Semarak Proklamasi

Dialog Perjuangan Dan Kebangsaan Di Bukittinggi Dihadiri Sejumlah Tokoh

250811103846-wakil.jpg

Foto: Istimewa

Dialog perjuangan, dihadiri Prof. Dr. Meutia Farida Hatta, Komjen Pol (Purn) Boy Rafli Amar, Dt. Rangkayo Basa, Hasril Chaniago, serta Arief Malin Mudo.

BUKITTINGGI, TINGKAP.CO - Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, hadiri Dialog Perjuangan dan Kebangsaan yang digelar oleh Flipper's Organization di Museum Tridaya Eka Dharma, Sabtu, 9 Agustus 2025.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, sekaligus memperkuat semangat persatuan dan nilai-nilai perjuangan dalam konteks kebangsaan masa kini.

Acara ini digagas oleh Yuliot Tanjung, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, seperti Prof. Dr. Meutia Farida Hatta, Komjen Pol (Purn) Boy Rafli Amar, Dt. Rangkayo Basa, Hasril Chaniago, serta Arief Malin Mudo.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tajung dalam sambutannya menyampaikan, masyarakat Minangkabau memiliki karakter pejuang yang telah memberi kontribusi besar bagi bangsa.

"Karakter masyarakat Sumatera Barat adalah pejuang, berjuang sesuai kemampuan dan kondisi wilayah masing-masing serta berkontribusi dalam perjuangan bangsa," papar Yuliot.

Komjen Pol (Purn) Boy Rafli Amar, menyampaikan, kemerdekaan bukan hanya berarti terbebas dari penjajahan, tetapi juga perjuangan melawan kebodohan dan kemiskinan. "Kemerdekaan adalah dua sisi mata uang, yaitu tujuan dan daya juang bangsa ," ulasnya dalam diskusi.

Sementara putri sulung Proklamator Bung Hatta, Prof. Meutia, sebagai pembicara, mengajak generasi muda menumbuhkan kembali kecintaan terhadap tanah air melalui pengenalan sejarah perjuangan.

Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, menyampaikan pesan penting terkait sejarah dan semangat perjuangan di Kota Bukittinggi. Bukittinggi memiliki peran strategis dalam sejarah bangsa, khususnya saat menjadi ibukota negara pada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) tahun 1948-1949, ketika kota ini menjadi pusat pemerintahan.

Kemajuan bangsa akan terwujud apabila pemimpin mampu melahirkan integritas dan keteladanan yang dapat ditiru oleh masyarakat .
"Integritas dan keteladanan adalah kunci agar bangsa ini maju," tegasnya.

Pewarta: Syahyetti Syamra
Penyunting: Ghea R
Pengunjung: 562
©2025 tingkap.co

Komentar