad ini, perpecahan kita adalah: agama saya melawan agama Anda, bangsa saya melawan bangsa Anda, rakyat saya melawan rakyat Anda," tegasnya.
Ia juga menyoroti kembali menguatnya peran agama dalam kehidupan publik dan politik di berbagai belahan dunia. "Dari New Delhi ke Washington, dari Yangon ke Yerusalem, dari Berlin ke Tel Aviv hingga Teheran, baik untuk kebaikan maupun keburukan, agama kembali membentuk politik," ujarnya.
Karena itu, menurutnya, dialog antaragama tidak boleh lagi dipandang hanya sebagai kegiatan seremonial atau program budaya.
"Dialog antaragama adalah infrastruktur penting untuk perdamaian. Ini adalah kebutuhan keamanan," katanya.
Kita Berada di Gedung yang Sama, tetapi Tidak Saling Bicara
Imam Shamsi Ali kemudian menggunakan analogi sederhana untuk menggambarkan kehidupan manusia di era globalisasi dan media sosial.
Globalisasi telah membawa kita ke dalam gedung yang sama, entah gedung itu bernama New York, London, Jakarta, Dhaka, atau New Delhi, tapi kita terus hidup di alam semesta moral yang terpisah secara online. Kita naik elevator yang sama tapi kita tidak saling bicara.
Menurutnya, dialog antaragama ibarat percakapan di dalam elevator yang dapat mencegah sebuah gedung terbakar.
"Dialog antaragama adalah percakapan di dalam elevator itu yang mencegah seluruh gedung terbakar," tuturnya.
Satu Klik Bisa Menyebarkan Kebencian. Tantangan tersebut menjadi semakin besar di era media sosial dan kecerdasan buatan. Jika dahulu pesan kebencian hanya dapat menjangkau kelompok kecil dalam sebuah komunitas, kini sebuah unggahan dapat menyebar ke jutaan orang dalam waktu singkat.
"Satu generasi yang lalu, pesan kebencian hanya bisa menjangkau ratusan orang di sebuah desa. Hari ini, satu klik saja di TikTok, Instagram, X atau Facebook bisa menjangkau jutaan orang dalam semalam," katanya.
Ia juga mengingatkan bahaya teknologi AI, khususnya penyebaran konten palsu yang dapat memicu konflik antaragama.
"Video deepfake buatan AI yang menunjukkan tindakan penistaan agama yang palsu bisa menyulut kerusuhan di benua lain dalam hitungan jam," ujarnya.
Pertanyaannya, siapa yang dapat meredakan situasi ketika informasi palsu tersebut telanjur menyebar?
Menurut Imam Shamsi Ali, salah satu jawabannya adalah kepercayaan yang telah dibangun jauh sebelum krisis terjadi.
"Tidak ada yang bisa menahan ini kecuali kepercayaan yang sudah ada sebelumnya antara para pemimpin agama, imam, rabi, pandit, pastor yang saling mengenal dan saling percaya, yang bisa datang dan meredakan situasi secara real time," jelasnya.
Karena itu, dialog harus dilakukan sebelum krisis, bukan baru dimulai setelah konflik pecah.
Tantangan Dunia Terlalu Besar untuk Ditanggung Sendiri.
Ia juga menilai berbagai persoalan global seperti perubahan iklim, perkembangan AI dan konflik internasional tidak mungkin diselesaikan hanya oleh satu agama, bangsa atau kelompok.
Dibutuhkan kerja sama lintas komunitas dan lintas keyakinan untuk menghadapi tantangan tersebut.
Pada bagian akhir pidatonya, Imam Shamsi Ali membagikan pengalaman pribadi yang menyentuh.
Ia mengisahkan pertanyaan cucu-cucunya ketika mendengar orang berkata kepada seseorang, "Pulanglah ke negaramu.
Jadi negara kita yang mana, ketika orang-orang berkata pulanglah ke negaramu?," demikian pertanyaan yang ia ceritakan.
Ia kemudian mengaitkannya dengan apa yang disebutnya sebagai nasionalisme agama, yakni pandangan yang menganggap hanya agama atau ras tertentu yang berhak memiliki sebuah negara.
Menutup pidatonya, Imam Shamsi Ali mengajak masyarakat dari berbagai agama untuk membangun hubungan yang lebih dekat dan saling percaya.
Mari kita dalam pertemuan terbaik ini berkomitmen untuk benar-benar saling mengenal, untuk saling belajar dari satu sama lain, untuk bersatu dalam keberagaman kita tetapi untuk saling melayani satu sama lain, dan bersama-sama membangun dunia yang lebih baik untuk semua orang, untuk semua umat.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi masyarakat Indonesia yang hidup dalam keberagaman agama, suku, budaya dan latar belakang sosial.
Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana manusia dapat hidup berdampingan, tetapi bagaimana membangun kepercayaan sebelum perbedaan berubah menjadi konflik.
Dunia mungkin semakin terhubung secara teknologi. Namun, tanpa dialog dan kepercayaan, kedekatan itu belum tentu membuat manusia semakin dekat satu sama lain.
Satu klik dapat menyebarkan kebencian. Tetapi kepercayaan yang dibangun jauh sebelumnya dapat menjadi jembatan ketika krisis datang.
Pewarta: Alfen Hoesin
Penyunting: Alfen Hoesin
Pengunjung: 605
©2026 tingkap.co
Berita Terkait
- Trump Mengolok Nama Muhammad, Kemuliaan Rasulullah Tak Akan Pernah Ternoda
- Demonstrasi di Prancis Berujung Penjarahan Toko Gucci sampai Versace
- The Wharf Washington, D.C., Surga Wisata Tepi Sungai dengan Restoran, Marina, dan Hiburan
- Paham Sekuler dan Kemunafikan Dalam Menyikapi Keadilan dan HAM
- Pakai Baterai BYD, Suzuki Luncurkan Mobil Listrik Pertama E-Sky
- Dialog Imam Shamsi Ali dengan Demonstran Papua Merdeka di New York Berujung Tegang
- Ditawari Kerja di Malaysia, 49 WNI Malah Ditahan di Madagaskar: Haji Uma Surati Kemenlu
- Seruan untuk Menjaga Planet dan Taubat Global Untuk Lingkungan Hidup
- Trump Sebut Sebagian Media Jadi Ancaman Nasional, Samakan Berita Palsu Seperti Kanker
- Setelah 6 Bulan Ditahan di Thailand, 13 Nelayan Aceh Timur Akhirnya Pulang
